Al Qur'an Al Karim
-
Bacaan & Tajwid
Artikel: 5 -
Ulumul Quran
Artikel: 19 -
Tafsir
Artikel: 114 -
Kajian
Artikel: 95
Dialog Rasulullah saw dengan Alim Yahudi tentang Syariat dan Keutamaan Ahlulbait (1)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Salah seorang dari mereka yang paling berilmu kemudian berkata, “Aku akan bertanya kepadamu tentang sepuluh perkara yang hanya diketahui oleh seorang nabi atau malaikat.”
Ragam Jihad dalam Al-Qur’an
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Taqi Misbah Yazdi
Al-Qur’an menggambarkan jihad dalam berbagai bentuk sesuai konteks sejarah dan sosial. Di antaranya adalah jihad melawan kaum musyrik dan kafir yang memerangi dan menindas kaum Muslim; jihad melawan Ahlulkitab yang melakukan permusuhan terbuka; serta jihad melawan kaum munafik yang merusak umat dari dalam.
Al-Qur’an membuka Surah al-Baqarah dengan ciri utama orang-orang bertakwa:
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Husain Mazahiri
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib…”
(QS. al-Baqarah: 2–3)
Standar Kebenaran: Al-Qur’an dan Hadis, Bukan Ilusi Spiritual
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Husain Mazahiri
Ketika ciri-ciri Imam Mahdi as dikaji secara serius berdasarkan hadis-hadis Rasulullah saw yang sahih dan mutawatir, maka akan terbentuk pemahaman yang jernih tentang sosok agung ini. Pemahaman semacam ini berfungsi sebagai benteng akidah agar umat tidak mudah tertipu oleh individu-individu yang mempromosikan diri sebagai al-Mahdi dengan modal mimpi, intuisi, pengalaman spiritual, atau klaim kemampuan supranatural.
Kelahiran seperti Imam Husein yang Terus Berlanjut
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Sayyid Ali Khamenei
Dalam pembacaan revolusioner Sayid Ali Khamenei, kelahiran Imam Husein a.s. tidak berhenti di tanggal 3 Sya‘ban. Ia terus “lahir” setiap kali ada individu atau komunitas yang memilih jalan kebenaran dengan kesadaran dan pengorbanan. Ia lahir di medan perlawanan, di ruang-ruang kesadaran, dan di hati orang-orang yang menolak tunduk kepada tirani.
Kelahiran Imam Husein dan Jalan Izzah dalam Pemikiran Imam Khamenei
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Sayyid Ali Khamenei
Kelahiran Imam Husein a.s. bukanlah sekadar peristiwa biologis dalam sejarah keluarga Rasulullah Saw. Ia adalah momen kosmik yang menandai kelahiran sebuah proyek Ilahi—sebuah garis panjang perjuangan yang kelak mencapai puncaknya di Karbala. Dalam banyak penjelasannya, Sayid Ali Khamenei menegaskan bahwa Imam Husein a.s. sejak hari pertama kehadirannya di dunia telah ditempatkan oleh Allah dalam poros sejarah umat manusia, bukan hanya umat Islam.
28 Rajab: Hari Ketika Imam Husain Meninggalkan Madinah (3)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Para sejarawan mencatat bahwa Imam Husain berulang kali menegaskan alasan perjalanannya. Ia tidak keluar untuk ambisi pribadi, tidak pula untuk mencari kerusakan. Ia keluar karena merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki umat kakeknya. Pernyataan ini diriwayatkan dalam berbagai redaksi, namun maknanya sama: keheningan di hadapan penyimpangan adalah bentuk keterlibatan.
(Maqtal al-Husain, Abu Mikhnaf; Tarikh al-Tabari, jil. 4)
Ketika Al Qur’an Terlontar Dari Mulut Pendurjana
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
Dalam berbagai kesempatan, tidak jarang kita menyaksikan bagaimana, manusia-manusia bejat yang seluruh wujudnya terlumuri oleh kekotoran kekafiran, kefasikan dan kemunafikan melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an demi membela kebejatan dan kesesatannya. Al Qur’an mereka jadikan alat untuk mendukung penentangannya kepada Al Qur’an (sendiri). Tentu setelah “memperkosa” ayat-ayat suci Al Qur’an dengan pemaknaan menyimpang.
Tingkatan Jiwa Menurut Al-Qur’an (5)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Tahap terakhir dari perjalanan kesempurnaan jiwa menurut Al-Qur’an adalah sampai pada suatu kondisi di mana jiwa hanya merasa tenang dengan mengingat Allah. Selain Allah, apa pun itu tidak akan mampu meredakan dahaga cinta dan kasih sayangnya, dan tidak akan mengeluarkannya dari kegelisahan dan keresahan.
Tingkatan Jiwa Menurut Al-Qur’an (4)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Apabila manusia bersungguh-sungguh dalam mendidik dan menyucikan jiwanya, serta melalui perjuangan spiritual ia berhasil membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela dan menggantinya dengan sifat-sifat terpuji, serta menempatkan akal sebagai penguasanya, maka meskipun jiwa belum mencapai kesempurnaan akhirnya dan belum layak untuk merasakan kehadiran Allah Sang Kekasih, namun jiwa sudah layak untuk menerima ilham.
