Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Imam Ali as

MBG : Mimbar Baiat Ghadir 3

MBG : Mimbar Baiat Ghadir 3

“Ada dua peristiwa besar yang menandai hari-hari akhir Rasulullah: Arafah dan Ghadir. Di Arafah, Rasulullah berbicara tentang kemanusiaan. Tentang kehormatan darah dan harta. Tentang hak-hak perempuan. Tentang persaudaraan. Tentang amanah. Tentang keadilan. Tentang nilai-nilai yang harus menjadi fondasi sebuah peradaban. 

Baca Yang lain

MBG : Mimbar Baiat Ghadir 2

MBG : Mimbar Baiat Ghadir 2 “Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan… berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia…”  

Baca Yang lain

MBG : Mimbar Baiat Ghadir 1

MBG : Mimbar Baiat Ghadir 1 Dari drama “pelaku dan sistem” pada skala domestik ini, mari kita tarik garis relevansinya pada sebuah peristiwa raksasa 14 abad silam: Peristiwa Al-Ghadir.  

Baca Yang lain

MBG : Mimbar Baiat Ghadir

MBG : Mimbar Baiat Ghadir Agama suci ini harus diserahkan dan dipelihara oleh orang-orang mulia yang tak mempan digoda oleh kenikmatan duniawi, serta tak gentar oleh kecaman zaman. Bukan oleh mereka yang sibuk mengemas tabiat “maling” dengan bungkus “gizi”.  

Baca Yang lain

Riwayat Panjang Tentang Keutamaan dan Kedahsyatan Hari Al-Ghadir Yang Jarang Diketahui 3

Riwayat Panjang Tentang Keutamaan dan Kedahsyatan Hari Al-Ghadir Yang Jarang Diketahui  3 Hari al-Ghadir adalah hari berhias. Barangsiapa berhias untuk memuliakan hari al-Ghadir, Allah akan mengampuni seluruh dosanya, baik kecil maupun besar. Allah akan mengutus malaikat untuk menuliskan kebaikan baginya dan mengangkat derajatnya hingga datang hari al-Ghadir berikutnya. Jika ia meninggal, ia meninggal sebagai syahid; dan jika tetap hidup, ia hidup dalam kebahagiaan.  

Baca Yang lain

Riwayat Panjang Tentang Keutamaan dan Kedahsyatan Hari Al-Ghadir Yang Jarang Diketahui 2

Riwayat Panjang Tentang Keutamaan dan Kedahsyatan Hari Al-Ghadir Yang Jarang Diketahui  2 Hari Ghadir juga merupakan hari berlomba-lomba kebaikan, hari memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, hari keridhaan, hari raya keluarga Nabi Muhammad, hari diterimanya amal-amal, hari memohon tambahan karunia, hari ketenteraman orang-orang beriman, hari memperoleh keuntungan, hari menumbuhkan kasih sayang, hari mencapai rahmat Allah, hari penyucian diri, hari meninggalkan dosa-dosa besar dan maksiat, hari ibadah, dan hari memberi makan kepada orang-orang yang berpuasa.   

Baca Yang lain

Riwayat Panjang Tentang Keutamaan dan Kedahsyatan Hari Al-Ghadir Yang Jarang Diketahui 1

Riwayat Panjang Tentang Keutamaan dan Kedahsyatan Hari Al-Ghadir Yang Jarang Diketahui  1 Hari al-Ghadir adalah hari kesempurnaan, hari kehinaan bagi setan, dan hari diterimanya amal-amal para pengikut dan pecinta keluarga Nabi Muhammad. Pada hari itulah Allah menyempurnakan agama. Pada hari itu Allah menjadikan seluruh amal orang-orang yang menentang-Nya seperti debu yang berterbangan.   

Baca Yang lain

Riwayat Panjang Tentang Keutamaan dan Kedahsyatan Hari Al-Ghadir Yang Jarang Diketahui

Riwayat Panjang Tentang Keutamaan dan Kedahsyatan Hari Al-Ghadir Yang Jarang Diketahui Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan hari pengutusannya memiliki kedudukan seperti hari al-Ghadir. Setiap nabi mengetahui kehormatan hari tersebut, karena pada hari itulah ditetapkan bagi umatnya seorang washi dan khalifah sepeninggalnya.   

Baca Yang lain

Sabda Imam Ja’far as Ketika Dikabari Bahwa Seorang Sahabat Beliau Mendapat Karunia Anak Laki-Laki

Sabda Imam Ja’far as Ketika Dikabari Bahwa Seorang Sahabat Beliau Mendapat Karunia Anak Laki-Laki Maka beliau bersabda:  Semoga Allah  memberimu sikap bersyukur kepada Sang Penganugerah dan semoga Allah memberkati untukmu pada anugerah-Nya, dan semoga Allah memanjangkan umurnya (bayimu) hingga mencapai usia dewasa dan semoga Allah menganugerahkan untukmu sikap baktinya kepadamu.   

