Ma'ad
Manusia dan Hidangan Amal
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Ungkapan bahwa “manusia hanya duduk di sisi hidangan yang tersaji dari akidah, akhlak, dan amalnya sendiri” memiliki makna simbolis yang sangat dalam. Akidah, akhlak, dan amal bukan sekadar kategori moral atau teologis; ketiganya merupakan substansi eksistensial yang akan mengambil bentuk konkret di akhirat.
Akhir dari Amal
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Hari Kiamat bukan sekadar peristiwa kosmis, tetapi juga puncak keadilan eksistensial. Di sana, manusia tidak lagi dapat berargumen, menyesal, atau mengubah nasibnya. Ia hanyalah tamu di hadapan hidangan yang telah ia siapkan sendiri sepanjang hidupnya.
Argumen Logis tentang Hari Kebangkitan dan Kehidupan Pasca-Kematian (2)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Dari sinilah timbul pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya faktor alami yang menjaga kesatuan tubuh makhluk hidup sepanjang perubahan yang terjadi?
Argumen Logis tentang Hari Kebangkitan dan Kehidupan Pasca-Kematian (1)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Dari sinilah timbul pertanyaan yang lebih mendasar: apa sebenarnya faktor alami yang menjaga kesatuan tubuh makhluk hidup sepanjang perubahan yang terjadi?
Ihwal Ruh dalam Wujud Manusia
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- safinahonline
Hubungan antara ruh dan raga bukanlah seperti hubungan dua zat kimia yang bersatu lalu hilang saat dipisahkan. Air terbentuk dari hidrogen dan oksigen, dan jika salah satunya hilang, wujud air pun hilang. Tetapi ruh dan tubuh tidak demikian. Ruh bukan bagian dari tubuh. Ruh adalah hakikat, sementara tubuh adalah wadah sementara.
Tingkatan Jiwa menurut Pandangan Filsuf
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Para filsuf Islam, seperti al-Farabi, Ibn Sina, dan kemudian dimatangkan oleh Mulla Sadra, juga menyusun hierarki perkembangan jiwa. Mereka menjelaskan dinamika jiwa dalam kerangka epistemologis dan ontologis yang sistematis.
Tingkatan Jiwa menurut Pandangan Arif
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Para arif menguraikan perjalanan jiwa dalam kerangka lathaif sab‘ah (tujuh lapisan halus jiwa). Konsep ini sering diungkapkan dalam literatur tasawuf, misalnya oleh Jami yang memuji ‘Attar Nisyaburi dengan ungkapan: “‘Attar telah melintasi tujuh kota cinta, sementara kita masih terjebak di satu lorong.”
Tingkatan Jiwa
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Mohammad Adlany Ph. D.
Walhasil, baik dalam irfan maupun filsafat Islam, jiwa dipahami sebagai entitas yang memiliki dinamika bertingkat. Titik awal perjalanan selalu dimulai dari kondisi potensial yang masih terikat pada dimensi material, dan berakhir pada kondisi transenden di mana jiwa fana dalam Tuhan.
Bisakah Takdir Kematian Diubah? Rahasia Ajal Hatmi dan Ajal Ghayr Hatmi dalam Pandangan Imam Ali as (2)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- ikmalonline
Konsep ajal ghayr hatmi memberikan harapan dan makna yang mendalam dalam kehidupan manusia. Ia mengajarkan bahwa takdir bukanlah sesuatu yang kaku dan tanpa ruang gerak. Islam tidak memandang manusia sebagai makhluk pasif yang hanya menunggu nasib, tetapi sebagai hamba yang memiliki peran aktif dalam menentukan arah hidupnya melalui amal saleh, doa, dan kebajikan.
Bisakah Takdir Kematian Diubah? Rahasia Ajal Hatmi dan Ajal Ghayr Hatmi dalam Pandangan Imam Ali as (1)
- Dipublikasi pada
-
- Sumber:
- ikmalonline
Dalam keseluruhan pandangan Imam Ali as, konsep ajal hatmi dan ajal ghayr hatmi bukan hanya menjelaskan perbedaan antara dua jenis takdir, tetapi juga menunjukkan bahwa rahmat Allah meliputi setiap aspek kehidupan manusia. Allah memberikan ruang bagi manusia untuk memperbaiki dirinya, menunda azab melalui tobat, dan memperpanjang keberkahannya melalui amal saleh. Namun, ketika ajal hatmi tiba, maka seluruh kesempatan itu berakhir, dan manusia akan berpindah ke alam berikutnya sesuai dengan apa yang telah ia tanam.
