Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Keluarga & Masyarakat

Ujian di Lingkaran Terdekat: Membaca Makna “Musuh” dalam Surah At-Taghabun (2)

Ujian di Lingkaran Terdekat: Membaca Makna “Musuh” dalam Surah At-Taghabun (2)

Dalam tafsir tersebut digunakan istilah “sebagian”. Yang diperingatkan bukan identitas keluarga, melainkan potensi relasi menjadi penghalang ketika orientasi hidup bergeser. 

Baca Yang lain

Ujian di Lingkaran Terdekat: Membaca Makna “Musuh” dalam Surah At-Taghabun (1)

Ujian di Lingkaran Terdekat: Membaca Makna “Musuh” dalam Surah At-Taghabun (1) “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” (QS. At-Taghabun: 14)  

Baca Yang lain

Ujian di Lingkaran Terdekat: Membaca Makna “Musuh” dalam Surah At-Taghabun

Ujian di Lingkaran Terdekat: Membaca Makna “Musuh” dalam Surah At-Taghabun Seorang profesional mengetahui laporan keuangan perusahaannya dimanipulasi. Angka-angka laporan dipoles agar terlihat sehat di mata investor. Jika dia bersuara, kariernya akan terancam. Jika memilih diam, integritasnya akan runtuh.  

Baca Yang lain

Pentingnya Ilmu dan Hikmah (2)

Pentingnya Ilmu dan Hikmah (2) Setiap orang, selama hidupnya, harus menempuh jalan kepatuhan. Ilmu adalah pemimpin, sedangkan harta hanyalah yang dipimpin.”  

Baca Yang lain

Pentingnya Ilmu dan Hikmah (1)

Pentingnya Ilmu dan Hikmah (1) Dalam perjalanan sejarah peradaban, ilmu dan hikmah senantiasa menjadi fondasi utama yang mengantarkan umat manusia menuju kemajuan dan kebesaran. Dalam pandangan Islam, ilmu bukanlah tumpukan informasi atau kecakapan intelektual, melainkan cahaya yang menerangi hati, membimbing akal, dan menuntun langkah menuju kesempurnaan insani.  

Baca Yang lain

Ilmu: Jalan Kesadaran dan Pengabdian

Ilmu: Jalan Kesadaran dan Pengabdian Ilmu yang sejati tidak berdiri sendiri; ia berpijak pada akhlak, disinari oleh hikmah, dan diarahkan untuk kebaikan bersama. Ia melahirkan ketulusan dalam memahami dan keberpihakan terhadap kemanusiaan.

Baca Yang lain

Wasiat yang Menjadi Jalan Keselamatan

Wasiat yang Menjadi Jalan Keselamatan Wasiat-wasiat Rasulullah saw kepada Abu Dzar dan Salman bukan sekadar nasihat personal. Ia adalah manifesto perlawanan terhadap dunia yang menipu, terhadap ilmu tanpa amal, terhadap kekuasaan tanpa keadilan, dan terhadap ibadah tanpa kesadaran.  

Baca Yang lain

Kebenaran Itu Berat

Kebenaran Itu Berat “Kebenaran itu berat dan pahit, sedangkan kebatilan itu ringan dan manis.” Pesan ini adalah cermin zaman. Kebatilan sering dibungkus indah dan mudah diterima. Kebenaran sering sepi dan menyakitkan.  

Baca Yang lain

Muhasabah dan Rasa Malu kepada Allah

Muhasabah dan Rasa Malu kepada Allah “Hisablah dirimu sebelum engkau dihisab,” sabda beliau. Muhasabah adalah revolusi batin yang melahirkan masyarakat adil. Tanpa evaluasi diri, manusia mudah terjerumus dalam kemunafikan.  

Baca Yang lain

Zuhud dan Perlawanan terhadap Dunia

Zuhud dan Perlawanan terhadap Dunia Rasulullah saw menegaskan bahwa cinta harta dan kedudukan lebih cepat menghancurkan agama daripada serigala yang menerkam kambing. Dunia terkutuk kecuali yang digunakan untuk mencari ridha Allah.  

Baca Yang lain

Ilmu dan Tanggung Jawab Moral

Ilmu dan Tanggung Jawab Moral Rasulullah saw memperingatkan tentang bahaya ilmu tanpa amal. Orang yang mengajarkan kebaikan tetapi tidak mengamalkannya akan menjadi penghuni neraka, meskipun ilmunya menjadi sebab orang lain masuk surga. Ilmu bukan alat pencitraan, bukan sarana mencari pengaruh dan kekaguman.  

