Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Tokoh-tokoh Islam

Ibnu Sina : Filosof Par Excellence 3

Ibnu Sina : Filosof Par Excellence 3

Seyyed Hosien Nasr introduced Avicenna as sage the sage and the most influential figure in Islamic and all science and gain such title as al-Shaikh al-Rais (the leader of among wise Men) and al-hujat al-haq, (the proof of God) .[1] And his legacy ranging from logic, metaphysics, physich and medicine, zoology, parmachology and so on,  

Baca Yang lain

Ibnu Sina : Filosof Par Excellence 2

Ibnu Sina : Filosof Par Excellence 2 Sejak masih muda ia selalu haus dengan ilmu. Ia selalu berusaha mencari dan belajar dari guru-guru yang terbaik di zamannya, dari agama dan bangsa manapun dan biasanya setelah itu ia melampaui sang guru. Ia sangat beruntung hidup dalam dua  bahasa  Persia dan Arab. Bahasa persia adalah bahasa ibunya dan bahasa arab adalah bahasa pendidikannaya. Ia sangat menguasai bahasa Arab hanya dalam 3 tahun dan menulis puisi dan sastra dalam  bahasa Arab.  

Baca Yang lain

Ibnu Sina : Filosof Par Excellence 1

Ibnu Sina : Filosof Par Excellence 1 Ayah dan saudaranya mengikuti mazhab Ismailiyah, tapi Ibnu Sina sendiri tidak mengikuti mazhab tersebut. Menurut Sebagian ahli sejarah mazhab Ibn Sina adalah Syiah  Istna  Asyariah atau dikenal juga dengan Ja’fari. Dalam mukadimah al-Isyarat wa tanbihat,  ia memulai mukadimahnya dengan frase seperti ini :  “Dan aku sampaikan shalawat kepada orang-orang terpilih dari hamba-hamba-Nya untuk risalahnya dan secara khusus untuk Muhammad dan keluarganya.

Baca Yang lain

Ahmad bin Nashr al-Khuza’i

Ahmad bin Nashr al-Khuza’i Beliau adalah salah satu murid dan sahabat dekat Ahmad ibn Hanbal. Al-Dzahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala’ menyebut bahwa Ahmad bin Nashr al-Khuza’i adalah: Seorang ahli hadis dan ulama Ahlus Sunnah. Bergaul dan belajar dari Imam Ahmad bin Hanbal. Sejalan dengan Imam Ahmad dalam mempertahankan akidah bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk.

Baca Yang lain

Al-Hallaj

Al-Hallaj Al-Hallaj  yang hidup pada tahun 244–309 H adalah seorang sufi yang mengajarkan cinta kepada Allah dan pengalaman spiritual yang mendalam. Ia terkenal dengan ucapannya: ‎أنا الحق “Akulah Yang Maha Benar”

Baca Yang lain

Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar Syekh Siti Jenar adalah seorang sufi yang mengajarkan konsep manunggaling kawula Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhan). Ucapan-ucapannya, seperti “Aku adalah Yang Maha Benar” atau penjelasan tentang kesatuan dengan Allah. Hal ini dapat dipahami oleh sebagian orang sebagai ajaran yang dapat menyesatkan masyarakat awam.

Baca Yang lain

Halal Bi Halal Dengan Para Syahid Agung 3

Halal Bi Halal Dengan Para Syahid Agung 3 Dan kami — kami yang mengangkat namamu sebagai panji — masih saling melukai dengan kata, masih saling memotong dengan hujah, masih berlomba membuktikan siapa yang paling benar sambil membiarkan ukhuwwah tergeletak berdarah di jalanan.   

Baca Yang lain

Halal Bi Halal Dengan Para Syahid Agung 2

Halal Bi Halal Dengan Para Syahid Agung 2 Di bulan yang paling Engkau cintai, di hari Syahadah Ummul Mukminin, saat bibirnya masih basah dengan ayat-Mu, saat lambungnya masih kosong karena cinta-Mu —  Engkau panggil ia pulang bukan dengan kehinaan bukan dengan kelalaian melainkan dalam wudhu yang sempurna, dalam sujud yang belum sempat selesai — 

Baca Yang lain

Halal Bi Halal Dengan Para Syahid Agung 1

Halal Bi Halal Dengan Para Syahid Agung 1 Kepada istri beliau, kepada keluarga beliau, kepada seluruh kafilah syahid yang namanya hanya diketahui oleh-Mu dan oleh bumi yang menyimpan darah mereka —  Dan kepada beliau — Sayyid Asy-Syahid kami — 

Baca Yang lain

Warisan Malik al-Asytar dan Teladan Abadi

Warisan Malik al-Asytar dan Teladan Abadi Malik al-Asytar menjadi simbol dari beberapa kualitas luhur yang sangat dihargai dalam tradisi Syiah dan Islam pada umumnya:  

Baca Yang lain

Kemartiran Malik al-Asytar dan Akhir Hidup yang Tragis

Kemartiran Malik al-Asytar dan Akhir Hidup yang Tragis Saat situasi Mesir genting akibat konflik antara kekuasaan Imam Ali as dan Mu’awiyah, Imam Ali as menunjuk Malik al-Asytar sebagai gubernur Mesir yang baru agar dapat menertibkan wilayah tersebut. Namun dalam perjalanan menuju Mesir pada tahun 38/39 H (658-659 M), Malik diracuni oleh agen-agen Mu’awiyah yang bersikeras mencegahnya mencapai posisi itu.  

