Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Al Qur'an Al Karim

Dialog Rasulullah saw dengan Alim Yahudi tentang Syariat dan Keutamaan Ahlulbait (1)

Dialog Rasulullah saw dengan Alim Yahudi tentang Syariat dan Keutamaan Ahlulbait (1)

Salah seorang dari mereka yang paling berilmu kemudian berkata, “Aku akan bertanya kepadamu tentang sepuluh perkara yang hanya diketahui oleh seorang nabi atau malaikat.”  

Baca Yang lain

Ragam Jihad dalam Al-Qur’an

Ragam Jihad dalam Al-Qur’an Al-Qur’an menggambarkan jihad dalam berbagai bentuk sesuai konteks sejarah dan sosial. Di antaranya adalah jihad melawan kaum musyrik dan kafir yang memerangi dan menindas kaum Muslim; jihad melawan Ahlulkitab yang melakukan permusuhan terbuka; serta jihad melawan kaum munafik yang merusak umat dari dalam.  

Baca Yang lain

Al-Qur’an membuka Surah al-Baqarah dengan ciri utama orang-orang bertakwa:

Al-Qur’an membuka Surah al-Baqarah dengan ciri utama orang-orang bertakwa: “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib…” (QS. al-Baqarah: 2–3)

Baca Yang lain

Standar Kebenaran: Al-Qur’an dan Hadis, Bukan Ilusi Spiritual

Standar Kebenaran: Al-Qur’an dan Hadis, Bukan Ilusi Spiritual Ketika ciri-ciri Imam Mahdi as dikaji secara serius berdasarkan hadis-hadis Rasulullah saw yang sahih dan mutawatir, maka akan terbentuk pemahaman yang jernih tentang sosok agung ini. Pemahaman semacam ini berfungsi sebagai benteng akidah agar umat tidak mudah tertipu oleh individu-individu yang mempromosikan diri sebagai al-Mahdi dengan modal mimpi, intuisi, pengalaman spiritual, atau klaim kemampuan supranatural.  

Baca Yang lain

Kelahiran seperti Imam Husein yang Terus Berlanjut

Kelahiran seperti Imam Husein yang Terus Berlanjut Dalam pembacaan revolusioner Sayid Ali Khamenei, kelahiran Imam Husein a.s. tidak berhenti di tanggal 3 Sya‘ban. Ia terus “lahir” setiap kali ada individu atau komunitas yang memilih jalan kebenaran dengan kesadaran dan pengorbanan. Ia lahir di medan perlawanan, di ruang-ruang kesadaran, dan di hati orang-orang yang menolak tunduk kepada tirani.  

Baca Yang lain

Kelahiran Imam Husein dan Jalan Izzah dalam Pemikiran Imam Khamenei

Kelahiran Imam Husein dan Jalan Izzah dalam Pemikiran Imam Khamenei Kelahiran Imam Husein a.s. bukanlah sekadar peristiwa biologis dalam sejarah keluarga Rasulullah Saw. Ia adalah momen kosmik yang menandai kelahiran sebuah proyek Ilahi—sebuah garis panjang perjuangan yang kelak mencapai puncaknya di Karbala. Dalam banyak penjelasannya, Sayid Ali Khamenei menegaskan bahwa Imam Husein a.s. sejak hari pertama kehadirannya di dunia telah ditempatkan oleh Allah dalam poros sejarah umat manusia, bukan hanya umat Islam.  

