Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Argumen Teologis dan Filosofis Pembuktian Eksistensi Tuhan

1 Pendapat 05.0 / 5

Pengetahuan dan pengenalan terhadap kausa prima  eksistensi senantiasa menjadi   substansi tema pembahasan bagi  teolog dan filosof di sepanjang sejarah. Pada sisi lain, konsepsi tentang kausa prima eksistensi serta hubungannya dengan manusia dan alam telah menjadi inti munculnya perbedaan agama dan maktab keyakinan. Oleh karena itu, bagi kaum muslimin peran pengetahuan tentang penegasan eksistensi Tuhan dan tauhid merupakan hal yang sangat prinsipal bagi mereka. Dengan kata lain, mereka berupaya mengkonstruksi dan menyempurnakan pengetahuannya tentang keberadan wujud Tuhan dan berusaha mendesain argumen yang berfungsi menguatkan kepercayaan dan keyakinan pada wujud-Nya serta menghilangkan keraguan dan skeptis terhadap-Nya.

Dalam tulisan ini kita berupaya memaparkan dua argumen pengafirmasian eksistensi Tuhan untuk berhadapan dengan kaum ateis dan orang-orang yang meragukan tentang eksistensi Tuhan.                                                                                           

Argumen Pertama:  Argumen Imkan dan Wujub

Untuk menguraikan argumen ini terlebih dahulu dibutuhkan empat poin yang harus ditetapkan sebagai mukadimah argumen:

1. Maujud terbagi atas dua
–                 Maujud wajib (wajibul wujud) yaitu maujud yang keberadaannya adalah daruri secara dzat

–                 Maujud mumkin (mumkinul wujud, wujud kontingen) yaitu maujud yang keberadaannya dinisbahkan kepada wujud (ada) dan adam (tidak ada) adalah sama. Seperti individu-individu manusia.

2. Setiap mumkinul wujud butuh kepada sebab pengada untuk mengada. Masalah ini adalah jelas secara badihi. Sebab sesuatu yang dinisbahkan dengan ada dan tidak ada adalah sama secara dzat maka untuk keluar dari keadaannya tersebut, ia mesti butuh kepada sebab. Misalnya jika ia ingin mengada, ia butuh sebab pengada yang mengadakannya. Dan jika ia mengada dengan sendirinya, ini menyalahi asumsi kita bahwa ia adalah mumkin secara dzat.

3. Daur adalah mustahil. Makna daur adalah misalnya A sebab bagi keberadaan B dan B juga adalah sebab bagi keberadaan A. Dalil kemustahilan ini adalah jika A sebab B maka A mesti lebih dahulu ada dari B, dan jika B juga sebab A maka B mesti lebih dahulu ada dari A. Yakni masing-masing keduanya juga lebih dahulu dan juga lebih akhir, dan ini adalah berkumpulnya dua hal yang kontradiksi.

4. Tasalsul adalah mustahil. Tasalsul adalah silsilah tanpa akhir dari sebab akibat mumkinul wujud dimana setiap dari mereka merupakan sebab bagi akibat berikutnya. Dalil kemustahilannya adalah, ketika seluruh bagian-bagian silsilah ini, yang pada kenyataannya mereka semua ini adalah akibat, maka yang manakah dari mereka merupakan sebab akhir yang mengadakan seluruh akibat-akibat ini? Sementara kita telah mengasumsikan bahwa seluruh bagian-bagian adalah akibat dan mereka tidak berakhir kepada satu sebab akhir. Karena jika berakhir pada satu sebab maka dengan sendirinya silsilah ini tidaklah tanpa akhir dan ini menyalahi asumsi kita tentang ketakberakhiran silsilah mumkinul wujud ini.

Penjelasan tentang Argumen Imkan dan Wujub:

Kita tidak ragu bahwa terdapat maujud-maujud mumkinul wujud di alam ini. Alamat keberadaan mereka itu adalah kita dengan jelas menyaksikan maujud-maujud yang tadinya tidak ada kemudian mewujud dan juga kita menyaksikan setelah mereka ada, mereka kemudian fana atau menemukan perubahan-perubahan.

Sekarang ada empat asumsi tentang keberadaan mereka:

Pertama, maujud-maujud ini sama sekali tidak mempunyai sebab. Asumsi ini adalah batil, sebab sebagaimana dalam mukadimah dua dijelaskan bahwa setiap mumkinul wujud atau wujud kontingen butuh kepada sebab untuk mengada.

Kedua, sebagian maujud-maujud ini dalam silsilah alam eksistensi merupakan sebab bagi sebagian lainnya dan sebaliknya. Ini juga batil, sebab ini memestikan bentuk daur yang batil.

