Imam Ali as
MBG : Mimbar Baiat Ghadir 3
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Fajruddin Muchtar Lc.
“Ada dua peristiwa besar yang menandai hari-hari akhir Rasulullah: Arafah dan Ghadir. Di Arafah, Rasulullah berbicara tentang kemanusiaan. Tentang kehormatan darah dan harta. Tentang hak-hak perempuan. Tentang persaudaraan. Tentang amanah. Tentang keadilan. Tentang nilai-nilai yang harus menjadi fondasi sebuah peradaban.
MBG : Mimbar Baiat Ghadir 2
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Fajruddin Muchtar Lc.
“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan… berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia…”
MBG : Mimbar Baiat Ghadir 1
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Fajruddin Muchtar Lc.
Dari drama “pelaku dan sistem” pada skala domestik ini, mari kita tarik garis relevansinya pada sebuah peristiwa raksasa 14 abad silam: Peristiwa Al-Ghadir.
MBG : Mimbar Baiat Ghadir
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Fajruddin Muchtar Lc.
Agama suci ini harus diserahkan dan dipelihara oleh orang-orang mulia yang tak mempan digoda oleh kenikmatan duniawi, serta tak gentar oleh kecaman zaman. Bukan oleh mereka yang sibuk mengemas tabiat “maling” dengan bungkus “gizi”.
Riwayat Panjang Tentang Keutamaan dan Kedahsyatan Hari Al-Ghadir Yang Jarang Diketahui 3
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Muhammad Bhagas
Hari al-Ghadir adalah hari berhias. Barangsiapa berhias untuk memuliakan hari al-Ghadir, Allah akan mengampuni seluruh dosanya, baik kecil maupun besar. Allah akan mengutus malaikat untuk menuliskan kebaikan baginya dan mengangkat derajatnya hingga datang hari al-Ghadir berikutnya. Jika ia meninggal, ia meninggal sebagai syahid; dan jika tetap hidup, ia hidup dalam kebahagiaan.
Riwayat Panjang Tentang Keutamaan dan Kedahsyatan Hari Al-Ghadir Yang Jarang Diketahui 2
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Muhammad Bhagas
Hari Ghadir juga merupakan hari berlomba-lomba kebaikan, hari memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, hari keridhaan, hari raya keluarga Nabi Muhammad, hari diterimanya amal-amal, hari memohon tambahan karunia, hari ketenteraman orang-orang beriman, hari memperoleh keuntungan, hari menumbuhkan kasih sayang, hari mencapai rahmat Allah, hari penyucian diri, hari meninggalkan dosa-dosa besar dan maksiat, hari ibadah, dan hari memberi makan kepada orang-orang yang berpuasa.
Riwayat Panjang Tentang Keutamaan dan Kedahsyatan Hari Al-Ghadir Yang Jarang Diketahui 1
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Muhammad Bhagas
Hari al-Ghadir adalah hari kesempurnaan, hari kehinaan bagi setan, dan hari diterimanya amal-amal para pengikut dan pecinta keluarga Nabi Muhammad. Pada hari itulah Allah menyempurnakan agama. Pada hari itu Allah menjadikan seluruh amal orang-orang yang menentang-Nya seperti debu yang berterbangan.
Riwayat Panjang Tentang Keutamaan dan Kedahsyatan Hari Al-Ghadir Yang Jarang Diketahui
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Muhammad Bhagas
Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan hari pengutusannya memiliki kedudukan seperti hari al-Ghadir. Setiap nabi mengetahui kehormatan hari tersebut, karena pada hari itulah ditetapkan bagi umatnya seorang washi dan khalifah sepeninggalnya.
Sabda Imam Ja’far as Ketika Dikabari Bahwa Seorang Sahabat Beliau Mendapat Karunia Anak Laki-Laki
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
Maka beliau bersabda: Semoga Allah memberimu sikap bersyukur kepada Sang Penganugerah dan semoga Allah memberkati untukmu pada anugerah-Nya, dan semoga Allah memanjangkan umurnya (bayimu) hingga mencapai usia dewasa dan semoga Allah menganugerahkan untukmu sikap baktinya kepadamu.
99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag. 10) c
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
Hadis Nabi saw. dan para Imam Suci Ahlulbait as., sifat ‘Iffah juga mendapat pujian yang luar biasa. Di antaranya sebagai berikut:
Nabi saw. bersabda:
يَا أَبَا ذَرٍّ! إِيَّاكَ وَالسُّؤَالَ، فَإِنَّهُ ذُلٌّ حَاضِرٌ، وَفَقْرٌ مُتَعَجِّلٌ، وَفِيهِ حِسَابٌ طَوِيلٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Wahai Abu Dzarr! Waspadalah terhadap meminta-minta, karena sesungguhnya itu adalah kehinaan yang hadir, kemiskinan yang disegerakan, dan di dalamnya terdapat hisab yang panjang pada hari Kiamat.”
