Ma'ad
Belajar Menghadapi Kematian, Belajar Menghargai Kehidupan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sal Sabillah Nikmatus Solikah
Membaca skripsi karya Sal Sabillah Nikmatus Solikah memberi kesan bahwa pembahasan tentang kematian tidak selalu identik dengan suasana muram. Sebaliknya, melalui perbandingan pemikiran KH. Jalaluddin Rakhmat dan Prof Komaruddin Hidayat, penulis memperlihatkan bahwa kesadaran akan kematian justru dapat menjadi sumber kekuatan untuk menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.
Kematian yang Melahirkan Harapan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sal Sabillah Nikmatus Solikah
Di bagian akhir penelitiannya, Sal Sabillah Nikmatus Solikah sampai pada sebuah kesimpulan yang menarik. Meskipun KH. Jalaluddin Rakhmat dan Prof Komaruddin Hidayat sama-sama berbicara tentang kematian dengan bahasa yang menenangkan, keduanya berangkat dari fondasi yang berbeda. Perbedaan itulah yang justru memperkaya cara umat Islam memahami salah satu kepastian terbesar dalam hidup manusia.
Belajar Hidup dari Kesadaran Akan Mati
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sal Sabillah Nikmatus Solikah
Salah satu kesan yang muncul setelah membaca skripsi ini adalah bahwa KH. Jalaluddin Rakhmat tidak pernah membahas kematian untuk menumbuhkan pesimisme. Sebaliknya, beliau justru menggunakannya sebagai cara untuk menghidupkan kesadaran manusia.
Ketika Kematian Tidak Lagi Menakutkan
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sal Sabillah Nikmatus Solikah
Di bagian berikutnya, penulis skripsi mulai memperlihatkan perbedaan yang lebih halus antara KH. Jalaluddin Rakhmat dan Prof Komaruddin Hidayat. Keduanya sama-sama berbicara tentang kematian, tetapi titik berangkat keduanya tidak sama.
Kesadaran Akhirat: Mematahkan Panjang Angan-Angan
- Dipublikasi pada
Rasulullah saw berulang kali mengingatkan Abu Dzar tentang kematian dan kefanaan dunia. “Hiduplah di dunia seperti orang asing atau pengembara,” sabda beliau. Dunia adalah penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir.
Empat Perkara yang Mengantarkan ke Surga
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
“Siapa saja dari umatku yang selamat dari empat perkara berikut maka dia berhak mendapat surga: selamat dari masuk ke dalam dunia, selamat dari mengikuti hawa nafsu, selamat dari syahwat perut, dan selamat dari syahwat kemaluan.”
Menghadirkan Akhirat di Tengah Dunia
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Angan-angan panjang adalah penyakit peradaban. Ia membuat manusia menunda tobat, menunda amal, menunda perubahan. Sementara kematian tidak pernah menunda kedatangannya.
Pesan Rasulullah saw kepada Muadz: Peta Jalan Keselamatan Dunia dan Akhirat
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- kitab Madinah Balaghah
Di antara nasihat paling komprehensif yang pernah disampaikan Rasulullah saw adalah wasiat beliau kepada Muadz bin Jabal. Pesan ini bukan sekadar nasihat pribadi, melainkan peta kehidupan bagi siapa pun yang ingin selamat—di dunia dan di akhirat.
Ajal dan Angan-angan (1)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Pada pertanyaan terakhir, Rasulullah saw menyebutkan tujuh keistimewaan yang Allah berikan kepada beliau dan umatnya, seperti al-Fatihah, azan, salat berjamaah, hari Jumat, bacaan keras dalam salat tertentu, keringanan saat sakit dan safar, salat jenazah, dan syafaat bagi pelaku dosa besar.
Ajal dan Angan-angan
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
“Jika seorang hamba berhak atas kepemimpinan Allah dan kebahagiaan, maka ajal berada di antara kedua matanya dan angan-angan di belakang punggungnya. Namun jika ia berhak atas kepemimpinan setan dan kesengsaraan, maka angan-angan berada di antara kedua matanya dan ajal di belakang punggungnya.”
