Mencela dalam Quran

Dalam beberapa kasus secara refleks para orang tua kadang membentak anak. Berbicara kepada anak dengan nada keras dan cenderung mengkerdilkan mereka, berbicara dengan cara meledak-ledak berulang-ulang mengejek secara tidak langsung, mencela anak sendiri tapi tidak disadari. Membentak anak kecil sebenarnya tidak ada gunanya sama sekali yang ada adalah sebaliknya, anak akan semakin semangat melakukan tindakan kelirunya, hanya menunggu momen waktu dan tempat yang tepat untuk kemudian meledakkan diri dengan semua larangan yang selama ini membatasinya. Membentak anak adalah jalan kelam yang akan menghantarkan anak ke jalan yang berkebalikan arah dengan arahan orang tua. Jurang pemisah kebersamaan antara orang tua dan anak.

Membentak sebagai bentuk mencela orang lain nilai buruknya ternyata tergambar dalam beberapa ayat Quran. Dimana masing-masing bentuk mencela bahkan mencela diri sendiri adalah hal buruk dan seyogyanya ditinggalkan.

Ada beberapa macam celaan yang disinggung dalam Quran

1. Mencela Diri Sendiri

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.[1]

Ayat ini tidak secara mandiri berbicara buruknya mencela kepada diri sendiri. Ayat ini lebih luas cakupannya.

Dapat dipahami bahwa orang yang mencela tidak dibatasi oleh kelompok perempuan saja, golongan ibu-ibu saja, golongan ibu-ibu pengangguran, golongan ibu-ibu yang tidak punya uang saja, tapi cakupannya lebih luas, bisa dilakukan siapa saja kecuali orang yang bertakwa. Mencela bisa dilakukan sendirian atau dengan berjamaah.

Merendahkan orang lain sebenarnya sedang merendahkan diri kita sendiri, merendahkan kelompok kita sendiri, setidaknya orang atau kelompok yang kita rendahkan juga akan merendahkan kita atau jika tidak membalas maka jelas mereka lebih tinggi kedudukannya dibanding kita.

Beberapa dari kita adalah orang yang sudah bertaubat, jika sebelumnya memang dia sangat kental dengan keburukan tertentu, misalnya sangat suka meminum minuman keras dan dikenal dengan si peminum minuman keras, jelas setelah dia taubat kita tidak boleh memanggilnya dengan si peminum minuman keras. Bukankah dia sudah memiliki nama maka cukup kita panggil dia dengan nama yang ia miliki.

2. Mencela Allah Swt

Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.[2]

Sebenarnya tidak ada yang mampu mencela Allah SWT, Allah Maha Sempurna dari segala cela dan Maha Mulia. Maha Sempurna dari yang paling sempurna, semua kesempurnaan adalah dariNya.

Mencela Allah SWT bisa jadi dengan berkata sesuatu atas nama Allah SWT padahal itu bukan perkataan Allah, berkata dusta dengan berkata demi Allah, padahal semua yang diucapkan adalah kedustaan. Jadi kurang lebih bentuk penghormatan tertinggi sehingga tidak boleh berkata dusta atas nama Allah. Bahkan ketika tindakan ini dilakukan pada saat berpuasa maka puasanya pun batal. Jadi sebenarnya apapun yang dilakukan seorang muslim yang buruk sekalipun atau bahkan seluruh manusia tidak menyembahNya hal itu tidak berpengaruh disisi Allah, Allah tidak butuh pada sembahan-sembahan makhlukNya, sebaliknya makhluknyalah yang butuh untuk menyembahNya.

Diayat ini Allah memberi penghargaan besar kepada mereka yang bertaubat. Bertaubat adalah pilihan dan dilandasi ikhtiar dan karena itulah berharga.

3. Berdakwah dengan Mencela

Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” [3]

Pada waktu dan tempat tertentu mencela bisa jadi media untuk berdakwah, tapi ini tidak berlaku di semua waktu dan semua tempat. Sekarang adalah jaman toleransi, menghormati pilihan orang lain. Ketika ada orang islam pergi ke Vihara dan mencela berhala mereka maka akan terjadi perang, akan muncul Rohigna-Rohigna baru.

Sekarang adalah waktunya berdakwah cerdas, dengan akhlak mulia sebagaimana metode dakwah yang digunakan Nabi SAW.

Menghadapi Celaan dengan Kesabaran

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. [4]

Menjadi sosok yang tahan banting menghadapi celaan adalah sebuah kualifikasi. Disini disebut sebagai salah satu ciri dari seorang mukmin.

Jadi mari bersikap sebagai seorang mukmin. Tidak perlu bersikap sama dengan orang-orang yang telah mencela kita, kita tidak membalas celaan orang yang mencela mereka. Kita doakan agar mereka menjadi orang-orang yang kembali.

CATATAN :

[1] Alhujurat [49]: 11.

[2] Al Taubah [9]: 74.

[3] Al Anbiya [21]: 60.

[4] Almaidah [5]:54