Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Telaah Ayat Alastu Birobbikum Qalu Bala

1 Pendapat 05.0 / 5

Terciptanya manusia itu atas Keinginan Tuhan atau Keinginan Manusia

Hak mutlak terciptanya makhluk khususnya manusia?

Menyetujui untuk dilahirkan di dunia atau tidak menyetujui?

Mengapa seorang hamba tidak mengetahui (tidak ingat)?

Mengapa ada yang kecewa terhadap kehidupan bahkan ada yang sampai mengakhiri hidup padahal sudah terikat dengan perjanjian.

Apakah Tuhan tidak adil sehingga manusia menggerutu (kecewa)?

Hak mutlak terciptanya makhluk khususnya manusia?

Manusia diciptakan itu merupakan kewajiban atau haknya Dia. Disini hak utama sebenarnya pada Sang Maha pencipta. Jadi terserah Dia mau menciptakan atau tidak. Dia menciptakan atau tidak menciptakan tidak memberikan keuntungan (Dia Maha Kaya) atau kerugian kepadanya (Dia Maha Kuasa, Maha Kuat).

Sebuah produk mainan, ketika rodanya pecah, kakinya patah, kepalanya benjot tak disengaja, maka akan di afkir, harusnya sampai pada proses pengemasan tapi dia dipisahkan untuk di buang atau dilumat kembali untuk di daur ulang. Karena dia tidak sempurna. Proses sempurna dalam kasus ini adalah ketika dari bahan plastik, dilumat, dicetak dan kemudian menjadi produk yang diinginkan dikemas lalu di jual dan digunakan oleh konsumen.

Ruh mengalami proses sempurna ketika tuntas melewati perjalanan dari beberapa alam. Pertama ruh manusia berada di alam ruh, di alam ruh sebuah kesempurnaan adalah ketika bisa berpindah ke alam rahim, di alam rahim sebuah kesempurnaan adalah ketika dia lahir ke dunia.

Manusia sendiri memiliki fitrah untuk tuntas sampai akhir, memiliki Growth mindset bukan fixed mindset. Ruh berjuang sekuat tenaga untuk sampai pada kesempurnaan. Disini Allah juga menunjukkan bahwa Dia adalah Zat Maha Kasih. Dia memberikan ikhtiar kepada ruh untuk memilih, akan ke alam rahim atau tidak. Padahal dari sisi kuasa, semua berada dibawah KuasaNya. Adalah kuasa dan hak Dia untuk mengirim ruh ke alam rahim atau tidak.

Di alam rahim sendiri ruh belum lepas dari tantangan, walau dia ingin lahir ke dunia bisa jadi itu akan gagal, bisa jadi pemilik rahim tidak menerima keberadaannya, lalu menggugurkan calon bayi, atau terlalu cuek sehingga tetap beraktifitas tanpa memperhatikan apakah kegiatan itu berbahaya bagi bayinya atau tidak, akhirnya bayi pun gugur, atau orang tua tidak memiliki ilmu yang cukup akhirnya melakukan perbuatan yang bisa menggugurkan bayinya, atau orang tua tidak sengaja tertabrak mobil akhirnya orang tua dan atau janinnya saja meninggal. Dalam pembahasan kalam disebutkan anak-anak semacam ini akan dikirim ke alam seperti alam dunia dan diberi aturan sehingga bisa berikhtiar untuk berbuat sesuai perintah Allah atau mengingkariNya, jadi jelas masuk kelompok yang diridoiNya atau dimurkai.

Menyetujui untuk dilahirkan di dunia atau tidak menyetujui?

Ruh (Manusia) Ingin lahir ke alam barzah atau tidak sesuai ikhtiar mereka atau tidak? Kalau tanpa ikhtiar itu sesuai dengan sifat Allah atau tidak?

Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa sebenarnya ruh sebagai makhluk Allah maka itu “terserah” apa keputusan Allah swt, tapi jika demikian maka akan ada peluang bagi manusia untuk melakukan protes, “Saya di dunia tidak atas keinginan saya sendiri, maka mengapa saya harus mematuhi aturan Tuhan?” Hal ini jelas tertepis sebab Allah Maha sempurna, tidak mungkin ada celah kesalahan yang dibuat oleh Zat Maha Benar. Jadi bisa dipastikan tidak ada unsur pemaksaan Tuhan dalam terlahirnya manusia ke alam dunia.