Kematian: Berkah bagi Ahli Akhirat, Celaka bagi Ahli Dunia
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
“Kematian datang membawa kemudahan, kelapangan, dan kepulangan yang penuh berkah ke surga yang tinggi bagi ahli akhirat, yang usaha dan hasrat mereka tertuju kepadanya. Sementara kematian datang membawa kesengsaraan, penyesalan, dan kepulangan yang merugi menuju neraka yang sangat panas bagi ahli dunia, yang usaha dan hasrat mereka hanya tertuju padanya.”
Pidato Rasulullah Saw tentang Kematian Seorang Mukmin dan Pecinta Dunia
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
“Wahai manusia, waspadailah kematian, waspadailah kematian. Bergegaslah, bergegaslah. Sungguh tidak ada lagi kesempatan untuk kembali—apakah menuju kebahagiaan atau kesengsaraan.”
Manusia dan Hidangan Amal
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Ungkapan bahwa “manusia hanya duduk di sisi hidangan yang tersaji dari akidah, akhlak, dan amalnya sendiri” memiliki makna simbolis yang sangat dalam. Akidah, akhlak, dan amal bukan sekadar kategori moral atau teologis; ketiganya merupakan substansi eksistensial yang akan mengambil bentuk konkret di akhirat.
Akhir dari Amal
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Hari Kiamat bukan sekadar peristiwa kosmis, tetapi juga puncak keadilan eksistensial. Di sana, manusia tidak lagi dapat berargumen, menyesal, atau mengubah nasibnya. Ia hanyalah tamu di hadapan hidangan yang telah ia siapkan sendiri sepanjang hidupnya.
Argumen Logis tentang Hari Kebangkitan dan Kehidupan Pasca-Kematian (2)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Dari sinilah timbul pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya faktor alami yang menjaga kesatuan tubuh makhluk hidup sepanjang perubahan yang terjadi?
Argumen Logis tentang Hari Kebangkitan dan Kehidupan Pasca-Kematian (1)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Dari sinilah timbul pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya faktor alami yang menjaga kesatuan tubuh makhluk hidup sepanjang perubahan yang terjadi?
Ihwal Ruh dalam Wujud Manusia
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Hubungan antara ruh dan raga bukanlah seperti hubungan dua zat kimia yang bersatu lalu hilang saat dipisahkan. Air terbentuk dari hidrogen dan oksigen, dan jika salah satunya hilang, wujud air pun hilang. Tetapi ruh dan tubuh tidak demikian. Ruh bukan bagian dari tubuh. Ruh adalah hakikat, sementara tubuh adalah wadah sementara.
Tingkatan Jiwa menurut Pandangan Filsuf
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Para filsuf Islam, seperti al-Farabi, Ibn Sina, dan kemudian dimatangkan oleh Mulla Sadra, juga menyusun hierarki perkembangan jiwa. Mereka menjelaskan dinamika jiwa dalam kerangka epistemologis dan ontologis yang sistematis.
Tingkatan Jiwa menurut Pandangan Arif
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Para arif menguraikan perjalanan jiwa dalam kerangka lathaif sab‘ah (tujuh lapisan halus jiwa). Konsep ini sering diungkapkan dalam literatur tasawuf, misalnya oleh Jami yang memuji ‘Attar Nisyaburi dengan ungkapan: “‘Attar telah melintasi tujuh kota cinta, sementara kita masih terjebak di satu lorong.”
Tingkatan Jiwa
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Walhasil, baik dalam irfan maupun filsafat Islam, jiwa dipahami sebagai entitas yang memiliki dinamika bertingkat. Titik awal perjalanan selalu dimulai dari kondisi potensial yang masih terikat pada dimensi material, dan berakhir pada kondisi transenden di mana jiwa fana dalam Tuhan.