Baca Yang lain

28 Rajab: Hari Ketika Imam Husain Meninggalkan Madinah (3)

28 Rajab: Hari Ketika Imam Husain Meninggalkan Madinah (3) Para sejarawan mencatat bahwa Imam Husain berulang kali menegaskan alasan perjalanannya. Ia tidak keluar untuk ambisi pribadi, tidak pula untuk mencari kerusakan. Ia keluar karena merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki umat kakeknya. Pernyataan ini diriwayatkan dalam berbagai redaksi, namun maknanya sama: keheningan di hadapan penyimpangan adalah bentuk keterlibatan. (Maqtal al-Husain, Abu Mikhnaf; Tarikh al-Tabari, jil. 4)  

Baca Yang lain

Ketika Al Qur’an Terlontar Dari Mulut Pendurjana

Ketika Al Qur’an Terlontar Dari Mulut Pendurjana Dalam berbagai kesempatan, tidak jarang kita menyaksikan bagaimana, manusia-manusia bejat yang seluruh wujudnya terlumuri oleh kekotoran kekafiran, kefasikan dan kemunafikan melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an demi membela kebejatan dan kesesatannya. Al Qur’an mereka jadikan alat untuk mendukung penentangannya kepada Al Qur’an (sendiri). Tentu setelah “memperkosa” ayat-ayat suci Al Qur’an dengan pemaknaan menyimpang.

Baca Yang lain

Tingkatan Jiwa Menurut Al-Qur’an (5)

Tingkatan Jiwa Menurut Al-Qur’an (5) Tahap terakhir dari perjalanan kesempurnaan jiwa menurut Al-Qur’an adalah sampai pada suatu kondisi di mana jiwa hanya merasa tenang dengan mengingat Allah. Selain Allah, apa pun itu tidak akan mampu meredakan dahaga cinta dan kasih sayangnya, dan tidak akan mengeluarkannya dari kegelisahan dan keresahan.   

Baca Yang lain

Tingkatan Jiwa Menurut Al-Qur’an (4)

Tingkatan Jiwa Menurut Al-Qur’an (4) Apabila manusia bersungguh-sungguh dalam mendidik dan menyucikan jiwanya, serta melalui perjuangan spiritual ia berhasil membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela dan menggantinya dengan sifat-sifat terpuji, serta menempatkan akal sebagai penguasanya, maka meskipun jiwa belum mencapai kesempurnaan akhirnya dan belum layak untuk merasakan kehadiran Allah Sang Kekasih, namun jiwa sudah layak untuk menerima ilham.   

Baca Yang lain

Tingkatan Jiwa Menurut Al-Qur’an (3)

Tingkatan Jiwa Menurut Al-Qur’an (3) Jika manusia sejak awal tidak lalai terhadap permusuhan jiwa dan mengetahui pengkhianatan serta tipu dayanya, serta menyadari bahwa jiwa ibarat kuda liar yang bisa ditundukkan sedikit demi sedikit, maka ia akan berusaha menempuh jalan penyucian dan perbaikan jiwa. Ia melatih jiwa dengan ibadah, ketaatan, dan mujahadah (perjuangan spiritual), serta menanamkan kesadaran tentang keburukan dosa dan keindahan kebaikan.   

Baca Yang lain

Tingkatan Jiwa Menurut Al-Qur’an (2)

Tingkatan Jiwa Menurut Al-Qur’an (2) Apabila sejak awal jiwa telah menghiasi keburukan sehingga tampak indah, lalu mengundang manusia untuk melakukannya, dan manusia lalai dari permusuhan jiwa serta menuruti keinginannya, maka jiwa akan menjadi semakin berani. Ia akan kembali menawarkan bujukan kedua, ketiga, dan seterusnya, hingga ketika ia melihat situasi sudah kondusif untuk mendominasi, maka ia tidak lagi sekadar mengajak, tetapi mulai memerintah manusia untuk berbuat buruk. 

Baca Yang lain

Tingkatan Jiwa Menurut Al-Qur’an (1)

Tingkatan Jiwa Menurut Al-Qur’an (1) Perjalanan dalam batin dan jiwa adalah perjalanan yang sangat berharga dan indah, tetapi sebagaimana agungnya perjalanan itu, demikian pula kesulitannya. Seorang salik yang benar-benar jatuh cinta hanya dengan tarikan dan daya pikat Ilahi sajalah yang dapat mendaki ke puncak maqam yang tinggi ini.   

