Fathimah az Zahra as
Fatimah, Cahaya yang Tidak Pernah Padam
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Murtadha Muthahhari
Hari-hari terakhir Fatimah bukan sekadar periode duka keluarga Nabi. Dalam pandangan Muthahhari, itulah saat ketika seorang perempuan berdiri untuk menyelamatkan risalah. Ia berdiri ketika para sahabat besar diam. Ia berbicara ketika politik menutupi kebenaran. Ia memilih luka daripada kompromi. Ia memilih maqam abadi daripada kenyamanan sesaat.
Fatimah dan Garis Keadilan: Warisan bagi Umat Penentang Kezaliman
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Murtadha Muthahhari
Dalam pemikiran Muthahhari, perjuangan Fatimah bukanlah peristiwa yang berakhir pada zamannya. Perjuangan itu menjadi “benih kesadaran” yang kelak tumbuh dan meledak dalam sejarah, terutama di Karbala. Dari Sayidah Fatimah, lahirlah al-Husein. Dari luka Fatimah, tercipta barisan para penentang tirani sepanjang masa.
Wasiat Terakhir: Diam yang Lebih Keras dari Pidato
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Murtadha Muthahhari
Sikap paling mengguncang dari Fatimah adalah wasiat pemakaman malam harinya. Ia meminta agar beberapa tokoh yang telah menzaliminya tidak menghadiri pemakamannya. Dalam perspektif Muthahhari, keputusan ini adalah bentuk protes politik paling keras dalam sejarah Islam.
Luka di Pintu Rumah: Ketika Seorang Suci Dibalas Kekerasan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Murtadha Muthahhari
Muthahhari tidak menghindari fakta tragis bahwa Sayidah Fatimah mengalami kekerasan fisik ketika rumah Imam Ali dikepung oleh sekelompok orang yang ingin memaksa baiat. Ia menegaskan bahwa peristiwa itu bukan sekadar insiden politik, tetapi menunjukkan bahwa kekuasaan saat itu mulai menjauhi nilai-nilai moral Islam.
Fadak: Simbol Kebenaran, Bukan Sengketa Tanah
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Murtadha Muthahhari
Kasus Fadak adalah titik penting dalam perjuangan Sayidah Fatimah. Muthahhari meluruskan pandangan bahwa Fadak hanyalah perkara warisan. Ia menjelaskan bahwa Fatimah memperjuangkan Fadak bukan untuk dirinya, tetapi sebagai ujian apakah umat masih memegang sabda Nabi.
Pidato-pidato Fatimah yang Menghidupkan Nurani Umat
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Murtadha Muthahhari
Muthahhari memberikan perhatian besar pada Khutbah Fadakiyah, pidato agung yang disampaikan Sayidah Fatimah di Masjid Nabawi. Dalam pidato itu, Sayidah Fatimah menampilkan kapasitas luar biasa sebagai seorang pemikir, ahli fiqih, dan penjaga kesadaran sosial. Ia memulai pidatonya dengan ayat-ayat Al-Qur’an, lalu membangun argumentasi politik dan teologis yang sangat kuat.
Ketika Rumah Nabi Menjadi Pusat Gejolak Sejarah
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Murtadha Muthahhari
Setelah wafatnya Rasulullah saw, umat Islam memasuki masa penuh ketegangan politik. Muthahhari menegaskan bahwa perubahan itu berlangsung sangat cepat: nilai-nilai dakwah yang dibangun bertahun-tahun berubah menjadi kompetisi kekuasaan yang berbalut jargon persatuan.
Analisis Muthahhari tentang Perjuangan dan Peran Politik Sayidah Fatimah
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Murtadha Muthahhari
Dalam lembar-lembar sejarah Islam, tidak banyak tokoh yang meninggalkan jejak sekuat Sayidah Fatimah al-Zahra as. Ia adalah perempuan suci yang tidak hanya hidup sebagai putri Rasulullah, tetapi sebagai penjaga ruh Islam di masa ketika arus sejarah mulai menggeser nilai-nilai yang ditegakkan ayahnya. Dalam pandangan Murtadha Muthahhari—filsuf dan pemikir revolusioner Iran—hari-hari terakhir Fatimah adalah salah satu episode paling menentukan dalam sejarah Islam.
Ketika Kesabaran Dipakai untuk Menutup Kezaliman (3)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Annisa Eka Nurfitria,Lc,M.Sos
Karena itu perlu ditanyakan dengan jujur: sabar yang kita jalani ini sabar yang dikehendaki Allah atau sabar yang diciptakan budaya agar kita tidak mengganggu struktur sosial yang nyaman bagi sebagian orang? Apakah sabar kita membawa perubahan atau hanya membuat kita terbiasa dengan perlakuan yang tidak pantas?
Ketika Kesabaran Dipakai untuk Menutup Kezaliman (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Annisa Eka Nurfitria,Lc,M.Sos
Sayyidah Fatimah az-Zahra adalah salah satu figur paling jelas dalam sejarah Islam yang menunjukkan bahwa sabar bukan berarti tunduk pada ketidakadilan. Banyak orang hanya mengingat beliau sebagai sosok lembut dan penuh kasih, tetapi lupa bahwa beliau berdiri di hadapan struktur kekuasaan ketika hak masyarakat dan hak keluarganya digeser.
