Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Ma'ad

Belajar Menghadapi Kematian, Belajar Menghargai Kehidupan

Belajar Menghadapi Kematian, Belajar Menghargai Kehidupan

Membaca skripsi karya Sal Sabillah Nikmatus Solikah memberi kesan bahwa pembahasan tentang kematian tidak selalu identik dengan suasana muram. Sebaliknya, melalui perbandingan pemikiran KH. Jalaluddin Rakhmat dan Prof Komaruddin Hidayat, penulis memperlihatkan bahwa kesadaran akan kematian justru dapat menjadi sumber kekuatan untuk menjalani kehidupan dengan lebih bermakna.  

Baca Yang lain

Kematian yang Melahirkan Harapan

Kematian yang Melahirkan Harapan Di bagian akhir penelitiannya, Sal Sabillah Nikmatus Solikah sampai pada sebuah kesimpulan yang menarik. Meskipun KH. Jalaluddin Rakhmat dan Prof Komaruddin Hidayat sama-sama berbicara tentang kematian dengan bahasa yang menenangkan, keduanya berangkat dari fondasi yang berbeda. Perbedaan itulah yang justru memperkaya cara umat Islam memahami salah satu kepastian terbesar dalam hidup manusia.  

Baca Yang lain

Belajar Hidup dari Kesadaran Akan Mati

Belajar Hidup dari Kesadaran Akan Mati Salah satu kesan yang muncul setelah membaca skripsi ini adalah bahwa KH. Jalaluddin Rakhmat tidak pernah membahas kematian untuk menumbuhkan pesimisme. Sebaliknya, beliau justru menggunakannya sebagai cara untuk menghidupkan kesadaran manusia.  

Baca Yang lain

Ketika Kematian Tidak Lagi Menakutkan

Ketika Kematian Tidak Lagi Menakutkan Di bagian berikutnya, penulis skripsi mulai memperlihatkan perbedaan yang lebih halus antara KH. Jalaluddin Rakhmat dan Prof Komaruddin Hidayat. Keduanya sama-sama berbicara tentang kematian, tetapi titik berangkat keduanya tidak sama.  

Baca Yang lain

Kesadaran Akhirat: Mematahkan Panjang Angan-Angan

Kesadaran Akhirat: Mematahkan Panjang Angan-Angan Rasulullah saw berulang kali mengingatkan Abu Dzar tentang kematian dan kefanaan dunia. “Hiduplah di dunia seperti orang asing atau pengembara,” sabda beliau. Dunia adalah penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir.  

Baca Yang lain

Empat Perkara yang Mengantarkan ke Surga

Empat Perkara yang Mengantarkan ke Surga “Siapa saja dari umatku yang selamat dari empat perkara berikut maka dia berhak mendapat surga: selamat dari masuk ke dalam dunia, selamat dari mengikuti hawa nafsu, selamat dari syahwat perut, dan selamat dari syahwat kemaluan.”  

Baca Yang lain

Menghadirkan Akhirat di Tengah Dunia

Menghadirkan Akhirat di Tengah Dunia Angan-angan panjang adalah penyakit peradaban. Ia membuat manusia menunda tobat, menunda amal, menunda perubahan. Sementara kematian tidak pernah menunda kedatangannya.  

Baca Yang lain

Pesan Rasulullah saw kepada Muadz: Peta Jalan Keselamatan Dunia dan Akhirat

Pesan Rasulullah saw kepada Muadz: Peta Jalan Keselamatan Dunia dan Akhirat Di antara nasihat paling komprehensif yang pernah disampaikan Rasulullah saw adalah wasiat beliau kepada Muadz bin Jabal. Pesan ini bukan sekadar nasihat pribadi, melainkan peta kehidupan bagi siapa pun yang ingin selamat—di dunia dan di akhirat.  

Baca Yang lain

Ajal dan Angan-angan (1)

Ajal dan Angan-angan (1) Pada pertanyaan terakhir, Rasulullah saw menyebutkan tujuh keistimewaan yang Allah berikan kepada beliau dan umatnya, seperti al-Fatihah, azan, salat berjamaah, hari Jumat, bacaan keras dalam salat tertentu, keringanan saat sakit dan safar, salat jenazah, dan syafaat bagi pelaku dosa besar.  

Baca Yang lain

Ajal dan Angan-angan

Ajal dan Angan-angan “Jika seorang hamba berhak atas kepemimpinan Allah dan kebahagiaan, maka ajal berada di antara kedua matanya dan angan-angan di belakang punggungnya. Namun jika ia berhak atas kepemimpinan setan dan kesengsaraan, maka angan-angan berada di antara kedua matanya dan ajal di belakang punggungnya.”  

