Imam Mahdi ajf
Akal Sejati: Kesadaran akan Kematian
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
“Orang yang paling berakal adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya menghadapinya. Mereka itulah orang-orang yang paling berakal.”
Imamah dan Kepemimpinan Ilahi Imam al-Mahdi
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sayid Husain Mazahiri
Banyaknya saksi mata dan konsistensi riwayat tentang kelahiran Imam Mahdi as menunjukkan bahwa polemik seputar kelahirannya bukanlah persoalan ilmiah, melainkan akibat ketidaktahuan atau kepentingan ideologis. Sejarah membuktikan bahwa bumi tidak pernah kosong dari hujjah Allah, dan imamah tidak pernah diserahkan kepada musyawarah manusia semata. (I‘lam al-Wara’, hlm. 395; Yanabi‘ al-Mawaddah, juz 3, hlm. 124)
Kesaksian Para Wakil dan Sahabat atas Kelahiran Imam al-Mahdi
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sayid Husain Mazahiri
Abu Amr al-Amri, wakil pertama Imam Mahdi as, meriwayatkan bahwa Imam Hasan al-Askari as memerintahkan penyembelihan hewan akikah dalam jumlah besar dan pembagian daging kepada Bani Hasyim serta para pengikut Ahlulbait sebagai tanda kelahiran Imam Mahdi. (Bihar al-Anwar, juz 51, hlm. 5 dan 22)
Kesaksian Ahmad bin Ishaq atas Kelahiran Imam al-Mahdi
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sayid Husain Mazahiri
Ahmad bin Ishaq al-Asy‘ari meriwayatkan bahwa Imam Hasan al-Askari as mengirim surat kepadanya yang mengabarkan kelahiran seorang putra dan memintanya merahasiakan kabar tersebut. Dalam pertemuannya di Samarra, Imam Hasan bahkan memperlihatkan langsung putranya kepada Ahmad bin Ishaq. (Bisyarat al-Islam, hlm. 167–168; Yaum al-Khalas, hlm. 102)
Penggaiban Imam al-Mahdi Sejak Hari-Hari Awal
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sayid Husain Mazahiri
Sejak hari-hari pertama kelahirannya, Imam Mahdi as berada dalam penjagaan khusus Allah. Imam Hasan al-Askari as menegaskan bahwa putranya telah “dititipkan kepada Allah”, sebagaimana Nabi Musa as dahulu dititipkan kepada-Nya. Karena itu, kehadirannya tidak selalu tampak secara kasatmata. (al-Ghaybah (ath-Thusi), hlm. 142–143; Yaum al-Khalas, hlm. 93)
Kesaksian Sayidah Hakimah binti Muhammad al-Jawad atas Kelahiran Imam al-Mahdi
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sayid Husain Mazahiri
Kesaksian paling rinci mengenai peristiwa kelahiran Imam Mahdi as datang dari Sayidah Hakimah binti Muhammad al-Jawad, bibi Imam Hasan al-Askari as. Atas permintaan langsung Imam Hasan, beliau diminta menemani Narjis pada malam kelahiran tersebut. (Bihar al-Anwar, juz 51, hlm. 2–14; Yanabi‘ al-Mawaddah, juz 3, hlm. 113)
Waktu, Tempat, dan Nasab Kelahiran Imam al-Mahdi
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sayid Husain Mazahiri
Imam Muhammad bin Hasan al-Mahdi as dilahirkan di kota Samarra, Irak, menjelang terbit fajar subuh, pada hari Jumat, 15 Sya‘ban 255 Hijriah. Beliau lahir di rumah ayahandanya, Imam Hasan al-Askari as, dari seorang ibu yang mulia bernama Narjis binti Yasyu‘a bin Qaishar, yang nasabnya bersambung kepada Syam‘un ash-Shafa, wasi Nabi Isa al-Masih as, melalui jalur para hawariyyun. (Mutsir al-Ahzan, hlm. 296; Kasyf al-Ghummah, juz 3, hlm. 310; Yaum al-Khalas, hlm. 86)
Kelahiran Imam al-Mahdi: Kesaksian Historis, Riwayat Para Saksi, dan Signifikansi Imamah
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sayid Husain Mazahiri
Kelahiran Imam al-Mahdi as merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam, sekaligus yang paling dirahasiakan. Ia bukan sekadar kelahiran seorang anak, melainkan hadirnya hujjah terakhir Allah di muka bumi—pemimpin ilahi yang dijanjikan akan memenuhi dunia dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuhi oleh kezaliman dan penindasan.
Jihad dan Penantian Imam Mahdi as
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Taqi Misbah Yazdi
Dalam akidah Syiah, penantian Imam Mahdi as adalah penantian aktif. Intidhar menuntut kesiapan spiritual, intelektual, dan sosial untuk berdiri di barisan kebenaran. Jihad pada masa kemunculan Imam Mahdi as dipahami sebagai jihad pembebasan universal untuk menghapus sistem kezaliman dan menegakkan keadilan global.