Baca Yang lain

Kesetiaan Malik al-Asytar kepada Imam Ali as

Kesetiaan Malik al-Asytar kepada Imam Ali as Kesetiaan Malik kepada Imam Ali as tidak tergoyahkan sepanjang hidupnya. Dalam berbagai situasi yang sulit dan penuh tekanan politik, terutama saat Fitnah Pertama yang memecah belah umat Islam, ia berdiri teguh di sisi Ali as. Ketika sebagian besar pasukan mulai goyah dan terpecah di medan Siffin akibat penipuan politik musuh, Malik tetap tegar mengikuti perintah Imam Ali as dan tidak tergoda oleh janji-janji atau tipu daya pihak lawan.  

Baca Yang lain

Peran Malik al-Asytar dalam Politik dan Administratif

Peran Malik al-Asytar dalam Politik dan Administratif Lebih dari sekadar panglima perang, Malik al-Asytar juga dikenal sebagai seorang pemimpin administrasi yang adil. Imam Ali as mengangkatnya sebagai gubernur di beberapa wilayah penting seperti Al-Jazirah dan kemudian Mesir. Tugas Malik bukan hanya memimpin pasukan, tetapi juga menjaga ketertiban sosial dan mengimplementasikan prinsip-prinsip keadilan dalam pemerintahan.  

Baca Yang lain

Keikutsertaan Malik al-Asytar dalam Perang-Perang Besar Islam

Keikutsertaan Malik al-Asytar dalam Perang-Perang Besar Islam Malik al-Asytar adalah seorang pejuang yang berani dan menjadi bagian dari pasukan Muslim dalam banyak pertempuran penting di era awal Islam:  

Baca Yang lain

Latar Belakang dan Kehidupan Awal Malik al-Asytar

Latar Belakang dan Kehidupan Awal Malik al-Asytar Malik al-Asytar (Malik bin al-Harits al-Nakhaʾi) adalah salah satu figur paling mulia dan berpengaruh di antara sahabat Imam Ali bin Abi Thalib as. Ia bukan hanya seorang panglima perang yang gagah berani, tetapi juga representasi loyalitas, keadilan, dan cinta kepada Ahlulbait as.

Baca Yang lain

Kisah Keislaman Abu Dzar al-Ghifari: Pencari Kebenaran yang Tak Pernah Mundur (2)

Kisah Keislaman Abu Dzar al-Ghifari: Pencari Kebenaran yang Tak Pernah Mundur (2) Pagi harinya, Imam Ali membawa Abu Dzar menemui Rasulullah ﷺ. Begitu mendengar langsung sabda Nabi, tanpa ragu sedikit pun Abu Dzar mengucapkan syahadat dan masuk Islam. Itulah karakter Abu Dzar—teguh, lugas, dan jujur.  

Baca Yang lain

Kisah Keislaman Abu Dzar al-Ghifari: Pencari Kebenaran yang Tak Pernah Mundur (1)

Kisah Keislaman Abu Dzar al-Ghifari: Pencari Kebenaran yang Tak Pernah Mundur (1) Dalam sejarah Islam, nama Abu Dzar al-Ghifari selalu bergema sebagai simbol keberanian moral, keteguhan hati, dan ketulusan dalam mencari kebenaran. Kisah keislamannya bukan sekadar catatan biografis, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang memperlihatkan teguhnya seorang manusia yang menolak berhenti sebelum menemukan hakikat.  

Baca Yang lain

Sayyid Jamal al-Afghani dan Mimpi Besar Persatuan Dunia Islam (4)

Sayyid Jamal al-Afghani dan Mimpi Besar Persatuan Dunia Islam (4) Salah satu kontribusi besar Jamal al-Afghani adalah menghidupkan kembali tradisi filsafat Islam dalam konteks modern. Ia mendorong murid-muridnya, seperti Muhammad Abduh, untuk membaca karya klasik seperti Avicenna (Ibn Sînâ) dan filsuf Muslim lainnya.  

Baca Yang lain

Sayyid Jamal al-Afghani dan Mimpi Besar Persatuan Dunia Islam (3)

Sayyid Jamal al-Afghani dan Mimpi Besar Persatuan Dunia Islam (3) Jamal al-Afghani adalah seorang modernis Islam avant-garde: ia menolak dogma yang menolak sains dan kemajuan, namun juga menolak tirani budaya Barat yang memaksakan ide Barat begitu saja. Dalam tulisannya, ia menyerukan umat Islam agar mempelajari ilmu modern, teknologi, dan menerapkannya — tetapi tanpa kehilangan esensi spiritual dan rasional Islam.  

Baca Yang lain

Sayyid Jamal al-Afghani dan Mimpi Besar Persatuan Dunia Islam (2)

Sayyid Jamal al-Afghani dan Mimpi Besar Persatuan Dunia Islam (2) Salah satu keunggulan Jamal al-Afghani adalah kemampuannya memahami dinamika internal dunia Islam dengan kacamata historis dan politik yang luas. Ia menyadari bahwa dalam sejarah panjang umat Islam, baik tradisi Sunni maupun Syiah memiliki pengalaman yang berbeda dalam hubungannya dengan kekuasaan dan masyarakat.  

Baca Yang lain