Tingkatan Jiwa Menurut Al-Qur’an (3)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Jika manusia sejak awal tidak lalai terhadap permusuhan jiwa dan mengetahui pengkhianatan serta tipu dayanya, serta menyadari bahwa jiwa ibarat kuda liar yang bisa ditundukkan sedikit demi sedikit, maka ia akan berusaha menempuh jalan penyucian dan perbaikan jiwa. Ia melatih jiwa dengan ibadah, ketaatan, dan mujahadah (perjuangan spiritual), serta menanamkan kesadaran tentang keburukan dosa dan keindahan kebaikan.
Tingkatan Jiwa Menurut Al-Qur’an (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Apabila sejak awal jiwa telah menghiasi keburukan sehingga tampak indah, lalu mengundang manusia untuk melakukannya, dan manusia lalai dari permusuhan jiwa serta menuruti keinginannya, maka jiwa akan menjadi semakin berani. Ia akan kembali menawarkan bujukan kedua, ketiga, dan seterusnya, hingga ketika ia melihat situasi sudah kondusif untuk mendominasi, maka ia tidak lagi sekadar mengajak, tetapi mulai memerintah manusia untuk berbuat buruk.
Tingkatan Jiwa Menurut Al-Qur’an (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Perjalanan dalam batin dan jiwa adalah perjalanan yang sangat berharga dan indah, tetapi sebagaimana agungnya perjalanan itu, demikian pula kesulitannya. Seorang salik yang benar-benar jatuh cinta hanya dengan tarikan dan daya pikat Ilahi sajalah yang dapat mendaki ke puncak maqam yang tinggi ini.
Makna Istighfar Sejati Menurut Imam Ali as : Enam Tahapan Tobat yang Menyucikan Jiwa (1)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- ikmalonline
Istighfar sering kita dengar, sering pula kita ucapkan. Setiap kali berbuat salah, kita spontan berkata “Astaghfirullah.” Namun, menurut pandangan Imam Ali bin Abi Thalib as dalam Nahjul Balaghah, istighfar sejati bukanlah sekadar ucapan di bibir. Ia adalah perjalanan batin yang panjang, proses spiritual yang menyucikan jiwa dari kegelapan dosa dan mengembalikan manusia pada cahaya fitrahnya.
Pidato Jumat Pertama Rasulullah saw: Seruan Abadi tentang Taqwa dan Kebenaran (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Madinah Balaghah
Rasulullah saw mengingatkan, “Beramallah untuk masa sesudah hari ini.” Umat Islam diminta hidup dengan pandangan jauh ke depan, tidak hanya untuk dunia fana, tetapi untuk kehidupan kekal. Inilah pandangan dunia Qur’ani—bahwa setiap amal harus berorientasi pada keabadian.
Para Sahabat Nabi saw dan Keutamaan Imam Ali as(3)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- kitab Madinah Balaghah
Semoga Allah menjadikan kita sebagai umat yang mampu merajut persaudaraan, memuliakan para sahabat dengan adil, dan menempatkan Ahlulbait Nabi saw pada kedudukan yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan.
Pesan Al-Quran: Berbicaralah dengan Baik!
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- purkon hidayat
Tutur kata kita adalah cerminan kepribadian batin kita. Masyarakat yang menjunjung tinggi akhlak, rasa hormat, dan kebaikan dalam tutur katanya akan menjadi lingkungan yang aman, damai, dan manusiawi.
Tingkat-Tingkat Makrifat Manusia dalam Al-Qur’an (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- ali za
Naik setingkat, kita temukan shalihin, Shalihin adalah orang-orang saleh yang hidupnya selaras dengan ajaran Allah. Al-Qur’an menyebut para nabi termasuk dalam golongan ini, tetapi juga membuka peluang bagi siapa pun untuk mencapainya. Kesalehan bukan sekadar ibadah ritual, melainkan juga akhlak dan kontribusi sosial.
Tingkat-Tingkat Makrifat Manusia dalam Al-Qur’an (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Alia za
Makrifat bukanlah sekadar pengetahuan teoretis. Semakin tinggi tingkat pengenalan seseorang kepada Allah, semakin besar pula dampaknya pada cara ia hidup. Orang beriman yang bertakwa akan menjaga lisannya, amalnya, dan hubungannya dengan sesama. Shalihin akan menebar manfaat dan kebaikan. Shiddiqin akan menjadi teladan kejujuran dan keberanian.
Kehidupan Lebih Baik dengan Prinsip Moral Al-Quran
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- purkon hidayat
Kitab suci Al-Quran memerintahkan keadilan, kebaikan, dan kemuliaan, serta melarang perbuatan maksiat, kemunkaran, dan pemusuhan, menguraikan peta jalan yang jelas untuk membangun masyarakat yang ilahi dan transenden.