Baca Yang lain

99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag. 10) c

99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag. 10)  c Hadis Nabi saw. dan para Imam Suci Ahlulbait as., sifat ‘Iffah juga mendapat pujian yang luar biasa. Di antaranya sebagai berikut:  Nabi saw. bersabda:  يَا أَبَا ذَرٍّ! إِيَّاكَ وَالسُّؤَالَ، فَإِنَّهُ ذُلٌّ حَاضِرٌ، وَفَقْرٌ مُتَعَجِّلٌ، وَفِيهِ حِسَابٌ طَوِيلٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ  “Wahai Abu Dzarr! Waspadalah terhadap meminta-minta, karena sesungguhnya itu adalah kehinaan yang hadir, kemiskinan yang disegerakan, dan di dalamnya terdapat hisab yang panjang pada hari Kiamat.” 

Baca Yang lain

99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag. 10) b

99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag. 10)  b Dalam hadis lain, beliau saw. bersabda:  ثَلاثَةٌ لا يَزيدُ اللَّهُ بهِنَّ إلّا خَيراً : التَّواضُعُ لا يَزيدُ اللَّهُ بهِ إلّا ارتِفاعاً ، وذِلُّ النَّفسِ لا يَزيدُ اللَّهُ بهِ إلّا عِزّاً ، والتَّعَفُّفُ لا يَزيدُ اللَّهُ بهِ إلّا غِنىً .  “Tiga hal yang Allah tidak menambahnya kecuali dengan kebaikan: Kerendahan hati/ tawâdhu’, Allah tidak menambahkannya kecuali dengan ketinggian derajat, kerendahan jiwa/rendah hati di hadapan kebenaran, Allah tidak menambahkannya kecuali dengan kemuliaan, menjaga kehormatan diri (menahan diri dari yang haram dan meminta-minta), Allah tidak menambahkannya kecuali dengan kekayaan (kecukupan dan keberkahan). 

Baca Yang lain

99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag. 10) a

99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag. 10)  a Wahai Kumail, keindahan akhlak seorang mukmin adalah kerendahan hatinya, keelokannya adalah menampakkan sifat ‘Iffah, kemuliaannya adalah mendalami ilmu agama, dan kehormatannya adalah meninggalkan perbincangan sia-sia.   

Baca Yang lain

Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd1

Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd1 Imam Ali as bersabda:  اِستَنزِلُوا الرِّزقَ بِالصَّدَقةِ.  Turunkanlah rezeki dengan bersedekah.  إِذَا أَمْلَقْتُمْ فَتَاجِرُوا اللَّهَ بِالصَّدَقَةِ.  Apabila kalian jatuh miskin, maka berdaganglah dengan Allah melalui sedekah. 

Baca Yang lain

Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd

Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd (Diambil dari Buku Tafsir Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd)  يَا كُمَيْلُ، الصَّدَقَةُ تُنْمَى عِنْدَ اللهِ.  Wahai Kumail, sedekah itu berkembang di sisi Allah. 

Baca Yang lain

Wilayah Sebagai Inti Agama

Wilayah Sebagai Inti Agama Jika seluruh riwayat ini dibaca secara menyeluruh, tampak sebuah benang merah yang kuat: wilayah bukan tema pinggiran dalam agama, melainkan inti dari keberlangsungan risalah.  

Baca Yang lain

Muhkam dan Mutasyabih dalam Sejarah Umat

Muhkam dan Mutasyabih dalam Sejarah Umat Dalam salah satu riwayat yang menarik, Imam Ja’far al-Shadiq as mengaitkan ayat tentang muhkam dan mutasyabih dengan realitas sejarah umat Islam.  

Baca Yang lain

Para Imam sebagai Pembimbing Kebenaran

Para Imam sebagai Pembimbing Kebenaran Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang menjadi pusat petunjuk Ilahi di setiap zaman. Sebagaimana Al-Qur’an merupakan petunjuk tertulis, para Imam adalah petunjuk hidup yang menjelaskan dan menjaga makna Al-Qur’an dari penyimpangan.  

Baca Yang lain

Mengganggu Ali Berarti Mengganggu Rasul

Mengganggu Ali Berarti Mengganggu Rasul Al-Qur’an melarang kaum mukmin menyakiti Rasulullah saw. Dalam riwayat-riwayat Ahlulbait, larangan ini juga mencakup tindakan memusuhi Ali as dan para Imam. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw: “Barang siapa menyakiti Ali, maka sungguh ia telah menyakitiku.”

Baca Yang lain

Ketaatan yang Mengantarkan Keberuntungan

Ketaatan yang Mengantarkan Keberuntungan Penafsiran ini berangkat dari prinsip bahwa para Imam adalah penerus otoritas Rasulullah saw dalam menjaga agama. Maka, ketaatan kepada mereka merupakan kelanjutan dari ketaatan kepada Nabi, sebagaimana penolakan terhadap mereka berarti penolakan terhadap sistem petunjuk Ilahi yang telah ditetapkan Allah. (Al-Kafi, jil. 1, Kitab al-Hujjah; Nur al-Tsaqalayn, jil. 4).  

Baca Yang lain

Menunaikan Nazar Wilayah

Menunaikan Nazar Wilayah Ketika menafsirkan ayat “Mereka menunaikan nazar” (QS. al-Insan: 7), Imam Ali al-Ridha as menjelaskan bahwa salah satu maknanya adalah memenuhi janji setia kepada wilayah Ahlulbait.  

Baca Yang lain