Agama & Aliran
Jalan Pulang Agama 6
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Fanny Internasional
Dengan demikian, pemikiran Dr. Jalaluddin Rakhmat sesungguhnya memperlihatkan sebuah kesinambungan. Islam Alternatif menawarkan cara pandang baru terhadap agama. Islam Aktual menunjukkan bagaimana agama bekerja dalam realitas sosial. Halaman Akhir 1 dan Halaman Akhir 2 memperlihatkan kedalaman spiritual yang melahirkan akhlak. Dahulukan Akhlak di Atas Fiqih kemudian merumuskan seluruh perjalanan tersebut ke dalam satu tesis yang sederhana, tetapi sangat mendasar, bahwa agama kehilangan ruhnya ketika manusia dikorbankan demi mempertahankan aturan, sedangkan agama mencapai tujuan tertingginya ketika seluruh bangunan syariat diarahkan untuk memuliakan manusia.
Jalan Pulang Agama 5
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Fanny Internasional
Perjalanan intelektual tersebut kemudian memasuki wilayah yang lebih reflektif melalui Halaman Akhir 1 dan Halaman Akhir 2. Dalam kedua jilid buku tersebut, Dr. Jalaluddin Rakhmat tidak lagi berbicara terutama mengenai polemik keagamaan, melainkan mengenai perjalanan batin manusia. Pembaca diajak merenungkan makna cinta, kerendahan hati, pengampunan, kematian, harapan, dan perjumpaan dengan Tuhan. Keberagamaan tidak lagi diukur dari kemenangan dalam perdebatan, tetapi dari kemampuan manusia menghadirkan kasih sayang, memaafkan kesalahan sesama, serta membersihkan hati dari kesombongan dan kebencian.
Jalan Pulang Agama 4
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Fanny Internasional
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah kegelisahan yang sama juga hadir dalam tradisi Islam? Jawabannya dapat ditemukan melalui perjalanan intelektual Dr. Jalaluddin Rakhmat. Apabila teologi pembebasan berusaha mengembalikan Kekristenan kepada pembelaan terhadap kaum tertindas, maka Dr. Jalaluddin Rakhmat berusaha mengembalikan Islam kepada tujuan utamanya, yaitu memuliakan manusia melalui akhlak, kasih sayang, dan keadilan..
Jalan Pulang Agama 3
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Fanny Internasional
Dalam tradisi Kekristenan, kegelisahan tersebut berkembang melalui apa yang kemudian dikenal sebagai teologi pembebasan. Berangkat dari realitas Amerika Latin yang dilanda kemiskinan struktural, ketimpangan sosial, serta praktik kekuasaan yang menindas rakyat kecil, para teolog seperti Gustavo Gutiérrez mengajukan sebuah pertanyaan yang mengguncang cara pandang keagamaan pada zamannya.
Jalan Pulang Agama 2
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Fanny Internasional
Berabad-abad kemudian, Nabi Isa Al Masih as hadir di tengah masyarakat yang diliputi kemunafikan sosial, ketimpangan, dan kekuasaan yang sering mengabaikan nilai kemanusiaan. Dalam tradisi Kekristenan, pengorbanan Yesus Kristus dipahami sebagai wujud kasih yang diberikan demi keselamatan umat manusia. Sementara dalam perspektif Islam, Nabi Isa as tidak disalib sebagaimana keyakinan tersebut, melainkan diselamatkan oleh Tuhan.
Jalan Pulang Agama 1
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Fanny Internasional
Pada titik inilah semangat teologi pembebasan, refleksi etika Romo Franz Magnis Suseno, dan perjalanan intelektual Dr. Jalaluddin Rakhmat menemukan titik temu. Ketiganya mengingatkan bahwa agama bukan sekadar sistem legal yang mengatur perilaku manusia. Agama adalah panggilan untuk membebaskan manusia dari penindasan, memulihkan martabat yang dirampas oleh kekuasaan, membangun masyarakat yang adil, dan membentuk manusia yang mencerminkan sifat-sifat mulia yang dikehendaki Tuhan.
Pluralisme Agama Bukan Berarti Semua Agama Dicampur 2
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mutiara Afrilia & Zulfan Taufik.
Ada satu hal yang menarik setelah membaca jurnal ini dari awal hingga akhir. Penulis tidak sedang berusaha “membela” Jalaluddin Rakhmat. Mereka juga tidak sedang mengajak pembaca untuk menerima seluruh pandangannya tanpa kritik. Yang dilakukan jauh lebih sederhana, tetapi justru lebih ilmiah: mereka mengajak kita kembali membaca pemikiran Kang Jalal dari karya-karyanya sendiri, bukan dari penilaian orang lain.
Pluralisme Agama Bukan Berarti Semua Agama Dicampur 1
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mutiara Afrilia & Zulfan Taufik.
Semakin dalam seseorang mengenal Tuhannya, semakin besar pula penghormatannya kepada sesama manusia.
Pesan itu terasa sederhana.
Namun justru kesederhanaannya membuatnya tetap relevan.
perbedaan dapat menjadi ruang belajar
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mutiara Afrilia & Zulfan Taufik.
