Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Keluarga & Masyarakat

‘Afiyah Disebut sebagai Pakaian Terindah

‘Afiyah Disebut sebagai Pakaian Terindah

Membuat akal tetap jernih, hati tetap bersinar dan jiwa tetap lapang di tengah-tengah badai kehidupan sehingga tidak kehilangan kesadaran dan kemampuannya untuk menemukan sesuatu yang lebih tinggi dan dalam   

Baca Yang lain

Wasiat sebagai Kesadaran Akan Waktu

Wasiat sebagai Kesadaran Akan Waktu Imam Ali as menyebut dua alasan utama mengapa wasiat ini disampaikan dengan segera. Pertama, karena sang anak telah mencapai usia kesiapan intelektual dan spiritual. Kedua, karena beliau menyadari bahwa usia tua membawa keterbatasan, baik fisik maupun mental. Kesadaran ini menunjukkan bahwa Islam memandang waktu sebagai amanah yang harus dimanfaatkan sebelum ia menjadi penyesalan.  

Baca Yang lain

Musibah Diri dan Kebutuhan Akan ‘Afiyah (1)

Musibah Diri dan Kebutuhan Akan ‘Afiyah (1) Imam ‘Ali bin Abi Thalib as menasihatkan agar kita selalu memohon ‘afiyah kepada Allah, khususnya ketika menghadapi tekanan dan beratnya ujian. Beliau berkata bahwa tekanan dan beratnya ujian-ujian kehidupan itu bisa menghilangkan agama seseorang—yakni melemahkan iman dan meruntuhkan ketakwaannya—(Al-Khishal, jilid 3, halaman 177)    

Baca Yang lain

“Alhamdulillah, Aku Bersyukur, Aku Ikhlas, Aku Sehat…”; Dampak Perkataan serta Pikiran Positif dan Negatif (3)

“Alhamdulillah, Aku Bersyukur, Aku Ikhlas, Aku Sehat…”; Dampak Perkataan serta Pikiran Positif dan Negatif (3) Dalam perspektif Islam, kata-kata baik seperti istigfar, syukur, dan ikhlas memiliki hubungan yang sangat erat dengan kelapangan hati dan kelimpahan rezeki. Sebaliknya, sering mengeluh berkaitan dengan sempitnya jiwa dan terasa seretnya rezeki. Hubungan ini dapat dijelaskan dari sisi dalil, makna batin, dan dampak nyata dalam kehidupan.  

Baca Yang lain

“Alhamdulillah, Aku Bersyukur, Aku Ikhlas, Aku Sehat…”; Dampak Perkataan serta Pikiran Positif dan Negatif (2)

“Alhamdulillah, Aku Bersyukur, Aku Ikhlas, Aku Sehat…”; Dampak Perkataan serta Pikiran Positif dan Negatif (2) Hal ini juga menjelaskan mengapa kita dianjurkan untuk melakukan afirmasi diri, seperti: “aku sehat, aku bahagia, aku ikhlas, aku bersyukur, aku berlimpah”. Tubuh yang sebagian besar terdiri dari cairan akan merespons perkataan sebagaimana yang ditunjukkan dalam penelitian Masaru Emoto.

Baca Yang lain

“Alhamdulillah, Aku Bersyukur, Aku Ikhlas, Aku Sehat…”; Dampak Perkataan serta Pikiran Positif dan Negatif (1)

“Alhamdulillah, Aku Bersyukur, Aku Ikhlas, Aku Sehat…”; Dampak Perkataan serta Pikiran Positif dan Negatif (1) Alhamdulillah, terima kasih, aku bersyukur, aku ikhlas, aku sehat, aku bahagia, adalah kata-kata yang seyogianya menjadi dzikir harian. Dalam kondisi sesulit apa pun, kita tetap berusaha berkata dan berpikir positif serta tidak mudah mengeluarkan keluhan dan kata-kata negatif. Kita belajar mengambil hikmah dari setiap peristiwa. 

Baca Yang lain

Ketika Kesabaran Dipakai untuk Menutup Kezaliman (1)

Ketika Kesabaran Dipakai untuk Menutup Kezaliman (1) Sabar sejati bukan berhenti bicara, tetapi bicara dengan hikmah. Sabar sejati bukan menahan diri dari marah saja, tetapi memastikan kemarahan diarahkan untuk memperbaiki, bukan menghancurkan. Sabar sejati tidak membiarkan pemerintah berbuat sesuka hati tanpa pertanggungjawaban. Sabar sejati adalah kemampuan menjaga kejernihan hati sambil tetap memperjuangkan hak dan kebenaran.  

