Ma'ad
Kesadaran Akhirat: Mematahkan Panjang Angan-Angan
- Dipublikasi pada
Rasulullah saw berulang kali mengingatkan Abu Dzar tentang kematian dan kefanaan dunia. “Hiduplah di dunia seperti orang asing atau pengembara,” sabda beliau. Dunia adalah penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir.
Empat Perkara yang Mengantarkan ke Surga
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
“Siapa saja dari umatku yang selamat dari empat perkara berikut maka dia berhak mendapat surga: selamat dari masuk ke dalam dunia, selamat dari mengikuti hawa nafsu, selamat dari syahwat perut, dan selamat dari syahwat kemaluan.”
Menghadirkan Akhirat di Tengah Dunia
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Angan-angan panjang adalah penyakit peradaban. Ia membuat manusia menunda tobat, menunda amal, menunda perubahan. Sementara kematian tidak pernah menunda kedatangannya.
Pesan Rasulullah saw kepada Muadz: Peta Jalan Keselamatan Dunia dan Akhirat
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- kitab Madinah Balaghah
Di antara nasihat paling komprehensif yang pernah disampaikan Rasulullah saw adalah wasiat beliau kepada Muadz bin Jabal. Pesan ini bukan sekadar nasihat pribadi, melainkan peta kehidupan bagi siapa pun yang ingin selamat—di dunia dan di akhirat.
Ajal dan Angan-angan (1)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Pada pertanyaan terakhir, Rasulullah saw menyebutkan tujuh keistimewaan yang Allah berikan kepada beliau dan umatnya, seperti al-Fatihah, azan, salat berjamaah, hari Jumat, bacaan keras dalam salat tertentu, keringanan saat sakit dan safar, salat jenazah, dan syafaat bagi pelaku dosa besar.
Ajal dan Angan-angan
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
“Jika seorang hamba berhak atas kepemimpinan Allah dan kebahagiaan, maka ajal berada di antara kedua matanya dan angan-angan di belakang punggungnya. Namun jika ia berhak atas kepemimpinan setan dan kesengsaraan, maka angan-angan berada di antara kedua matanya dan ajal di belakang punggungnya.”
Kematian: Berkah bagi Ahli Akhirat, Celaka bagi Ahli Dunia
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
“Kematian datang membawa kemudahan, kelapangan, dan kepulangan yang penuh berkah ke surga yang tinggi bagi ahli akhirat, yang usaha dan hasrat mereka tertuju kepadanya. Sementara kematian datang membawa kesengsaraan, penyesalan, dan kepulangan yang merugi menuju neraka yang sangat panas bagi ahli dunia, yang usaha dan hasrat mereka hanya tertuju padanya.”
Pidato Rasulullah Saw tentang Kematian Seorang Mukmin dan Pecinta Dunia
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
“Wahai manusia, waspadailah kematian, waspadailah kematian. Bergegaslah, bergegaslah. Sungguh tidak ada lagi kesempatan untuk kembali—apakah menuju kebahagiaan atau kesengsaraan.”
Manusia dan Hidangan Amal
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Ungkapan bahwa “manusia hanya duduk di sisi hidangan yang tersaji dari akidah, akhlak, dan amalnya sendiri” memiliki makna simbolis yang sangat dalam. Akidah, akhlak, dan amal bukan sekadar kategori moral atau teologis; ketiganya merupakan substansi eksistensial yang akan mengambil bentuk konkret di akhirat.
Akhir dari Amal
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Hari Kiamat bukan sekadar peristiwa kosmis, tetapi juga puncak keadilan eksistensial. Di sana, manusia tidak lagi dapat berargumen, menyesal, atau mengubah nasibnya. Ia hanyalah tamu di hadapan hidangan yang telah ia siapkan sendiri sepanjang hidupnya.
Argumen Logis tentang Hari Kebangkitan dan Kehidupan Pasca-Kematian (2)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Dari sinilah timbul pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya faktor alami yang menjaga kesatuan tubuh makhluk hidup sepanjang perubahan yang terjadi?
Argumen Logis tentang Hari Kebangkitan dan Kehidupan Pasca-Kematian (1)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Dari sinilah timbul pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya faktor alami yang menjaga kesatuan tubuh makhluk hidup sepanjang perubahan yang terjadi?
