Rasulullah saw
Tujuh Wasiat Pokok: Fondasi Jiwa yang Merdeka (1)
- Dipublikasi pada
Ketiga, mengatakan kebenaran meskipun pahit. Inilah karakter Abu Dzar yang membuatnya diasingkan ke Rabadzah. Kebenaran seringkali berat dan tidak populer, tetapi di situlah kemuliaan seorang mukmin.
Tujuh Wasiat Pokok: Fondasi Jiwa yang Merdeka
- Dipublikasi pada
Dalam satu riwayat, Abu Dzar berkata bahwa Rasulullah saw berpesan kepadanya tujuh hal yang menjadi prinsip hidupnya.
Pesan-pesan Rasulullah saw kepada Abu Dzar dan Salman al-Farisi
- Dipublikasi pada
Di antara mutiara hikmah yang diwariskan oleh Nabi Muhammad saw kepada umatnya adalah wasiat-wasiat mendalam yang beliau sampaikan kepada dua sahabat agung: Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi. Keduanya bukan sekadar sahabat biasa. Abu Dzar dikenal sebagai simbol keberanian melawan tirani dan ketamakan kekuasaan, sementara Salman adalah representasi pencari kebenaran yang setia hingga mencapai puncak ma’rifat dan wilayah.
Khutbah Rasulullah Saw di Ujung Sya‘ban, Sebuah Seruan Abadi
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah dengan membawa berkah, rahmat, dan ampunan. Bulan itu adalah bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama, dan jam-jamnya adalah jam-jam yang paling utama.
Dialog Rasulullah saw dengan Alim Yahudi tentang Syariat dan Keutamaan Ahlulbait (2)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Kemudian orang Yahudi itu bertanya tentang rahasia salat lima waktu. Rasulullah saw menjelaskan setiap waktu salat dengan keterkaitannya pada peristiwa Nabi Adam as dan hikmah kosmiknya. Salat Zuhur diwajibkan saat seluruh makhluk bertasbih setelah matahari tergelincir. Salat Ashar dipilih sebagai salat paling dicintai Allah dan harus dijaga. Salat Magrib berkaitan dengan diterimanya tobat Adam as.
Dialog Rasulullah saw dengan Alim Yahudi tentang Syariat dan Keutamaan Ahlulbait
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Di antara hadis-hadis panjang yang sarat makna, terdapat satu riwayat agung yang diriwayatkan oleh Syaikh ash-Shaduq dalam berbagai karyanya—di antaranya al-Majalis, al-Faqih, Ilal asy-Syarai‘, al-Khishal, dan Ma‘ani al-Akhbar. Riwayat ini juga disebutkan sebagian kandungannya oleh al-Barqi dalam al-Mahasin dan al-Ikhtishash, dengan beberapa jalur periwayatan yang sahih.
Tanda-Tanda Keruntuhan Masyarakat dalam Sabda Rasulullah saw
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
“Tidak layak bagi para wali Allah—penghuni negeri keabadian—yang seluruh amal dan hasratnya tertuju ke sana, menjadi wali setan—penghuni negeri tipuan—yang seluruh amal dan hasratnya hanya untuk dunia.”
Mab'ats Nabi Islam; Titik Balik dalam Kehidupan Umat Manusia
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Peristiwa diutusnya Nabi Islam dapat dipandang sebagai titik balik sejarah; sebuah kejadian yang dengan bertumpu pada pembacaan wahyu, penyucian jiwa, pendidikan, dan kebijaksanaan, telah mengubah struktur pemikiran dan sosial umat manusia.
Empat Tujuan Fundamental Pengutusan Nabi
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Peristiwa diutusnya Nabi Islam dapat dipandang sebagai titik balik sejarah; sebuah kejadian yang dengan bertumpu pada pembacaan wahyu, penyucian jiwa, pendidikan, dan kebijaksanaan, telah mengubah struktur pemikiran dan sosial umat manusia.
Titik Balik Kehidupan Manusia dalam Pengutusan Nabi Muhammad Saw (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- soleh lapadi
Dalam Khutbah 89 Nahj al-Balagha, Imam Ali as, penerus Nabi Muhammad Saw, menyajikan gambaran akurat tentang kondisi sosial dan intelektual sebelum misi Nabi, “Allah mengutus Muhammad pada saat tidak ada nabi yang diutus, manusia tertidur lelap, fitnah semakin meningkat, keadaan kacau, api peperangan berkobar, dunia menjadi gelap dan penuh tipu daya, daun pohon kehidupan telah menguning, dan tidak ada harapan akan berbuah.”
