Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Mengaburkan Makna Hadits Al-Ghadir

0 Pendapat 00.0 / 5

Muhammad Ibnu Jarir At-Thobari seorang mufassir dan penulis sejarah yang hidup di abad ketiga Hijriyah dan buku-bukunya dijadikan banyak rujukan oleh kaum muslimin. Ketika beliau ingin mengumpulkan jalur riwayat tentang hadist Al-Ghadir beliau menulis dua jilid buku tebal, hanya untuk membuktikan kesahihan hadist Al-Ghadir.

Dan sejarah menceritakan kepada kita bahwa ketika Ad-Dzahabiy (seorang peneliti hadist) mempelajari kitab yang dikarang oleh At-Thobary tersebut beliau terkagum-kagum karena banyaknya jalur dan riwayat yang menceritakan tentang hadist Al-Ghadir tersebut..

Ketika Al-Amini ingin mengarang tentang yang berhubungan dengan ensiklopedia Al-Ghadir, beliau membutuhkan waktu lima puluh tahun untuk menyelesaikannya dan banyak lagi dari karangan dan penelitian ulama lainnya yang jumlahnya ribuan bahkan puluhan ribu yang membahas tentang Al-Ghadir.

Itu semua karena betapa pentingnya masalah ini yang harus diketahui oleh seluruh kaum muslimin, karena sebab masalah ini kaum muslimin terpecah belah, saling membenci bahkan saling bunuh membunuh diantara mereka. Memang pembahasan ini menyangkut hal yang sangat sensitif, rentan dan dapat membuat orang emosi, hal itu bisa terjadi disebabkan kesalah pahaman tentang memahaminya

Al-Ghadir menjadi sangat penting karena membicarakan suksesi, kepemimpinan, khilafah dan imamah sepeningal Rasulullah SAW. Dengan Al-Ghadir konsep Imamah atau kepemimpinan menjadi landasan argumentasi yang kuat..

Jika kita menelaah hadist Al-Ghadir maka kita akan menemukan banyaknya yang meriwayatkan hadist ini, tentu hadist ini hadist mutawatir karena banyaknya yang meriwayatkan bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa hadist ini diatas mutawatir, oleh sebab itu tentu wajib untuk diketahui dan diamalkan.

Namun banyak dari kaum muslimin tidak terlalu memperdulikan dan berusaha untuk mengaburkan bahkan menolaknya dengan berbagai cara, padahal tidak ada satu ulama pun yang mendhoifkan hadist Al-Ghadir ini. Mereka menggunakan banyak cara untuk melemahkannya.
Diantaranya ada tiga cara dalam pengaburan maknanya

*Yang pertama*
Dengan cara memisahkan hadist Al-Ghadir dari khutbah Nabi Muhammad SAW. Seperti hadist yang diriwayatkan oleh Muslim. bahwa Nabi berdiri dan bersabda _”Man kuntu mawlah fa Aliyun mawlah”_ ( Barangsiapa aku sebagai mawlanya maka Ali sebagai mawlanya).Tanpa menjelaskan dari awal hadits, bahwa Nabi mengumpulkan para sahabatnya sebanyak mungkin di siang hari lalu berkhutbah panjang lebar, malah sebagian ulama berpendapat bahwa khutbah di Al-Ghadir adalah khutbah terpanjang Nabi SAW.

*Yang kedua*
Adalah mengaitkan hadist Al-Ghadir dengan kejadian yang berbeda.
Seperti kejadian sirriyah yang dipimpin Ali ke Yaman. Ketika itu Rasulullah SAW mengutus Ali ke Yaman bersama para sahabat antara lain Buraidah dan Khalid. Mereka ingin mengambil gonimah dan membagikannya sebelum datang ke Madinah tapi Ali menolak, mereka ingin memakai onta, Ali pun menolaknya.

sepulangnya dari Yaman dan bertemu Nabi mereka mengadukan Ali ke Nabi SAW, Nabi bertanya kepada Buraidah apakah engkau membencinya? Buraidah menjawab iyah lalu Nabi bersabda “Man kuntu mawlah fa Aliyun mawlah”. (Barangsiapa yang mencintaiku berarti dia mencintai Ali)

Jadi seakan hadist Al-Ghadir tidak ada hubungannya dengan kepemimpinan setelah Rasulullah, karena Buraidah membenci Ali maka Nabi pun menegaskan siapa yang membenci Ali berarti membenciku.

*Yang ketiga*
Dengan cara memanipulasi makna mawla.
Mereka mengartikan mawla dengan arti selain kepemimpinan, dengan mengartikan cinta,,penolong, tuan hamba sahaya dan lain sebagainya, bahkan memburamkan makna kepemimpinan, hal ini sampai ada di buku-buku kamus bahkan jumlah maknanya sampai lebih dari tiga puluh tujuh makna, padahal sesungguhnya makna mawla hanya satu yaitu kepemimpinan.

Tapi walaupun demikian Nabi dalam hadist Al-Ghadir bersabda “Ayyuhan nas alastu awla bilmu’minin min anfusihim?” (Bukankah aku sebagai pemimpin kaum mu’minin lebih dari diri mereka) para sahabat menjawab iyah..
Rasulullah melanjujtkan “Man kuntu mawlah fa Aliyun mawlah” (Barangsiapa yang menjadikan diriku sebagai pemimpinnya maka Ali pemimpinnya).

Dengan demikian bahwa kepemimpinan sepeninggal Rasulullah dilanjutkan oleh Ali bin Abitalib dan otomatis bahwa yang tidak mengakui kepemimpinan Ali berarti tidak mengakui kepemimpinan Rasulullah SAW.

Mudah mudahan Allah SWT menggolongkan kita termasuk orang orang yang berpegang teguh dengan sabda Nabi SAW dengan berwilaya kepada Amirul Mu’minin Ali bin Abitalib.

الحمد لله الذي جعلنا من المتمسكين بولاية أمير المؤمنين علي بن أبي طالب عليه السلام

Semoga bermanfaat.