Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

DIALOG ANTARA MUSLIM DAN KRISTIAN [8]

0 Pendapat 00.0 / 5

Keadilan Ilahi

Wilson
: Saya tahu bahwa al-Qur'an sangat jelas berkisah ihwal sifat-sifat tertentu Tuhan seperti, Mahapengasih, Mahabijaksana, Mahapemurah, Baqa, Pencipta semesta, Esa tanpa sekutu, mitra atau anak. Tapi saya ingin tahu apakah "Adil" merupakan salah satu sifat Tuhan. Sebab saya diberitahu oleh beberapa orang Muslim bahwa ia merupakan salah satu sifat Tuhan, dan beberapa Muslim lainnya berkata tidak.



Chirri
: Tiada agama yang logis yang dapat menanggung pengingkaran atau keraguan terhadap keadilan Tuhan dan kemahabijakan-Nya. Mengingkari keadilan-Nya adalah sama dengan merongrong konsep keagamaan secara keseluruhan. Tidak ada satu keyakinan agama, bahkan keyakinan terhadap keberadaan Wujud Suprim, akan berguna bagi kita tanpa keyakinan terhadap keadilan-Nya.

Seorang penguasa tiran boleh jadi memberi ganjaran kepada pelaku kejahatan dan menghukum orang yang berbuat kebaikan. Jika seseorang menaatinya, ia tidak mesti menjamin kepuasan baginya. Jika seseorang membangkang titahnya, hal itu tidak mesti menjadikannya orang yang dibenci.

Terlebih, kita meyakini pesan-pesan langit dan utusan-utusan Tuhan karena kita pikir bahwa Dia adalah adil untuk berkata kepada para hamba-Nya apa yang diinginkan-Nya. Namun Tuhan yang tidak adil boleh jadi tidak berkata apa pun kepada kita atau boleh jadi Dia berkata sesuatu yang sebenarnya Dia tidak ingin katakan. Dengan demikian, seluruh doktrin kenabian akan sia-sia.

Pengingkaran terhadap keadilan Tuhan juga akan bermuara kepada pengingkaran akhirat, lantaran hari akhirat merupakan dunia yang mengimplementasikan keadilan dengan memberi ganjaran kepada orang-orang yang berbuat kebaikan dan mengazab orang-orang yang berbuat jahat.

Singkatnya, konsep keadilan Tuhan, bagi kami, merupakan masalah yang penting sebagaimana pentingnya konsep keberadaan Tuhan dan Keesaan-Nya; dan pengingkaran atasnya sedemikian merusak agama sebagaimana pengingkaran terhadap keberadaan Tuhan dan ke-Esa-an-Nya; Oleh karena itu, konsep keadilan Tuhan harus dipandang sebagai fondasi agama dimana tanpanya tidak ada agama yang dapat dibangun secara rasional.

Islam secara keseluruhan sejalan dan selaras dengan cara berpikir logis dan benar seperti ini. Kitab Suci al-Qur'an menyatakan keadilan Tuhan sedemikian tegasnya sebagaimana ia menyatakan ke-Esa-an Tuhan dan keberadaan-Nya. Dalam banyak ayat al-Qur'an, perbuatan tiran dicela dan dikutuk. Sementara itu, banyak ayat lainnya, Tuhan dijelaskan sebagai adil, dan bahwa Dia tidak ingin melakukan kezaliman kepada para hamba-Nya, atau tidak akan menyia-nyiakan perbuatan setiap pelakunya, atau bahwa Dia tidak ingin menyebabkan orang kehilangan sebiji atom kebaikan yang ia lakukan.

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Qs. Ali Imran [3]:18)

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula. (Qs. al-Zalzalah [99]:7-8)



Wilson
: Ucapan Anda tentang keadilan Tuhan merupakan ucapan yang paling rasional yang pernah saya dengar. Pada kenyataannya, pentingnya doktrin keagamaan ini tidak dapat dibesar-besarkan karena konsep ketuhanan tanpa keadilan-Nya tidak akan berguna bagi kita. Kita tidak dapat mempercayai juga jika ada agama yang rela terhadap tuhan yang zalim. Agama Yahudi dan Kristen memiliki pandangan yang sama dengan Islam dalam hal ini, dan tidak ada seorang Kristian atau Yahudi yang meragukan keadilan Tuhan. Doktrin keadilan Tuhan, dengan demikian, dalam pandangan Kristen dan Yahudi adalah sama dalam pandangan Islam, dan saya tidak melihat perbedaan antara tiga keyakinan ini dalam masalah tersebut.