Baca Yang lain

Ramadan: Bulan Kesempatan, Pembersihan Jiwa, dan Kelahiran Spiritual Baru

Ramadan: Bulan Kesempatan, Pembersihan Jiwa, dan Kelahiran Spiritual Baru Dalam tradisi Islam—terutama dalam pandangan Ahlulbait (as)—bulan Ramadan bukan hanya fenomena kalender yang datang setiap tahun, tetapi suatu fase spiritual yang agung; sebuah kesempatan untuk mengubah diri secara menyeluruh — dari keadaan biasa menuju kehidupan yang lebih sadar, murni, dan berorientasi Ilahi.

Baca Yang lain

Tujuh Wasiat Pokok: Fondasi Jiwa yang Merdeka(2)

Tujuh Wasiat Pokok: Fondasi Jiwa yang Merdeka(2) Kelima, tidak takut pada celaan orang yang mencela di jalan Allah. Seorang pejuang kebenaran tak boleh tunduk pada opini publik yang dimanipulasi.  

Baca Yang lain

Idul Fitri: Syukur dan Kelanjutan Perjalanan Spiritualitas

Idul Fitri: Syukur dan Kelanjutan Perjalanan Spiritualitas Ramadan diakhiri dengan Idul Fitri — bukan hanya sebagai hari raya perayaan, tetapi sebagai hari syukur kepada Allah karena telah diberikan kesempatan beribadah dan berkembang secara spiritual.  

Baca Yang lain

Ramadhan dan Kebaikan Sosial

Ramadhan dan Kebaikan Sosial Ramadan juga bukan hanya urusan batin semata. Ayatullah Khamenei menekankan bahwa bulan ini hendaknya meningkatkan hubungan sosial: meningkatkan kepedulian kepada sesama, memperluas kasih sayang kepada keluarga, tetangga, dan bahkan kepada mereka yang miskin dan lemah.  

Baca Yang lain

Sahur — Waktu yang Tidak Boleh Dilewatkan

Sahur — Waktu yang Tidak Boleh Dilewatkan Ayatullah Khamenei pernah mengingatkan bahwa saat sahur dan waktu fajar adalah waktu yang sangat istimewa dalam Ramadan. Dalam kesibukan dunia modern, waktu fajar sering dilupakan dan dianggap “belum penting”. Namun beliau menegaskan bahwa fajar adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah ketika dunia tengah dalam kesunyian spiritual.  

Baca Yang lain

Laylat al-Qadr: Titik Balik dalam Tahun Spiritual

Laylat al-Qadr: Titik Balik dalam Tahun Spiritual Salah satu puncak Ramadan adalah Laylat al-Qadr — malam yang lebih baik dari seribu bulan. Pada malam ini, para malaikat turun membawa catatan amal, dan takdir setahun penuh mulai digariskan.  

Baca Yang lain

Ramadan dan Penguatan Hubungan dengan Al-Qur’an

Ramadan dan Penguatan Hubungan dengan Al-Qur’an Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan. Karena itu, Ramadan adalah waktu khusus untuk memperdalam hubungan dengan ayat-ayat Ilahi ini. Ayatullah Khamenei sangat menekankan bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar memindai huruf, tetapi membaca dengan pemahaman dan kontemplasi.  

Baca Yang lain

Pertobatan dan Kembali Kepada Allah

Pertobatan dan Kembali Kepada Allah Dalam tradisi Syiah, doa-doa khusus yang dibaca saat Ramadan — seperti Dua Abu Hamza al-Thumali — mencerminkan tema besar taubat dan kembali kepada Allah. Ayatullah Khamenei menunjukkan bahwa Ramadan membuka “pintu pertobatan”, tempat di mana setiap hamba yang tersesat karena kesalahan, godaan, atau dosa mendapatkan kesempatan kembali ke pelukan Allah.

Baca Yang lain

Ramadan Sebagai Pembersih Hati dan Jiwa

Ramadan Sebagai Pembersih Hati dan Jiwa Ayatullah Khamenei menggambarkan Ramadan sebagai bulan pembersihan, seperti logam yang dimurnikan dalam api untuk menghilangkan kotoran. Dengan melakukan puasa, berzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an dan terlibat dalam berbagai amalan saleh, jiwa manusia dipisahkan dari pengaruh material dan dipersiapkan untuk menerima cahaya Ilahi.  

Baca Yang lain