Sayyidah Fathimah as ; Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Islam (3)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Euis Daryati,MA
1. Para musuh bersumpah akan membunuh Nabi Muhammad di mana pun berada. Sayyidah Fathimah mengabari ayahnya agar berhati-hati (Manaqib, jil.1,hal 71;Biharul Anwar,jil.18, hal.60)
2. Tiap kali kafir Quraisy melempari Nabi saw dengan tanah, Sayyidah Fathimah kecil langsung membersihkannya dengan berkaca-kaca. Rasul memeluknya sembari mengusap air matanya, “Putriku, jangan nangis, Allah penjaga ayahmu. (Sirah Ibnu Hisyam, jil.1, hal.416)
Sayyidah Fathimah as ; Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Islam (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Euis Daryati,MA
Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki. Kesetaraan gender penghapusan diskriminasi terhadap laki-laki dan perempuan. Bagaimana dalam Islam? Kita akan melihat ayat-ayat berikut ini;
Sayyidah Fathimah as ; Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Islam (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Euis Daryati,MA
Dalam Al-Quran menjelaskan bahwa sejak awal Nabi Adam as dan Hawa telah digoda untuk makan ‘buah terlarang’ dengan menggunakan ‘dhamir mutsana’; kata ganti yang menunjukkan dua orang. (QS. Al-A’raf 20-21)
Langit Biru yang Terbelah
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- ikmalonline
Oh Sayidah Fatimah az-Zahra, manusia bidadari,
hari agung ini biarkan kami melantunkan syair;
shalawat dan salam terlantun tanpa henti,
berharap secercah syafaat kelak untuk kami.
Pemikiran dan Teladan Politik Sayyidah Fatimah Azzahra: Relevansi dan Inspirasi untuk Kehidupan Kontemporer” (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dina Soleiman
Metode ketiga: Khutbah atau orasi politik. Berorasi secara terbuka untuk menyampaikan kebenaran dan menekan ketidakadilan adalah metode lain yang diterapkan Sayyidah Fatimah. Hal ini juga terlihat pada perjuangan perempuan Palestina, yang menyampaikan protes mereka kepada dunia secara terbuka.
Pemikiran dan Teladan Politik Sayyidah Fatimah Azzahra: Relevansi dan Inspirasi untuk Kehidupan Kontemporer” (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Dina suleiman
Dengan meneladani Sayyidah Fatimah, kita belajar untuk menjadi pribadi yang berani, mandiri, dan siap berjuang untuk kebenaran, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun dalam konteks politik global.
Nur Kejelitaan Sayyidah Fathimah as dalam Mendidik Kalbu di Alam Maya (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Prof. Emeritus Saedah Siraj
Fatimah juga mengajarkan keteguhan jiwa. Dalam dunia maya yang selalu berubah, beliau mendidik agar kita berprinsip, menjaga maruah, integritas, dan adab digital. Beliau mengingatkan bahwa kehormatan diri dan keluarga harus dijaga sebagaimana beliau menjaga kehormatan Nabi. Kecantikan rohani Fatimah bukan dari wajah atau pakaian, tetapi dari hati yang jernih, akhlak yang halus, sabar, ridha, ibadah yang tekun, kasih sayang, dan keheningan jiwa yang menenangkan orang di sekitarnya.
Nur Kejelitaan Sayyidah Fathimah as dalam Mendidik Kalbu di Alam Maya (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Prof. Emeritus Saedah Siraj
Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah SAW, bukan hanya dari segi wajah, tetapi dari tutur kata, akhlak, kelembutan, dan kehadiran yang menenangkan. Hadis sahih dari Bukhari dan Muslim menegaskan hal ini, dan sejarah menceritakan betapa Rasulullah berdiri menyambutnya serta mencium tangannya saat Fatimah memasuki rumah, menunjukkan tingginya maqam akhlak beliau.
Sayyidah Fatimah az-Zahra: Simbol Kehormatan, Amanat Ilahi, dan Keteguhan Perempuan dalam Islam (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Prof.Dr. Hossein Mottaghi
Pertama, akhlak yang baik dan keimanan yang kuat. Akhlak mulia adalah fondasi setiap hubungan yang diberkahi, sementara keimanan yang kokoh menjaga kemurnian niat dan keteguhan hati. Ketika akhlak dan iman hadir pada dua insan, seperti pada Rasulullah dan Sayyidah Khadijah, hubungan itu memancarkan kekuatan, ketenangan, dan keberkahan.
Sayyidah Fatimah az-Zahra: Simbol Kehormatan, Amanat Ilahi, dan Keteguhan Perempuan dalam Islam (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Prof.Dr. Hossein Mottaghi
Peringatan syahadah Sayyidah Fatimah az-Zahra bukan sekadar momentum duka, tetapi kesempatan untuk menegaskan kembali nilai-nilai spiritual dan moral yang lahir dari sosok perempuan suci ini. Fatimah bukan hanya putri Nabi, bukan sekadar istri Imam Ali, bukan pula sekadar ibu dari Hasan dan Husain. Ia adalah figur yang menghidupkan ruh Islam dalam bentuk paling murni—ketakwaan, keberanian moral, kecerdasan spiritual, dan keteguhan menjaga kehormatan diri dan umat.