Cara pandang seperti inilah yang membuat pemikiran Kang Jalal terasa matang. Beliau tidak memilih jalan yang mudah. Beliau memahami bahwa masyarakat majemuk selalu menghadapi tantangan. Akan selalu ada perbedaan pandangan. Akan selalu ada perdebatan. Tetapi perbedaan tidak harus berakhir dengan permusuhan.
Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi ruang belajar.
Perbedaan pendapat dengan mudah berubah menjadi permusuhan.
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mutiara Afrilia & Zulfan Taufik.
Perbedaan pilihan politik berubah menjadi kebencian.
Perbedaan mazhab berubah menjadi saling menyesatkan.
Perbedaan agama berubah menjadi alasan untuk saling mencurigai.
Membaca Kang Jalal Hari Ini untuk Masalah Agama
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mutiara Afrilia & Zulfan Taufik.
Ada satu hal yang membuat pemikiran Jalaluddin Rakhmat tetap menarik untuk dibaca, bahkan bertahun-tahun setelah banyak karyanya diterbitkan.
Beliau tidak pernah menulis untuk zamannya saja.
Perbedaan Sebagai Jalan Berbuat Baik
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mutiara Afrilia & Zulfan Taufik.
Membaca jurnal karya Mutiara Afrilia dan Zulfan Taufik membuat kita melihat kembali satu sisi penting pemikiran Jalaluddin Rakhmat yang sering tertutup oleh berbagai stigma. Melalui pembacaan atas karya-karya Kang Jalal, jurnal ini memperlihatkan bahwa pluralisme yang beliau maksud bukanlah upaya mencampurkan agama atau menghapus identitas keyakinan seseorang. Pluralisme adalah kesediaan menghormati keberadaan orang lain sebagai sesama manusia, sambil tetap teguh memegang ajaran agama yang diyakininya.
Menjadikan Perbedaan Sebagai Jalan Berbuat Baik
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mutiara Afrilia & Zulfan Taufik.
Pada akhirnya, jurnal ini membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar memahami definisi pluralisme.
Apa yang harus dilakukan setelah kita menyadari bahwa masyarakat memang berbeda?
Membaca Kang Jalal Bukan Berarti Harus Sepakat
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mutiara Afrilia & Zulfan Taufik.
Barangkali inilah pelajaran yang paling menarik dari jurnal ini. Penulis tidak sedang meminta pembacanya menerima seluruh pandangan Jalaluddin Rakhmat tanpa kritik. Yang mereka lakukan justru lebih sederhana sekaligus lebih ilmiah: mengajak kita membaca langsung gagasan Kang Jalal sebelum memberi penilaian.
Ketika Pluralisme Bertemu Realitas Indonesia
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mutiara Afrilia & Zulfan Taufik.
Salah satu kekuatan jurnal ini adalah keberaniannya membawa pemikiran Kang Jalal keluar dari ruang teori. Penulis tidak berhenti menjelaskan apa itu pluralisme, tetapi mencoba melihat bagaimana gagasan tersebut bekerja dalam kehidupan berbangsa di Indonesia. Di sinilah relevansi pemikiran Jalaluddin Rakhmat terasa semakin nyata.
Membaca Kang Jalal Hari Ini
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mutiara Afrilia & Zulfan Taufik.
Lebih dari dua puluh tahun setelah buku-buku tentang pluralisme itu diterbitkan, perdebatan mengenai agama ternyata belum selesai.
Media sosial membuat orang semakin mudah berdebat, tetapi belum tentu semakin mudah saling memahami.
Ketika Perbedaan Menjadi Jalan Menuju Kedamaian
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mutiara Afrilia & Zulfan Taufik.
Jurnal ini juga mengangkat sejumlah konflik yang pernah terjadi di Indonesia sebagai pengingat bahwa keberagaman selalu membutuhkan kedewasaan.
Indonesia tidak kekurangan agama.
Indonesia tidak kekurangan rumah ibadah.
Kebebasan Beragama Tidak Berarti Bebas Menyakiti
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mutiara Afrilia & Zulfan Taufik.
Penulis jurnal kemudian menghubungkan pemikiran Kang Jalal dengan konsep kebebasan beragama di Indonesia.
Kebebasan beragama adalah hak setiap manusia.
Tetapi hak tersebut tidak boleh berubah menjadi alasan untuk menghina keyakinan orang lain.
Agama Berbeda, Nilai Kemanusiaan Bertemu
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mutiara Afrilia & Zulfan Taufik.
Jurnal ini juga menunjukkan bahwa Kang Jalal membedakan antara syariat dan nilai-nilai universal.
Setiap agama memang memiliki aturan ibadah, hukum, dan tata cara yang berbeda.
Perbedaan itu nyata.
Tidak perlu disembunyikan.
Mengapa Tuhan Membiarkan Agama Berbeda?
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mutiara Afrilia & Zulfan Taufik.
Di sinilah letak kekhasan pemikiran Kang Jalal.
Beliau tidak melihat keberagaman agama sebagai kegagalan sejarah manusia.
Sebaliknya, keberagaman itu dipandang sebagai bagian dari kehendak Tuhan.