Ihwal Ruh dalam Wujud Manusia
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Hubungan antara ruh dan raga bukanlah seperti hubungan dua zat kimia yang bersatu lalu hilang saat dipisahkan. Air terbentuk dari hidrogen dan oksigen, dan jika salah satunya hilang, wujud air pun hilang. Tetapi ruh dan tubuh tidak demikian. Ruh bukan bagian dari tubuh. Ruh adalah hakikat, sementara tubuh adalah wadah sementara.
Tingkatan Jiwa menurut Pandangan Filsuf
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Para filsuf Islam, seperti al-Farabi, Ibn Sina, dan kemudian dimatangkan oleh Mulla Sadra, juga menyusun hierarki perkembangan jiwa. Mereka menjelaskan dinamika jiwa dalam kerangka epistemologis dan ontologis yang sistematis.
Tingkatan Jiwa menurut Pandangan Arif
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Para arif menguraikan perjalanan jiwa dalam kerangka lathaif sab‘ah (tujuh lapisan halus jiwa). Konsep ini sering diungkapkan dalam literatur tasawuf, misalnya oleh Jami yang memuji ‘Attar Nisyaburi dengan ungkapan: “‘Attar telah melintasi tujuh kota cinta, sementara kita masih terjebak di satu lorong.”
Tingkatan Jiwa
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Walhasil, baik dalam irfan maupun filsafat Islam, jiwa dipahami sebagai entitas yang memiliki dinamika bertingkat. Titik awal perjalanan selalu dimulai dari kondisi potensial yang masih terikat pada dimensi material, dan berakhir pada kondisi transenden di mana jiwa fana dalam Tuhan.
Bisakah Takdir Kematian Diubah? Rahasia Ajal Hatmi dan Ajal Ghayr Hatmi dalam Pandangan Imam Ali as (2)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- ikmalonline
Konsep ajal ghayr hatmi memberikan harapan dan makna yang mendalam dalam kehidupan manusia. Ia mengajarkan bahwa takdir bukanlah sesuatu yang kaku dan tanpa ruang gerak. Islam tidak memandang manusia sebagai makhluk pasif yang hanya menunggu nasib, tetapi sebagai hamba yang memiliki peran aktif dalam menentukan arah hidupnya melalui amal saleh, doa, dan kebajikan.
Bisakah Takdir Kematian Diubah? Rahasia Ajal Hatmi dan Ajal Ghayr Hatmi dalam Pandangan Imam Ali as (1)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- ikmalonline
Dalam keseluruhan pandangan Imam Ali as, konsep ajal hatmi dan ajal ghayr hatmi bukan hanya menjelaskan perbedaan antara dua jenis takdir, tetapi juga menunjukkan bahwa rahmat Allah meliputi setiap aspek kehidupan manusia. Allah memberikan ruang bagi manusia untuk memperbaiki dirinya, menunda azab melalui tobat, dan memperpanjang keberkahannya melalui amal saleh. Namun, ketika ajal hatmi tiba, maka seluruh kesempatan itu berakhir, dan manusia akan berpindah ke alam berikutnya sesuai dengan apa yang telah ia tanam.
Menghidupkan Jiwa dengan Mengingat Mati (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Mukḥsin Qara’ati
Orang yang sadar akan kematian tidak menunda amal kebajikan, karena ia tahu ajal bisa datang kapan saja. Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Barangsiapa melihat mati di hadapannya, ia tidak akan pernah lalai dari tugasnya, karena ia tahu kematian dapat menjemputnya dalam setiap gerak.” (Biharul Anwar, jilid VI, hlm. 135).
Menghidupkan Jiwa dengan Mengingat Mati (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Mukḥsin Qara’ati
Mengingat kematian bukanlah ajakan untuk berputus asa dari kehidupan, melainkan panggilan untuk hidup dengan kesadaran yang lebih dalam. Dalam pandangan Islam, khususnya sebagaimana diajarkan oleh Ahlulbait Nabi saw, kesadaran akan mati dan Hari Kebangkitan adalah sumber moralitas, keteguhan hati, dan kejernihan batin.