Ketiga, masing-masing setiap bagian dari alam eksistensi ini merupakan akibat dari sebab sebelumnya hingga tanpa akhir, yakni dalam bentuk tasalsul. Ini juga adalah batil serta mustahil.

Keempat, di luar dari alam mumkin ini terdapat keberadaan wajibul wujud dimana Dialah yang merupakan kausa prima (sebab pertama) dan sebabnya seluruh sebab-sebab.

Kritikan dari Betrand Russel: Asumsi tentang keberadaan sebab seluruh sebab-sebab yang tidak bersebab menyalahi kaidah akal yang menyatakan, tidak ada sesuatu yang dapat mengada tanpa sebab.

Jawab: Kaidah akal ini berhubungan dengan maujud-maujud mumkinul wujud (wujud kontingen), tidak berhubungan dengan wujud qua wujud (wujud mutlak).

Argumen Kedua: Burhan Shiddiqin

Burhan shiddiqin adalah suatu argumen dalam membuktikan eksistensi Tuhan hanya berpijak pada kesaksian  realitas wujud hakiki. Yakni argumentasi dengan wujud hakiki Tuhan, tanpa berargumen dengan sesuatu yang bukan wujud hakiki Tuhan. Dalam argumen ini tak menggunakan wujud kontingen (baca: makhluk) sebagai perantara dalam menegaskan eksistensi Tuhan.

Burhan ini dinamakan “shiddiqin” karena hanya menggunakan “Shidq” (kebenaran) murni. Karenanya, tidak ada keraguan sama sekali dalam argumen ini. Serta dalam burhan shiddiqin “thariiq” (jalan) adalah tujuan itu sendiri.

Mulla Shadra berkata, ” … jalan kepada tujuan (baca: Tuhan) adalah tujuan itu sendiri. Dan jalan itu adalah jalan shiddiqin, dimana orang-orang mempersaksikan Hak atas Hak [Mulla Shadra, Al-Asfar, Jld. 6, hal. 14].

Terdapat beberapa bentuk rumusan argumen shiddiqin. Pada kesempatan ini, kami cukupkan dengan menjabarkan dua bentuk argumen, sebagai berikut:

1. Argumen Shiddiqin Mulla Shadra
Bisa dikatakan bahwa Ibnu Sina adalah filosof muslim pertama dalam dunia pemikiran Islam yang memperkenalkan burhan shiddiqin. Tetapi Mulla Shadra tidak menerima bahwa burhan yang diperkenalkan oleh Ibnu Sina tersebut secara substansial tergolong ke dalam burhan shiddiqin. Walaupun pada akhirnya Mulla Sadra, dengan pendekatan yang bersifat toleran, menganggapnya sebagai burhan shiddiqin.

Selanjutnya, Mulla Shadra memperkenalkan burhan shiddiqin yang dikonstruksinya sendiri.  Untuk memahami burhan shiddiqin versi Mulla Shadra, diperlukan beberapa pendahuluan berkaitan dengan prinsip-prinsip burhan tersebut. Setelah itu, kita akan menjabarkan bentuk dari argumennya.

Adapun pendahuluan-pendahuluan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Kehakikian Wujud (Ashâlah al-Wujud)
Yakni, setelah kita menerima bahwa terdapat realitas di alam luar, dan yang merupakan realitas hakiki dan kenyataan itu adalah eksistensi bukan kuiditas. Dalam hal ini, kuiditas hanyalah bersifat majazi dan hadir setelah eksistensi. Kuiditas hanya “berwujud” di alam pikiran saja. Dengan ungkapan lain, kuiditas adalah batasan wujud.

b. Gradasi Wujud
Teori kehakikian wujud itu sendiri terbagi dalam beberapa teori:

Pertama: Wujud-wujud itu secara esensial saling  bertentangan satu dengan lainnya secara diametral dan horizontal.  Pandangan ini dianut oleh filosof peripatetik.

Kedua: Wujud yang hakiki (ashalah) hanya pada Wâjib al-Wujud dan bermakna bahwa zat Tuhan adalah hakikat wujud itu sendiri. Tetapi yang hakiki pada wujud-wujud kontingen (mumkin) adalah kuiditas (mahiyyah). Pandangan ini diperkenalkan oleh filosof Ilahi Dawwani.