Baca Yang lain

Kematian: Berkah bagi Ahli Akhirat, Celaka bagi Ahli Dunia

Kematian: Berkah bagi Ahli Akhirat, Celaka bagi Ahli Dunia “Kematian datang membawa kemudahan, kelapangan, dan kepulangan yang penuh berkah ke surga yang tinggi bagi ahli akhirat, yang usaha dan hasrat mereka tertuju kepadanya. Sementara kematian datang membawa kesengsaraan, penyesalan, dan kepulangan yang merugi menuju neraka yang sangat panas bagi ahli dunia, yang usaha dan hasrat mereka hanya tertuju padanya.”  

Baca Yang lain

Pidato Rasulullah Saw tentang Kematian Seorang Mukmin dan Pecinta Dunia

Pidato Rasulullah Saw tentang Kematian Seorang Mukmin dan Pecinta Dunia “Wahai manusia, waspadailah kematian, waspadailah kematian. Bergegaslah, bergegaslah. Sungguh tidak ada lagi kesempatan untuk kembali—apakah menuju kebahagiaan atau kesengsaraan.”  

Baca Yang lain

Manusia dan Hidangan Amal

Manusia dan Hidangan Amal Ungkapan bahwa “manusia hanya duduk di sisi hidangan yang tersaji dari akidah, akhlak, dan amalnya sendiri” memiliki makna simbolis yang sangat dalam. Akidah, akhlak, dan amal bukan sekadar kategori moral atau teologis; ketiganya merupakan substansi eksistensial yang akan mengambil bentuk konkret di akhirat.

Baca Yang lain

Akhir dari Amal

Akhir dari Amal Hari Kiamat bukan sekadar peristiwa kosmis, tetapi juga puncak keadilan eksistensial. Di sana, manusia tidak lagi dapat berargumen, menyesal, atau mengubah nasibnya. Ia hanyalah tamu di hadapan hidangan yang telah ia siapkan sendiri sepanjang hidupnya.   

Baca Yang lain

Argumen Logis tentang Hari Kebangkitan dan Kehidupan Pasca-Kematian (2)

Argumen Logis tentang Hari Kebangkitan dan Kehidupan Pasca-Kematian (2) Dari sinilah timbul pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya faktor alami yang menjaga kesatuan tubuh makhluk hidup sepanjang perubahan yang terjadi?  

Baca Yang lain

Argumen Logis tentang Hari Kebangkitan dan Kehidupan Pasca-Kematian (1)

Argumen Logis tentang Hari Kebangkitan dan Kehidupan Pasca-Kematian (1) Dari sinilah timbul pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya faktor alami yang menjaga kesatuan tubuh makhluk hidup sepanjang perubahan yang terjadi?  

Baca Yang lain

Ihwal Ruh dalam Wujud Manusia

Ihwal Ruh dalam Wujud Manusia Hubungan antara ruh dan raga bukanlah seperti hubungan dua zat kimia yang bersatu lalu hilang saat dipisahkan. Air terbentuk dari hidrogen dan oksigen, dan jika salah satunya hilang, wujud air pun hilang. Tetapi ruh dan tubuh tidak demikian. Ruh bukan bagian dari tubuh. Ruh adalah hakikat, sementara tubuh adalah wadah sementara.  

Baca Yang lain

Tingkatan Jiwa menurut Pandangan Filsuf

Tingkatan Jiwa menurut Pandangan Filsuf Para filsuf Islam, seperti al-Farabi, Ibn Sina, dan kemudian dimatangkan oleh Mulla Sadra, juga menyusun hierarki perkembangan jiwa. Mereka menjelaskan dinamika jiwa dalam kerangka epistemologis dan ontologis yang sistematis.   

Baca Yang lain

Tingkatan Jiwa menurut Pandangan Arif

 Tingkatan Jiwa menurut Pandangan Arif Para arif menguraikan perjalanan jiwa dalam kerangka lathaif sab‘ah (tujuh lapisan halus jiwa). Konsep ini sering diungkapkan dalam literatur tasawuf, misalnya oleh Jami yang memuji ‘Attar Nisyaburi dengan ungkapan: “‘Attar telah melintasi tujuh kota cinta, sementara kita masih terjebak di satu lorong.”   

Baca Yang lain

Tingkatan Jiwa

Tingkatan Jiwa Walhasil, baik dalam irfan maupun filsafat Islam, jiwa dipahami sebagai entitas yang memiliki dinamika bertingkat. Titik awal perjalanan selalu dimulai dari kondisi potensial yang masih terikat pada dimensi material, dan berakhir pada kondisi transenden di mana jiwa fana dalam Tuhan.   

Baca Yang lain