Syiah tidak mencaci-maki sahabat Nabi.

Lho, kok bisa? Bukankah setiap tahun orang-orang Syiah memperingati Asyura dan Arbain? Bukankah mereka memposisikan para sahabat sebagai pelaku kezaliman yang menyebabkan kematian Al-Husein?

Ya, orang Syiah memang memperingati peristiwa duka ini. Tapi, silakan Anda datangi acara peringatan Asyura (tentu tidak dalam rangka menyerbu dan membubarkannya). Duduklah baik-baik, dengarkan, dan simak. Niscaya tak akan Anda temukan caci-maki terhadap sahabat besar Nabi itu.

Adapun terkait dengan potongan doa ziarah itu yang isinya “seakan-akan” melaknat para sahabat besar, di sini ada distorsi. Dulupun kasus ini pernah mencuat di masa ketika Bani Buwaihi dan Bani Saljuk bergantian menguasai secara de facto Khilafah Abbasiyyah (sekitar tahun 420 H). Saat itu, ulama ternama Syiah adalah Syeikh Thusi. Beliau pernah digelandang ke istana khalifah dengan tuduhan melaknat sahabat besar Nabi. Bukti yang diajukan penuduh adalah potongan Doa Ziarah itu .

Syeikh Thusi pun membela diri. Simaklah jawaban Syeikh Thusi berikut ini.

“Maksud dari yang pertama, kedua, ketiga, dan keempat di dalam doa tersebut bukanlah seperti tuduhan itu. Orang zalim yang pertama dilaknat itu adalah Qabil si pembunuh Habil. Dia dilaknat karena menjadi orang pertama yang mentradisikan pembunuhan serta kezaliman atas sesama manusia. Yang kedua adalah pembunuh unta Nabi Shaleh as yang bernama Qaidar bin Salif. Yang ketiga adalah pembunuh Nabi Yahya bin Zakaria as. Dia adalah salah seorang raja Romawi bernama Bilathis. Dia tergila-gila dengan seorang pelacur, dan si pelacur meminta kepala Nabi Yahya sebagai bayarannya. Adapun yang keempat adalah pembunuh Imam Ali bin Abi Thalib as yang bernama Abdurrahman bin Muljam, yang juga tergila-gila dengan seorang wanita pembenci keluarga Nabi bernama Qutham.”

Syeikh Thusi juga mengatakan bahwa segala macam tuduhan itu datangnya dari kaum mughridin (orang-orang yang tendensius). Artinya, kepada khalifah yang berkuasa, Syeikh Thusi mengingatkan seringnya isu dan tuduhan dijadikan sebagai alat politik dari kalangan tertentu yang punya tujuan buruk. Dan kalau sudah terkait dengan masalah tendensi politik, segala hal bisa saja dilakukan, yang ujung-ujungnya akan menciptakan badai fitnah yang sangat dahsyat.

Dalam konteks prahara Suriah, fitnah berjubah perbedaan madzhab itu datang dari London. Yasser Habib, seorang aktivis Syiah ekstrem yang berasal dari Kuwait tiba-tiba saja mendapatkan suaka politik dari pemerintah Inggris. Tak hanya suaka politik, ia juga mendapatkan dukungan dana berlimpah sehingga mampu mendirikan dan mengoperasikan yayasan, hauzah, koran, bahkan televisi, dalam waktu yang sangat singkat.  Mengenakan serban khas ulama Syiah (meskipun ia sama sekali tidak punya rekam jejak keulamaan sedikitpun), ia tampil di Fadak TV, dan melaknat-laknat para sahabat besar serta para istri Nabi. Siaran televisinya disebar ke mana-mana, dan dijadikan alasan oleh kaum mughridhin ketika menghujat Syiah.

Dalam sebuah pernyataan terbuka, Yasser Habib memberikan penawaran menarik kepada orang Syiah di manapun yang bersedia melaknat sahabat Nabi secara di depan televisi. Kepada pelaknat sahabat, ada bayaran sebesar 750 Poundsterling per pekan (sekitar Rp 50 juta per bulan), serta mendapatkan fasilitas tempat tinggal di kawasan elit Hyde Park, di pinggiran kota London.

Aktivitas yang memicu perpecahan, dan itu dilancarkan dari kota London. Sangat kentara sekali bau busuk konspirasi yang menguar. Selama berabad-abad lamanya, Inggris menjadi negara dengan wilayah jajahan terluas di dunia. Para pemerhati sejarah tentu tidak asing dengan siasat andalan Inggris: divide and rule!

Menanggapi fenomena Yasser Habib ini, para ulama Syiah serentak memberikan reaksinya. Ayatullah Al-Uzhma Makarim Shirazi berkata, “Apakah kalian mendengar ada seseorang yang tidak tahu apa-apa namun menyebut diri sebagai ulama Syiah yang sekarang menetap di London, dan telah mengucapkan perkataan-perkataan yang tidak sepantasnya disematkan kepada istri Nabi? Orang itu tidak tahu apa-apa, atau memang sedang tidak waras. Namun lebih bodoh dari itu adalah ulama-ulama Wahabi yang bersandar kepada ucapan-ucapan Yasser Habib.”

Ayatullah Al-Uzhma Ali Khamenei mengeluarkan fatwa: “Diharamkan menghina/mencerca simbol-simbol yang diagungkan saudara-saudara kita kaum Sunni, termasuk istri Nabi. Pengharaman atas perilaku penghinaan itu berlaku untuk seluruh istri para Nabi, terutama istri Nabi Muhammad SAW.”

Jadi, itulah sebabnya, kenapa sebagian besar ulama besar di Indonesia dan Dunia masih tetap gigih membela Syiah.

Dan seperti kata Syeikh Thusi, yang masih terus menggembar-gemborkan fitnah perpecahan, termasuk yang gigih menuduh Syiah sebagai pencaci sahabat, hanyalah orang-orang tendensius. Anda tidak termasuk di dalamnya, bukan?