Chirri
: Perbedaan Islam dan keyakinan yang lain bukan tentang konsep keadilan Tuhan itu sendiri, namun tentang konsep yang bersumber dari konsep ini. Islam tidak menganut doktrin apa pun yang bertentangan dengan doktrin Keadilan Ilahi. Islam mendakwahkan dan mengukuhkan setiap doktrin yang boleh jadi bersumber dari konsep keadilan Tuhan.



Wilson
: Dapatkah Anda menyebutkan beberapa contoh dari doktrin yang bersumber dari keadilan Tuhan?



Chirri
: Saya akan menyebutkan tiga prinsip yang bersumber dari doktrin keadilan Ilahi:

1. Tuhan tidak meminta manusia sebagai makhluk-Nya untuk melakukan apa yang mereka tidak dapat melakukannya. Kita dapat menjumpai poin ini dalam al-Qur'an: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (Qs. al-Baqarah [2]:286)

Apa yang berada di luar kekuasaanmu merupakan hal yang mustahil bagimu untuk melakukannya. Tuhan Yang Mahadadil tidak meminta yang mustahil.



2. Tuhan hanya menuntut tanggung jawab setiap orang dari perbuatan yang ia lakukan di bawah kontrolnya. Tidak ada orang yang bertanggung jawab atas perbuatan orang lain, bahkan jika mereka itu merupakan sahabat atau kerabat, dan termasuk perbuatan yang dilakukan di luar kontrol. Poin ini dapat dijumpai dalam al-Qur'an:

"Katakanlah: "Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, Padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan." (Qs. al-An'am [6]:164)



3. Jika hal ini benar adanya, umat manusia tidak dapat dibebankan perbuatan yang dilakukan Adam dan Hawa. Ketika berkata bahwa seluruh umat manusia dibebankan dengan warisan dari perbuatan tak terpuji Adam dan Hawa artinya bahwa ribuan umat manusia berbagi dengan Adam dan Hawa tanggung jawab atas perbuatan mereka, dan bahwa mereka mendapatkan kutukan dari Tuhan atas kesalahan yang terjadi sebelum kelahiran generasi dari mereka. Hal ini, tentu saja, tidak sejalan dengan keadilan Tuhan.

Mahkamah manusia tidak mengutuk seorang anak atas perbuatan dosa yang dilakukan oleh ayahnya. Bagaimana kita dapat menerima keadilan Tuhan yang menempatkan kesalahan yang dibuat oleh orang tua kepada anak-anak mereka atau cucu-cucu mereka?

Oleh karena itu, Islam dengan tegas menolak doktrin dosa asal, dan memandang setiap umat manusia suci pada saat kelahirannya dan bebas dari segala macam dosa. Sebenarnya, Islam menawarkan bayi manusia sebagai contoh sempurna dari wujud suci dan tanpa dosa. Setiap manusia, menurut ajaran Islam, lahir suci dan bebas dari segala bentuk dosa dan tetap berlanjut suci hingga ia melakukan dosa sebagai seorang dewasa.

Dengan melakukan dosa pada usia dewasa, manusia kehilangan kesuciannya, namun ia dapat meraih kembali kesucian tersebut melalui tobat yang tulus. Tatkala seseorang secara tulus merubah sikapnya dan dengan ikhlas berniat untuk tidak mengulang lagi perbuatan dosanya, dan sebenar-benarnya bersumpah untuk menaati titah Tuhan, Tuhan Yang Mahapengasih akan mengampuni dan menghapus dosa yang telah ia lakukan.



Wilson
: Biarkan aku melantur sejenak: Adam dan Hawa merupakan orang-orang seperti adanya kita. Mari kita berasumsi bahwa mereka bertobat dengan tulus setelah mereka berbuat kesalahan. Apakah hal itu tidak berarti bahwa kesalahan mereka dihapus?



Chirri
: Jika Anda berasumsi bahwa Adam telah bertobat setelah ia melakukan perbuatan yang tidak layak ia lakukan, Anda benar. Anda juga tidak keliru jika Anda meyakini bahwa Adam telah mendapatkan ampunan dari Tuhan atas tobat yang ia lakukan. Kitab Suci al-Qur'an mengatakan kepada kita bahwa Tuhan Yang Mahakuasa menerima tobat Adam, dan dengan demikian, perbuatan Adam dimaafkan: "…Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (Qs. al-Baqarah [2]:37)



Wilson
: Jika Adam dimaafkan, mengapa ia diusir dari firdaus?