Baca Yang lain

Makna Istighfar Sejati Menurut Imam Ali as : Enam Tahapan Tobat yang Menyucikan Jiwa (1)

Makna Istighfar Sejati Menurut Imam Ali as : Enam Tahapan Tobat yang Menyucikan Jiwa (1) Istighfar sering kita dengar, sering pula kita ucapkan. Setiap kali berbuat salah, kita spontan berkata “Astaghfirullah.” Namun, menurut pandangan Imam Ali bin Abi Thalib as dalam Nahjul Balaghah, istighfar sejati bukanlah sekadar ucapan di bibir. Ia adalah perjalanan batin yang panjang, proses spiritual yang menyucikan jiwa dari kegelapan dosa dan mengembalikan manusia pada cahaya fitrahnya. 

Baca Yang lain

Pidato Jumat Pertama Rasulullah saw: Seruan Abadi tentang Taqwa dan Kebenaran (2)

Pidato Jumat Pertama Rasulullah saw: Seruan Abadi tentang Taqwa dan Kebenaran (2) Rasulullah saw mengingatkan, “Beramallah untuk masa sesudah hari ini.” Umat Islam diminta hidup dengan pandangan jauh ke depan, tidak hanya untuk dunia fana, tetapi untuk kehidupan kekal. Inilah pandangan dunia Qur’ani—bahwa setiap amal harus berorientasi pada keabadian.  

Baca Yang lain

Para Sahabat Nabi saw dan Keutamaan Imam Ali as(3)

Para Sahabat Nabi saw dan Keutamaan Imam Ali as(3) Semoga Allah menjadikan kita sebagai umat yang mampu merajut persaudaraan, memuliakan para sahabat dengan adil, dan menempatkan Ahlulbait Nabi saw pada kedudukan yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan.  

Baca Yang lain

Pesan Al-Quran: Berbicaralah dengan Baik!

Pesan Al-Quran: Berbicaralah dengan Baik! Tutur kata kita adalah cerminan kepribadian batin kita. Masyarakat yang menjunjung tinggi akhlak, rasa hormat, dan kebaikan dalam tutur katanya akan menjadi lingkungan yang aman, damai, dan manusiawi.  

Baca Yang lain

Tingkat-Tingkat Makrifat Manusia dalam Al-Qur’an (2)

Tingkat-Tingkat Makrifat Manusia dalam Al-Qur’an (2) Naik setingkat, kita temukan shalihin, Shalihin adalah orang-orang saleh yang hidupnya selaras dengan ajaran Allah. Al-Qur’an menyebut para nabi termasuk dalam golongan ini, tetapi juga membuka peluang bagi siapa pun untuk mencapainya. Kesalehan bukan sekadar ibadah ritual, melainkan juga akhlak dan kontribusi sosial.

Baca Yang lain

Tingkat-Tingkat Makrifat Manusia dalam Al-Qur’an (1)

Tingkat-Tingkat Makrifat Manusia dalam Al-Qur’an (1) Makrifat bukanlah sekadar pengetahuan teoretis. Semakin tinggi tingkat pengenalan seseorang kepada Allah, semakin besar pula dampaknya pada cara ia hidup. Orang beriman yang bertakwa akan menjaga lisannya, amalnya, dan hubungannya dengan sesama. Shalihin akan menebar manfaat dan kebaikan. Shiddiqin akan menjadi teladan kejujuran dan keberanian.

Baca Yang lain

Kehidupan Lebih Baik dengan Prinsip Moral Al-Quran

Kehidupan Lebih Baik dengan Prinsip Moral Al-Quran Kitab suci Al-Quran memerintahkan keadilan, kebaikan, dan kemuliaan, serta melarang perbuatan maksiat, kemunkaran, dan pemusuhan, menguraikan peta jalan yang jelas untuk membangun masyarakat yang ilahi dan transenden.  

Baca Yang lain