Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Keagungan Akhlak Imam Hasan as(1)

0 Pendapat 00.0 / 5

Imam Hasan as lahir pada tanggal 15 Ramadhan. Secara fisik beliau orang yang sangat mirip dengan Rasulullah Saw. Kita tidak meragukan keagungan akhlak beliau yang diwariskan dari Kakeknya, Rasulullah Saw dan kedua orangtuanya, Imam Hasan as dan Sayidah Fathimah as. Berikut ini di antara contoh keagungan akhlak beliau;

Prilaku Buruk Seorang Kakek dari Syam

Suatu hari di Madinah, tampak seorang kakek tengah marah-marah. Ia terus menggerutu, dan wajahnya cemberut. Ia seorang pendatang yang berasal dari kota Syam.

Kakek itu melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan, dari kejauhan ia melihat Imam Hasan as dan mengenalinya. Seketik wajahnya langsung berubah merah marah.

Ia pun berjalan menghampiri Imam Hasan as.

“Hai putra Ali, kebetulan sekali kutemukan kamu di sini,” teriaknya. Ia tak henti-hentinya berteriak dan berkata kasar pada Imam Hasan. Namun, Imam Hasan tidak mengindahkannya dan terus berjalan.

Kakek itu langsung naik kuda dan memegang pelana. Ia mengejar Imam Hasan as dengan menunggangi kuda sambil bersungut-sungut. Imam Hasan as hanya menundukkan kepala dan tak berkata apapun. Sementara itu, orang-orang di sekitar beliau marah menyaksikan hal itu. Mereka berniat menghukum kakek itu, tapi Imam Hasan as mencegahnya.

Kakek itu pun tak henti-hentinya berkata kasar hingga mulutnya berbuih. Kedua tangannya gemetar karena menahan emosi.

Tak lama kemudian, Imam Hasan as berhenti berjalan. Beliau menatap tajam kakek itu. Tampak kakek itu ketakutan melihat tatapannya. Ia mengira Imam Hasan as akan membalas semua perilaku buruknya.

“Aku sangat membencimu dan ayahmu. Kalian semua pembohong. Kalian tidak suka menolong orang lain. Kalian tidak mengasihi orang-orang fakir dan miskin,” ucapnya lagi kasar.

Imam Hasan as diam bersabar dan tidak membalas perlakuan buruk kakek itu.

“Betapa sabarnya orang ini! Aku telah berkata kasar dan tidak sopan padanya, namun ia diam saja dan tidak memarahiku,” guman kakek itu.

Imam Hasan as memandangnya lembut dan berkata, “Kek, sepertinya engkau bukan penduduk asli sini. Engkau salah sangka tentangku, tapi aku telah memaafkanmu. Jika engkau perlu sesuatu, aku siap membantumu.”

Kakek itu terperangah kaget. Ia kagum atas perlakuan Imam Hasan as padanya. Imam Hasan as telah memperlakukannya dengan baik, padahal ia telah berlaku buruk padanya. Kemudian Imam Hasan as berjalan menghampiri kakek itu.

“Jika engkau mencari alamat, Aku akan membantumu. Bila engkau lapar, Aku akan memberimu makan. Bila engkau perlu pakaian, Aku akan memberimu pakaian. Dan, bila engkau tidak punya tempat tinggal, silahkan tinggal di rumahku,” ucap Imam Hasan as lembut.

Sejenak kakek itu menundukkan kepalanya. Ia tak berani mengangkat kepala  karena malu atas perbuatannya.

“Silahkan mampir ke rumahku. Aku akan menjamumu. Selama engkau berada di Madinah, engkau adalah tamuku,”  ucap Imam Hasan as.

Kakek itu diam seribu bahasa. Ia tak berani bicara lagi. Ternyata selama ini ia telah buruk terhadap Imam Hasan, padahal beliau sangat baik hati dan berakhlak mulia. Imam Hasan as menggandeng tangan kakek itu. Mereka berdua berjalan pulang menuju rumah Imam Hasan as.

Di tengah perjalanan, kakek itu memberanikan diri untuk bicara dengan Imam Hasan as.

“Maafkan Aku, wahai putra Ali? Aku telah berlaku buruk padamu. Aku juga telah berburuk sangka padamu. Aku mendengar sangat buruk tentang ayahmu dan engkau. Aku kira kalian seperti yang kudengar di Syam. Ternyata kalian sangat baik hati dan berakhlak mulia,” ucapnya lirih sembari terus menundukkan kepalanya.

Bersambung...