Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Memperbaiki Pola Asuh yang Salah ( Part 1)

1 Pendapat 05.0 / 5

Belum lama ini, viral dua kasus kekerasan yang dilakukan oleh remaja. Pertama, kasus pelajar menendang nenek di Tapanuli Selatan dan yang kedua, siswa tendang siswi di Nganjuk, Jawa Timur (Jatim). Rita Pranawati, Wakil Ketua KPAI menyampaikan bahwa kasus kekerasan yang terjadi disebabkan oleh permasalahan yang kompleks dan salah satu faktor penyebabnya adalah pola asuh.

Pola asuh dalam keluarga adalah salah satu aspek penting yang mempengaruhi  perkembangan dan perilaku anak. Pembentukan perilaku yang baik akan menghasilkan output yang baik seperti kepribadian, kecerdasan dan keterampilan pada anak. Sedangkan pola asuh yang salah dapat memberikan dampak yang kurang baik pada anak, anak mengalami keterlambatan secara psikis untuk dapat berfikir secara dewasa, ketakutan berlebihan dalam mengambil sebuah keputusan, mudah emosi terhadap suatu hal, kurang tenang dalam menghadapi apapun, serta kerap sering takut dalam mencoba hal baru yang lebih menantang, kesulitan dalam bersosialisasi bahkan dapat mengganggu perkembangan fisiknya.

Staedler (2010) melaporkan hasil penelitian bahwa ada hubungan signifikan antara pola asuh orang tua dengan kesehatan mental remaja. Hasil penelitian ini diperkuat dengan studi yang melaporkan bahwa terdapat korelasi serta dampak antara pola asuh orang tua dengan perkembangan mental anak di usia remaja (Alma Amarthatia Azzahra et al, 2021). Lalu bagaimana jika kita sebagai orang tua yang terlanjur menerapkan pola asuh yang salah? Apakah pola asuh itu dapat kita perbaiki? Bagaimana caranya?

Ayah dan Bunda sebelum kita membahas lebih jauh alangkah baiknya jika kita awali dulu dengan pengertian dan penjelasan tentang pola asuh orang tua.

Pengertian Pola Asuh

Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan, minum dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih sayang dan lain-lain), serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya (Latifah, 2011). Dengan kata lain, pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan karakter anak. Jadi gaya yang diperankan orang tua dalam mengembangkan karakter anak sangat penting, apakah polanya otoriter, demokratis atau permisif.

Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pola Asuh Orang Tua Terhadap Anak

 Kualitas pola asuh orang tua sangat bervariasi dalam mempengaruhi sikap dan mengarahkan perilaku anak. Menurut Maccoby & Macloby ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua yaitu:

    Faktor sosial ekonomi

Lingkungan sosial berkaitan dengan pola hubungan sosial atau pergaulan yang dibentuk oleh orang tua maupun anak dengan lingkungan sekitarnya. Anak dari orang tua yang sosial ekonominya rendah, cenderung tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau bahkan tidak pernah mengenal bangku pendidikan sama sekali karena terkendala faktor ekonomi.

     2. Pendidikan

Latar belakang pendidikan orang tua dapat mempengaruhi pola pikir orang tua baik formal maupun non formal yang akan berpengaruh pada aspirasi atau harapan orang tuanya kepada anaknya.

     3. Nilai agama yang dianut orang tuanya

Nilai-nilai agama juga menjadi hal penting yang ditanamkan orang tua kepada anak dalam pengasuhan yang mereka lakukan sehingga lembaga keagamaan juga turut berperan di dalamnya.

     4. Kepribadian

Dalam mengasuh anak, orang tua tidak hanya mengkomunikasikan fakta, gagasan dan pengetahuan saja, melainkan membantu menumbuh kembangkan kepribadian anak.

     5. Jumlah pemilikan anak

Semakin banyak jumlah anak dalam keluarga, akan ada kecenderungan orangtua tidak begitu menerapkan pola pengasuhan secara maksimal.

Dimensi Pola Asuh

Menurut Baumrind (Maccoby, 1980) pola asuh terdiri dari 2 dimensi yaitu dimensi kontrol dan dimensi kehangatan. Pada dimensi kontrol orang tua berharap dan menuntut kematangan serta perilaku yang bertanggung jawab.

1. Dimensi Kontrol

Ada 5 aspek dalam dimensi kontrol yaitu:

    Pembatasan (Restrictiveness)

“Sudah duduk diam saja disini” atau “Jangan pegang tangan ayah dulu”. Ini adalah contoh orang tua yang memberikan batasan terhadap tingkah laku atau kegiatan anak tanpa di sertai penjelasan mengenai apa yang boleh di lakukan dan apa yang tidak boleh di lakukan, sehingga anak dapat menilainya sebagai penolakan orang tua atau pencerminan bahwa orang tua tidak mencintainya.

    Tuntutan (Demandingeness)

Adanya tuntutan berarti orang tua mengharapkan dan berusaha agar anak dapat memenuhi standar tingkah laku, sikap dan tanggung jawab sosial yang tinggi atau yang telah di tetapkan. Contohnya; “Mama ingin kamu jadi ranking 1 semester depan”, “Kamu harus menang di lomba nanti”.

    Sikap Ketat (Strictness)

Orang tua tidak menginginkan anaknya membantah atau tidak menghendaki keberatan yang di ajukan anak terhadap peraturan yang telah di tentukan. Contoh : Jangan bantah kata-kata Ayah!

    Campur Tangan (Intrusiveness)

Orang tua yang selalu turut campur dalam kegiatan anak akan menyebabkan anak kurang mempunyai kesempatan untuk mengembangkan diri sehingga anak memiliki perasaan dirinya tidak berdaya,menjadi apatis, pasif, kurang inisiatif, kurang termotivasi, bahkan mungkin dapat timbul perasaan depresif.

    Kekuasaan yang Sewenang-wenang (Arbitrary exercise of power)

Orang tua ini memiliki kontrol yang tinggi dalam menegakkan aturan dan batasan. Anak akan diberikan hukuman jika tingkah lakunya tidak sesuai dengan yang di harapkan. Hukuman yang di berikan juga tanpa di sertai dengan penjelasan mengenai letak kesalahan. Hal ini dapat mengakibatkan anak lemah dalam melakukan hubungan yang positif dengan teman sebayanya, kurang mandiri dan menarik diri.

2. Dimensi Kehangatan

Dimensi kehangatan memiliki beberapa aspek yang berperan diantaranya:

    Perhatian orang tua terhadap kesejahteraan anak.
    Responsivitas orang tua terhadap kebutuhan anak
    Meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan bersama dengan anak
    Menunjukkan rasa antusias pada tingkah laku yang di tampilkan anak
    Peka terhadap kebutuhan emosional anak

BERSAMBUNG…….