Penutup: Menjadi Umat Penanti yang Bertanggung Jawab
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Husain Mazahiri
Kegaiban Imam Mahdi adalah ujian keimanan. Ia memisahkan antara penantian yang tulus dan klaim kosong. Umat yang setia bukanlah mereka yang sibuk mengaku melihat Imam, melainkan mereka yang menjaga nilai-nilai yang Imam perjuangkan.
Imam Mahdi dan Krisis Zaman Modern
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Husain Mazahiri
Zaman ini adalah zaman di mana kezaliman tampil dengan wajah rapi. Sistem global berbicara tentang kebebasan, namun menindas bangsa-bangsa lemah. Agama dijadikan simbol, bukan nilai. Keadilan dijanjikan, tetapi tidak pernah dihadirkan. Inilah kondisi yang membuat kehadiran Imam Mahdi semakin relevan.
Kegaiban Besar dan Tanggung Jawab Umat
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Husain Mazahiri
Pada masa kegaiban besar, Imam Mahdi as sepenuhnya tersembunyi dari penglihatan manusia. Namun, ajaran dan bimbingan beliau tetap hadir melalui para ulama dan perawi yang terpercaya. Imam Mahdi menegaskan agar umat merujuk kepada para fuqaha yang menjaga diri dari dosa, mengendalikan hawa nafsu, dan taat kepada Allah.
Kegaiban Kecil dan Perwakilan Khusus
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Husain Mazahiri
Kegaiban Imam Mahdi terbagi menjadi dua fase. Fase pertama disebut al-Ghaibah ash-Shughra (kegaiban kecil), berlangsung sekitar tujuh puluh empat tahun. Pada masa ini, Imam Mahdi as tetap berkomunikasi dengan umat melalui wakil-wakil khusus yang dikenal sebagai as-Sufara’ al-Arba‘ah.
Kelahiran Imam Mahdi dan Awal Kegaiban
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Husain Mazahiri
Dalam situasi yang sangat berbahaya itulah Imam Mahdi as dilahirkan. Allah SWT menjaga kelahiran ini dalam kerahasiaan mutlak. Tidak seorang pun mengetahui kehamilan ibunda beliau selain Imam Hasan al-Askari dan seorang perempuan suci dari keluarga Ahlulbait. Bahkan setelah kelahiran, keberadaan Imam Mahdi hanya diberitahukan kepada murid-murid khusus yang terpercaya.
Menjadi Penjaga Keadilan di Masa Kegaiban
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Husain Mazahiri
Zaman kegaiban bukanlah zaman kekosongan tanggung jawab. Justru di masa inilah kualitas iman diuji. Orang-orang yang mencintai Imam Mahdi a.s. bukan hanya mereka yang menunggu kemunculannya, tetapi mereka yang menegakkan keadilan, melawan kezaliman, dan menjaga kesucian fitrah manusia sesuai kemampuan mereka.
Satu Hukum, Satu Kepatuhan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Husain Mazahiri
“Apakah mereka mencari agama selain agama Allah, padahal kepada-Nya berserah diri semua yang di langit dan di bumi, baik dengan sukarela maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?”
Keadilan sebagai Keniscayaan Sejarah
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Husain Mazahiri
Kemunculan Imam Mahdi a.s. bukanlah peristiwa kebetulan, melainkan keniscayaan sejarah dan fitrah. Ketika hak-hak manusia dirampas, kewajiban dibebankan secara timpang, dan kezaliman menjadi sistem global, maka fitrah manusia menuntut hadirnya figur korektif. Dalam Islam, koreksi ini tidak bersifat kompromistis, tetapi revolusioner dalam makna Ilahi:
Kezaliman Global dan Proyek Kekuasaan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Husain Mazahiri
Kezaliman global bukanlah sesuatu yang terjadi secara acak. Ia dijalankan melalui strategi rapi, bertahap, dan sistematis. Banyak analis mencatat bahwa dominasi dunia modern tidak lepas dari proyek ideologis yang dirancang oleh kelompok-kelompok tertentu yang meyakini superioritas dirinya atas bangsa dan agama lain.
Jeritan Keadilan di Dunia yang Timpang
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Husain Mazahiri
Hari ini, seruan tentang keadilan terdengar hampir di seluruh penjuru bumi. Dari podium politik, forum internasional, hingga gerakan sosial, kata “keadilan” dikumandangkan dengan berbagai wajah dan slogan. Namun kenyataannya, dunia justru semakin jauh dari keadilan itu sendiri.
Al-Mahdi: Figur Keadilan Fitrah dan Puncak Reformasi Ilahi
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Husain Mazahiri
Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda: “Akan muncul seorang lelaki dari Ahlulbaitku. Namanya seperti namaku, dan rupa wajahnya menyerupaiku. Ia akan memenuhi bumi dengan kebenaran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi oleh kecurangan dan kezaliman.”