Titik Balik Kehidupan Manusia dalam Pengutusan Nabi Muhammad Saw (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- soleh lapadi
Misi Nabi Muhammad Saw dapat dianggap sebagai titik balik dalam sejarah. Sebuah peristiwa yang, dengan mengandalkan pembacaan Al-Qur'an, penyucian, pengajaran, dan kebijaksanaan, telah mengubah struktur intelektual dan sosial manusia.
Revolusi Islam sebagai Manifestasi Bi’tsah
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ali Khamenei
Imam Khamenei melihat Revolusi Islam Iran sebagai salah satu manifestasi paling nyata dari semangat Bi’tsah di era modern. Menurut beliau, gerakan umat Islam dunia untuk menegakkan sistem yang adil dan merdeka telah dimulai jauh sebelum revolusi tersebut, namun Revolusi Islam menjadi momentum kebangkitan yang memicu kesadaran baru di kalangan bangsa-bangsa Muslim.
Bi’tsah dan Tantangan Zaman
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ali Khamenei
Lalu, apa relevansi Yaumul Bi’tsah dengan kondisi umat manusia saat ini? Imam Khamenei mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya ketidakadilan sosial atau penindasan politik, tetapi kebodohan—kebodohan berpikir, melemahkan kesadaran rohani, dan keterasingan dari nilai-nilai Ilahi.
Fitrah Ilahi: Pijakan untuk Kebenaran dan Keadilan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ali Khamenei
Imam Khamenei menegaskan bahwa Yaumul Bi’tsah memanggil manusia kembali kepada fitrah—hakikat yang Allah tanamkan di dalam jiwa setiap manusia. Fitrah adalah landasan bagi:
Yaumul Bi’tsah Sebagai Hari Kebangkitan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Sayyid Ali Khamenei
Imam Khamenei menekankan bahwa umat manusia kini lebih membutuhkan pemahaman tentang hakikat Bi’tsah daripada sekadar mengingat waktu terjadinya. Menurut beliau, Yaumul Bi’tsah adalah hari kebangkitan, bukan hanya bagi Nabi saw, melainkan bagi seluruh umat yang mencari makna hidup, keadilan, dan kebebasan dari penindasan.
Makna “Bi’tsah” dalam Terminologi Islam
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ali Khamenei
Yaumul Bi’tsah, dalam pandangan Imam Ali Khamenei, adalah momen kebangkitan sejati umat manusia dari keterasingan rohani dan sosial. Bi’tsah bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi panggilan universal yang memanggil setiap muslim untuk kembali kepada fitrah Ilahi—ke dalam keadilan, kebenaran, dan kemerdekaan spiritual.
Cinta Nabi sebagai Teladan Umat
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Syahid Murtadha Muthahhari
Al-Qur’an memerintahkan kaum Muslim untuk mengikuti Rasulullah saw sebagai teladan sempurna:
“Dan ikutilah dia agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. al-A‘raf: 158)
“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (QS. al-Ahzab: 21)
Bi'sat Nabi dan Solusi Sosial Masyarakat (4)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- zaki fathoni
“Dan inilah Al-Quran yang telah diwahyukan kepadaku agar aku member peringatakan kepada kalian dengannya dan kepada orang-orang yang Al-Quran sampai kepadanya”. (QS. al-An’am [6]: 19).
Bi'sat Nabi dan Solusi Sosial Masyarakat (3)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Zaki Fathani
Memperhatikan awalan huruf alif-lam (al) pada kata nas (al-nas: manusia), kedua ayat ini menegaskan bahwa Nabi Islam diutus untuk seluruh manusia, bukan hanya untuk satu bangsa atau kalangan tertentu.
Bi'sat Nabi dan Solusi Sosial Masyarakat
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Zaki Fathani
“Barangsiapa mengganggu kafir zimmi akan menjadi musuhku; dan siapa saja yang menjadikan aku musuhnya, di hari kiamat kelak aku akan memusuhinya”. (Jafar Subhani: Mabani Hukumat Islami, hlm. 528-529, Tauhid, Qom.)