Chirri
: Tergelincirnya Adam dari surga tidak mesti berarti sebuah hukuman bagi sebuah dosa. Boleh jadi bermakna hasil dari perubahan statusnya. Pada permulaan, Adam memiliki nilai untuk berkomunikasi dengan Tuhan kapan saja, dan pada masa-masa seperti ini adalah kebahagian dan surga baginya. Dengan bertindak yang tidak patut, ia menjadi rawan untuk tergelincir lagi; artinya, ia telah kehilangan imunitas (kekebalan) dari perbuatan yang tidak patut. Dengan menjadi tidak imun, ia tidak lagi berada pada posisi tinggi yang membuat ia dapat berkomunikasi dengan Tuhannya setiap waktu. Kini ia dapat melakukan hal itu pada masa ia telah bersuci. Kesuciannya, tentu saja, tidak bersifat permanen seperti sebelum ia tergelincir, lantaran ia boleh jadi tergelincir lagi.



Wilson
: Perjanjian Lama mengabarkan kepada kita bahwa dosa Adam adalah memakan dari sebuah pohon, dan bahwa pohon itu merupakan pohon ilmu pengetahuan yang dititahkan Tuhan kepadanya untuk ia hindari. Bagaimana versi Qur'an dalam masalah ini?



Chirri
: Kitab Suci al-Qur'an menyatakan bahwa ada sebuah pohon yang dilarang menyentuhnya dan bahwa kesalahan Adam adalah memakan buah dari pohon tersebut. Namun al-Qur'an tidak spesifik dalam pohon jenis apa yang ia makan. Dengan mengetahui spirit logis Islam, saya yakin bahwa pohon itu bukan pohon ilmu pengetahuan lantaran pengetahuan diperoleh dari belajar dan pengalaman, dan ia tidak tumbuh di atas pohon. Boleh jadi tidak ada yang signifikan yang menempel pada pohon itu atau jenisnya secara keseluruhan. Masalah signifikan yang dapat menjadi larangan itu sendiri adalah titah Tuhan untuk menguji keinginan hamba-Nya Adam dan Hawa. Terlebih, Tuhan, menurut al-Qur'an, cinta kepada pengetahuan; bagaimana mungki Dia melarangnya?



Wilson
: Mari kita kembali kepada topik utama pembahasan kita.

Kini saya yakin bahwa Islam berdiri di atas landasan yang kokoh dalam mendakwahkan kesucian umat manusia dan bahwa ajarannya dalam bidang ini sangat benar dan konsisten. Islam, sejauh ini, menganut prinsip keadilan Tuhan dan menjunjung tinggi prinsip tanggun jawab individu yang tidak dapat dilepaskan dari keadilan Tuhan.

Tatkala kaum Kristian mendakwahkan doktrin dosa asal, mereka sebenarnya menkonstruksi dasar sebuah doktrin lainnya, yaitu: doktrin penebusan. Umat manusia, mereka katakan, adalah berdosa dan terkutuk karena dosa asal. Dengan kata lain, dengan mewarisi dosa Adam dan Hawa, kami bernoda dosa; oleh karena itu, dosa-dosa kita perlu ditebus. Seseorang harus membayar dosa kita. Isa membayarnya dengan disalib. Dengan demikian, Isa menjadi penebus dan penyelamat umat manusia.

Dengan mengingkari dosa asal, doktrin penebusan tersisa tanpa dasar dan fondasi. Anda telah berbicara tentang permasalahan ini, dan kini telah menjadi terang bahwa doktrin penebusan merupakan salah satu prinsip yang tidak sesuai dan sejalan dengan konsep keadilan Tuhan.



Chirri
: Seluruh doktrin dosa asal adalah, sejauh yang kita diskusikan, secara keseluruhan bertentangan dengan doktrin keadilan Tuhan. Bahkan bila kita melupakan inkonsistensinya dengan keadilan Tuhan, kita tidak dapat menerima bahwa Sang Mahaadil membuat seseorang, seorang yang tak berdosa, Isa, membayar dosa seluruh umat manusia. Lagi, bagaimana kita dapat mencuci sebuah dosa kecil, seperti dengan memakan setiap apel, melalui dosa yang paling keji, pembunuhan seorang manusia suci, seperti Isa. Dosa boleh jadi dicuci oleh sebuah perbuatan baik, bukan dengan pembunuhan. Terlebih, bagaimana kita dapat menerima bahwa Tuhan, Sang Mahabijaksana, akan menuntut darah utusan-Nya sebagai harga sebuah pengampunan?