Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

"PERSETAN DENGAN MATI!"

0 Pendapat 00.0 / 5

Dalam kalender para pecinta All-Husain hari ke4 Muharam diinamakan "Hari Ali Akbar". Semua tema ceramah dan syair serta narasi pada malam itu terfokus kepada sosok agung ini sebagai ikon keladanan bagi generasi muda yang memilih "Jalan Kesucian".

Ali Al-Akbar (Ali Putra Sulung) bernama Ali bin Hussein bin Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muttalib bin Hashym dan ibunya bernama Leyla binti Abi Murrah.

Sebagaimana Imam Hasan, Imam Husain menyematkan nama Ali pada tiga puteranya dengan Ali, yaitu Ali Akbar (Ali Sulung), Ali Awsath (Zainal Abidin) dan Ali Asghar ( Ali sang bungsu), bayi yang gugur sebagai syahid terkecil.  Hal ini dilakukan demi mengabadikan ayahnya.

Salah satu ciri khasnya adalah penampilan fisiknya yang mirip Nabi Muhammad, kakek ayahnya. Disebutkan bahwa bila merasa rindu kepada kakeknya, Imam Husain mencium dan mendekap Ali Akbar

Jelang babak akhir tragedi Karbala, Al-Husain tampak terhenyak lesu menyaksikan satu demi satu pengikutnya berguguran merengkuh syahadah. Ali Akbar menghampirinya.

"Ayah, bukankah kita pihak yang benar?" tanyanya.

"Tentu, puteraku," jawab Al-Husain tegas.

"Kalau begitu, persetan dengan mati!"

Ketika pasukan Yazid menyerang pasukan Imam Husain, Ali Akbar meminta izin kepada ayahnya untuk turun ke medan perang. Imam Husain dengan berat hati mengizinkannya, namun ia merasa sangat sedih karena Ali Akbar adalah sosok yang sangat dicintainya.

Ali Akbar memperlihatkan keberanian dan keteguhan dalam pertempuran. Ia berhasil membunuh sejumlah prajurit musuh sebelum akhirnya terluka parah oleh panah yang menembus dadanya.

Ketika Ali Akbar terluka dan terjatuh, ia memanggil ayahnya. Imam Husain segera berlari ke tempat putranya tersebut sambil mengucapkan kata-kata perpisahan yang sangat menyentuh hati.

Ali Akbar akhirnya gugur sebagai syahid di pangkuan ayahnya. Gugurnya Ali Akbar menimbulkan duka yang mendalam bagi Imam Husain dan seluruh pasukan.

Kisah kesyahidan Ali Akbar menjadi satu dari banyak momen epik dalam Karbala yang sangat mengharukan dan memberikan pelajaran tentang kepatuhan, pengorbanan, kesetiaan, dan keberanian dalam menghadapi kesulitan. Keberanian dan kesetiaan Ali Akbar di medan perang Karbala merupakan contoh teladan bagi kaum muda umat pecinta Al-Husain.

"Idzan la nubali bil maut" ("Kalau begitu, persetan dengan mati") mengabadi dan terus membahana dalam relung jiwa setiap pemuda pengikut Ahlulbait..