Ketiga: Semua realitas wujud, mulai dari wujud yang berintensitas lemah hingga yang berintensitas kuat, baik wujud sebab maupun wujud akibat, semuanya merupakan satu hakikat wujud yang bertingkat dan berjenjang (gradasi, tasykik). Perbedaan dalam tingkatan wujud dan persamaan dalam wujud, semuanya kembali pada satu hakikat wujud. Teori ini digagas oleh filosof Ilahi Mulla Shadra.

c. Simplisitas Wujud (Besâthat al-Wujud)
Wujud tidak mempunyai bagian-bagian dan wujud bukan bagian dari sesuatu. Sebab  tak ada sesuatu kecuali wujud itu sendiri.

d. Hakikat Wujud adalah Mustahil Tiada
Ketiadaan  wujud, tidak bermakna bahwa wujud itu menerima ketiadaan. Melainkan berarti bahwa keterbatasan wujud-wujud khusus (baca: wujud kontingen). Hadirnya “ketiadaan” pada wujud kontingen karena watak aslinya yang bersifat kekurangan, kelemahan, dan kebergantungan. Jadi, wujud akibat secara esensial  mempunyai kekurangan dan keterbatasan dibandingkan dengan sebabnya. Ketiadaan di sini bisa dimaknai kekurangan, kelemahan, ketaksempurnaan dan kebergantungan wujud akibat.

Dengan memahami pendahuluan-pendahuluan di atas, maka kita dapat merumuskan argumen shiddiqin berdasarkan mazhab filsafat Mulla Shadra sebagai berikut ini:

Segala sesuatu yang maujud di alam luar maka ia Wâjib al-Wujud atau mumkin al-wujud (wujud kontingen). Jika wujud itu adalah wujud sempurna dan tingkatan wujudnya paling tinggi, tidak ada baginya kekurangan dan tidak bergantung pada wujud lain, maka wujud tersebut adalah Wâjib al-Wujud. Dan sebaliknya, jika suatu wujud memiliki kekurangan dan tak sempurna, maka realitas wujud ini niscaya bergantung pada wujud hakiki (baca: wujud sempurna). Oleh sebab itu, wujud yang paling tinggi tingkatannya, niscaya memiliki kesempurnaan tak terbatas, tak butuh dan mandiri secara mutlak. Sedangkan tingkatan-tingkatan wujud lain adalah hubungan dan kebergantungan itu sendiri. Dan jika tingkatan paling tinggi tak berwujud, maka niscaya tingkatan-tingkatan wujud lain  juga tak akan berwujud  [Mulla Shadra, Al-Asfar, Jld. 6, Hal. 14-16]

2. Burhan Shiddiqin Allamah Thabathabai
Rumusan burhan shiddiqin Allamah Thabathabai bisa ditemukan di dalam catatan kaki kitab Asfar dan kitab beliau Ushul-e Falsafe-ye wa rawesy-e realism.

Berikut ini  kami akan menjabarkan argumen shiddiqin yang dikutip dari catatan kaki beliau pada kitab Asfar:

Realitas wujud eksternal adalah sesuatu yang mustahil ditolak. Dan setiap wujud, realitasnya ditetapkan dengan pengetahuan. Dan realitas wujud secara esensial menolak ketiadaan, walaupun sebatas asumsi. Jika kita asumsikan bahwa dalam sedetik atau secara mutlak semua realitas-realitas wujud tersebut meniada, maka setiap realitas-realitas tersebut -yang kita asumsikan tiada- sebenarnya tetap memiliki eksistensi. Jadi, asumsi ketiadaan realitas wujud, bukan berarti secara hakiki realitas wujud tersebut meniada. Bahkan asumsi ketiadaan realitas wujud adalah realitas wujud itu sendiri. Demikian pula, jika sofisme menyangka obyek-obyek luar adalah ilusi, atau mereka ragu dalam realitas wujud mereka, maka secara hakiki obyek-obyek yang mereka ragukan eksistensinya, merupaka realitas wujud itu sendiri.

Jadi, jika realitas wujud tersebut secara esensial menolak ketiadaan dan kebatilan, maka ia secara hakiki adalah Wâjib al-Wujud. Suatu realitas dimana ia adalah Wâjib al-Wujud secara hakiki sudah ditetapkan, dan obyek-obyek lain yang mempunyai realitas dalam tataran wujud mereka secara esensi butuh, bergantung, dan bepijak pada Wâjib al- Wujud [Catatan kaki Allamah Thabathabai pada kitab Al-Asfar Jld. 6, Hal. 14-16].

Beliau, dalam penjelasannya, menyimpulkan dan berkata, “Dari sini, jelaslah bagi orang yang berpikir bahwa prinsip wujud wajib (baca: Wâjib al-Wujud) secara hakiki adalah niscaya bagi manusia, dan burhan-burhan yang menegaskan hakikat wujudnya hanyalah bersifat mengingatkan.”