Mengapa harus dipaksa, sedang ruh sendiri adalah makhluk yang memiliki kecenderungan untuk berprestasi, memiliki growth mindset bukan fixed mindset. Sifat yang dibawa secara fitrah hingga dia lahir ke dunia, sifat yang dimiliki bahkan sejak dia lahir tanpa belajar kepada siapa pun.

Mengapa seorang hamba tidak mengetahui (tidak ingat)?

Allah swt dalam penciptaan semua makhlukNya tidak pernah lepas dari kebijaksanaan dan keadilan. Hal ini juga terjadi pada proses perpindahan ruh ke alam-alam selanjutnya, tentu manusia tidak mungkin bisa memiliki kondisi normal ketika dia mengingat sejak dia berada di dalam rahim selama 9 bulan berada disana, mengingat semua kejadian yang terjadi pada orang tua, ketika dia masih di dalam rahim di umur muda orang tua ada yang masih tetap melakukan hubungan suami istri.

Kedua ketika dia dalam proses lahir, tentu proses ini akan memberikan trauma tersendiri seumur hidup ketika dia mengingat proses menegangkan itu, mungkin seperti mengalami kecelakaan berdarah-darah. Hal ini jelas tidak pas jika dibiarkan terekam dalam benak anak kecil. Sebagai bentuk kasih sayang Allah, anak kecil dari kecil tidak langsung memiliki penciuman yang bagus, dia tidak terganggu pada kotoran yang menempel pada pantatnya, sebab penciumannya belum sempurna, pencernaannya pun masih terus menyempurna pada masa pertumbuhannya hingga umur tujuh tahun.

Mengapa tidak ingat kejadian di alam ruh, itu adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada manusia, sehingga manusia bisa menjalani hidup secara normal.

Mengapa ada yang kecewa terhadap kehidupan bahkan ada yang sampai mengakhiri hidup padahal sudah terikat dengan perjanjian.

Ada dua hal yang perlu kita pisahkan disini, manusia kecewa karena sudah diciptakan atau kecewa karena memiliki kondisi yang dia nilai tidak normal seperti yang lain. Sejauh yang penulis tahu, manusia yang kecewa adalah manusia yang memiliki kondisi kehidupan sesuai ekspektasi yang dia inginkan, hal ini bisa terjadi ketika dia sudah bisa berpikir dan memiliki informasi dari dunia berbeda, yaitu kehidupan orang lain yang berbeda darinya, yang ia nilai lebih layak dan lebih manusiawi dibanding kehidupan yang harus ia jalani sehari-hari. Penyesalan ini jelas tidak ada kaitan dengan perjanjian yang sudah dilakukan di alam ruh. Perjanjian di alam ruh itu tak ubahnya sebuah keyakinan bahwa kita itu bergantung secara terus menerus kepada Allah. Apakah ketika manusia ingkar kepada Allah berarti sedang tidak bergantung kepadaNya tentu tidak, manusia selama hidup di dunia diberi kesempatan untuk memilih, diberi kesempatan untuk kecewa atau bersyukur, tapi itu semua bukan begitu saja tapi setelah disertai alat berupa kemampuan berpikir, hati, aqal, nafsu dll. Jika manusia kecewa terhadap Tuhan pasti kesalahan bukan dari Yang Maha Benar, tapi terjadi human eror, atau manusianya mendapatkan informasi yang tidak tepat waktu dan tempatnya, mengolah informasi itu dengan tidak benar dan akhirnya berujung pada rasa kecewa.

Banyak orang yang bergembira menjalani hari-harinya, yang “menyesali”mengapa lahir di dunia hanya segelintir saja. Jika

Apakah Tuhan tidak adil sehingga manusia menggerutu (kecewa)?

Tuhan adalah maha Adil, jika tidak adil maka dia bukan Tuhan. Mengapa manusia menggerutu tentu kembali kepada manusia itu sendiri, apakah dia sudah mendapat guru yang tepat, informasi yang tepat, tempat yang tepat dan seterusnya.

 

Wallahu A’lam