99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag. 10) b
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
Dalam hadis lain, beliau saw. bersabda:
ثَلاثَةٌ لا يَزيدُ اللَّهُ بهِنَّ إلّا خَيراً : التَّواضُعُ لا يَزيدُ اللَّهُ بهِ إلّا ارتِفاعاً ، وذِلُّ النَّفسِ لا يَزيدُ اللَّهُ بهِ إلّا عِزّاً ، والتَّعَفُّفُ لا يَزيدُ اللَّهُ بهِ إلّا غِنىً .
“Tiga hal yang Allah tidak menambahnya kecuali dengan kebaikan: Kerendahan hati/ tawâdhu’, Allah tidak menambahkannya kecuali dengan ketinggian derajat, kerendahan jiwa/rendah hati di hadapan kebenaran, Allah tidak menambahkannya kecuali dengan kemuliaan, menjaga kehormatan diri (menahan diri dari yang haram dan meminta-minta), Allah tidak menambahkannya kecuali dengan kekayaan (kecukupan dan keberkahan).
99 Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd. (Bag. 10) a
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
Wahai Kumail, keindahan akhlak seorang mukmin adalah kerendahan hatinya, keelokannya adalah menampakkan sifat ‘Iffah, kemuliaannya adalah mendalami ilmu agama, dan kehormatannya adalah meninggalkan perbincangan sia-sia.
Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd1
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
Imam Ali as bersabda:
اِستَنزِلُوا الرِّزقَ بِالصَّدَقةِ.
Turunkanlah rezeki dengan bersedekah.
إِذَا أَمْلَقْتُمْ فَتَاجِرُوا اللَّهَ بِالصَّدَقَةِ.
Apabila kalian jatuh miskin, maka berdaganglah dengan Allah melalui sedekah.
Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Habib Ali Umar Al-Habsyi
(Diambil dari Buku Tafsir Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as. Kepada Kumail bin Ziyâd)
يَا كُمَيْلُ، الصَّدَقَةُ تُنْمَى عِنْدَ اللهِ.
Wahai Kumail, sedekah itu berkembang di sisi Allah.
Wilayah Sebagai Inti Agama
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Jika seluruh riwayat ini dibaca secara menyeluruh, tampak sebuah benang merah yang kuat: wilayah bukan tema pinggiran dalam agama, melainkan inti dari keberlangsungan risalah.
Muhkam dan Mutasyabih dalam Sejarah Umat
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Dalam salah satu riwayat yang menarik, Imam Ja’far al-Shadiq as mengaitkan ayat tentang muhkam dan mutasyabih dengan realitas sejarah umat Islam.
Para Imam sebagai Pembimbing Kebenaran
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Mereka adalah manusia-manusia pilihan yang menjadi pusat petunjuk Ilahi di setiap zaman. Sebagaimana Al-Qur’an merupakan petunjuk tertulis, para Imam adalah petunjuk hidup yang menjelaskan dan menjaga makna Al-Qur’an dari penyimpangan.
Mengganggu Ali Berarti Mengganggu Rasul
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Al-Qur’an melarang kaum mukmin menyakiti Rasulullah saw. Dalam riwayat-riwayat Ahlulbait, larangan ini juga mencakup tindakan memusuhi Ali as dan para Imam.
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw:
“Barang siapa menyakiti Ali, maka sungguh ia telah menyakitiku.”
Ketaatan yang Mengantarkan Keberuntungan
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Penafsiran ini berangkat dari prinsip bahwa para Imam adalah penerus otoritas Rasulullah saw dalam menjaga agama. Maka, ketaatan kepada mereka merupakan kelanjutan dari ketaatan kepada Nabi, sebagaimana penolakan terhadap mereka berarti penolakan terhadap sistem petunjuk Ilahi yang telah ditetapkan Allah. (Al-Kafi, jil. 1, Kitab al-Hujjah; Nur al-Tsaqalayn, jil. 4).
Menunaikan Nazar Wilayah
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Ketika menafsirkan ayat “Mereka menunaikan nazar” (QS. al-Insan: 7), Imam Ali al-Ridha as menjelaskan bahwa salah satu maknanya adalah memenuhi janji setia kepada wilayah Ahlulbait.