Menghidupkan Jiwa dengan Mengingat Mati (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Mukḥsin Qara’ati
Orang yang sadar akan kematian tidak menunda amal kebajikan, karena ia tahu ajal bisa datang kapan saja. Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Barangsiapa melihat mati di hadapannya, ia tidak akan pernah lalai dari tugasnya, karena ia tahu kematian dapat menjemputnya dalam setiap gerak.” (Biharul Anwar, jilid VI, hlm. 135).
Menghidupkan Jiwa dengan Mengingat Mati (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Mukḥsin Qara’ati
Mengingat kematian bukanlah ajakan untuk berputus asa dari kehidupan, melainkan panggilan untuk hidup dengan kesadaran yang lebih dalam. Dalam pandangan Islam, khususnya sebagaimana diajarkan oleh Ahlulbait Nabi saw, kesadaran akan mati dan Hari Kebangkitan adalah sumber moralitas, keteguhan hati, dan kejernihan batin.
Akibat Mengingkari Hari Kebangkitan (3)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Mukḥsin Qara’ati
Al-Qur’an menegaskan:
“Mereka berkata: ‘Siapakah yang akan menghidupkan kami kembali?’ Katakanlah: ‘Yang telah menciptakan kamu pada kali pertama.’ Lalu mereka menggelengkan kepala dan berkata: ‘Kapankah itu terjadi?’ Katakanlah: ‘Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat.’”
(QS. Al-Isra [17]: 51)
Akibat Mengingkari Hari Kebangkitan(2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Mukḥsin Qara’ati
Pengingkaran terhadap Hari Kebangkitan juga bersumber dari lemahnya keyakinan terhadap kekuasaan dan ilmu Allah. Mereka menganggap mustahil bahwa manusia yang telah mati akan hidup kembali. Bagi mereka, kematian adalah akhir dari segalanya — sebuah kehancuran total.
Akibat Mengingkari Hari Kebangkitan (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Ayatullah Mukḥsin Qara’ati
Iman kepada kebangkitan menegakkan keseimbangan semesta. Ia membuat manusia sadar bahwa setiap tindakan — sekecil apa pun — memiliki akibat. Ia mengajarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah ladang tempat menanam benih amal untuk dituai di hari perhitungan.
Menyingkap Dua Wajah Kematian (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sayid Mujtaba Musawi Lari
Kematian tidak bisa dihindari, tapi cara kita menyambutnya bisa dipilih. Kita bisa menyambutnya dengan ketakutan, atau dengan ketenangan. Kita bisa menyambutnya dengan tangis, atau dengan senyuman.
Menyingkap Dua Wajah Kematian (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Sayid Mujtaba Musawi Lari
Sebagaimana yang difirmankan dalam al-Qur’an:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27–30)
Jika Pria Mendapatkan Bidadari, Wanita Mendapat Apa? (2)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Euis Daryati, LC.MA
Dari beberapa jawaban tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa perempuan penghuni surga selain akan mendapatkan balasan harta dan perhiasan, berbagai kenikmatan surgawi, juga akan mendapatkan pasangan surgawi jika suaminya bukan penghuni surga. (Wallahua’lam)
Jika Pria Mendapatkan Bidadari, Wanita Mendapat Apa? (1)
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Euis Daryati, LC.MA
Cukup viral salah satu ceramah seorang Ning tentang balasan laki-laki mukmin di surga dan balasan perempuan mukminah setelah dikomentari seorang pegiat media sosial. Sebagian orang ketika mendengar tentang bidadari di surga, atau mungkin karena jengahnya sering mendengar alasan seseorang misalnya melakukan bom bunuh diri agar mati syahid yang akan disambut oleh 72 bidadari di surga.
Nasib Anak-anak Mukmin dan Kafir di Alam Barzakh Alam Barzak
- Dipublikasi pada
-
- pengarang:
- Abu Syirin Al Hasan
Para ulama menegaskan bahwa anugerah ini diberikan kepada anak-anak musyrik dan kafir yang wafat sebelum baligh, mereka bahagia dengan derajat mulia sebagai pelayan para ahli surga.
(Sar Newesyt Insan, Ayatullah Ali, Hal.168)