Baca Yang lain

Keutamaan Dan Anjuran Untuk Menikah Dan Membangun Bahtera Rumah Tangga

Keutamaan Dan Anjuran Untuk Menikah Dan Membangun Bahtera Rumah Tangga Menikahlah kalian, karena menikah adalah Sunnah/ajaran Rasulullah saw., karena sesungguhnya beliau  saw. bersabda: ‘Siapa yang mencintai Sunnahku, maka sesungguhnya termasuk dari Sunnahku adalah menikah, dan perbanyaklah anak dengan pernikahan itu.

Baca Yang lain

Lima Ciri Terbaik dari Hamba-Hamba Allah (2)

Lima Ciri Terbaik dari Hamba-Hamba Allah (2) Pertama, seseorang melakukan amal dengan niat ikhlas dan secara tersembunyi, namun bila amal itu kemudian diketahui orang lain, ia merasa senang.   

Baca Yang lain

Lima Ciri Terbaik dari Hamba-Hamba Allah (1)

Lima Ciri Terbaik dari Hamba-Hamba Allah (1) Kegembiraan seperti ini bersifat murni spiritual dan ruhani, bukan karena riya, bukan karena ‘ujub (bangga diri), melainkan karena jiwanya merasakan kedekatan dan kerelaan Ilahi setelah melakukan amal kebajikan.   

Baca Yang lain

Bagaimana Imam Ali Mendeskripsikan Dampak Rasa Iri Hati?

Bagaimana Imam Ali Mendeskripsikan Dampak Rasa Iri Hati? Di zaman ketika persaingan sosial dan ekonomi terkadang berubah menjadi rasa iri hati dan kebencian, sebuah ucapan Imam Ali as, penerus dan pengganti Nabi Muhammad Saw, berfungsi sebagai peringatan dan petunjuk yang jelas, sekaligus mengajak kita untuk mempertimbangkan kembali perilaku dan hati kita.  

Baca Yang lain

Pria yang Dianggap Terbaik oleh Nabi Muhammad SAW

Pria yang Dianggap Terbaik oleh Nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad SAW menggambarkan pria terbaik sebagai orang yang baik hati, penyayang, dan adil kepada keluarganya. Pria yang meninggalkan kekerasan dan penghinaan serta menjadikan rumah sebagai pusat kedamaian.  

Baca Yang lain

Dunia: Sarana Menuju Kebahagiaan, Bukan Tujuan Akhir

Dunia: Sarana Menuju Kebahagiaan, Bukan Tujuan Akhir Dua pandangan tersebut sejatinya tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi. Dunia akan bernilai positif jika digunakan di jalan ketaatan, ibadah, pencarian ilmu, dan pelayanan kemanusiaan. Sebaliknya, dunia menjadi sumber keburukan bila disalahgunakan untuk durhaka, keserakahan, dan kesenangan tanpa arah spiritual.   

Baca Yang lain

Dunia sebagai Sumber Tipu Daya dan Fitnah

Dunia sebagai Sumber Tipu Daya dan Fitnah Namun, di sisi lain, Al-Qur’an dan riwayat juga menggambarkan dunia dengan nada peringatan dan kehati-hatian. Dalam riwayat disebutkan bahwa dunia dapat menjadi ladang keburukan [42], dan bahwa manusia diuji dengannya sebagai bentuk fitnah [43]. Al-Qur’an bahkan menegaskan:   

Baca Yang lain

Tentang Dunia

Tentang Dunia Dengan demikian, dunia dalam pandangan Islam tidak dapat dinilai secara hitam-putih. Ia adalah ruang pengabdian bagi orang yang mengenal Allah, dan jebakan bagi mereka yang melupakannya. Dunia bukan untuk dicela, tetapi untuk dimanfaatkan secara arif dan proporsional. Ia adalah madrasah jiwa tempat manusia mengasah akalnya, memperhalus moralnya, dan mendekatkan dirinya kepada Tuhan.   

Baca Yang lain

Meraih Ridha Ilahi dan Kebahagiaan (2)

Meraih Ridha Ilahi dan Kebahagiaan (2) Al-Qur’an dan hadis menegaskan bahwa perbuatan manusia menjadi penentu utama apakah ia akan masuk surga atau neraka. Dalam surah Al-A‘raf, Allah menggambarkan keadaan penghuni surga yang penuh syukur, seraya menegaskan bahwa surga diwariskan sesuai amal yang mereka kerjakan:   

Baca Yang lain

Meraih Ridha Ilahi dan Kebahagiaan (1)

Meraih Ridha Ilahi dan Kebahagiaan (1) Walhasil, kebahagiaan sejati dalam Islam bersumber dari ridha Allah, diperoleh melalui iman, amal saleh, takwa, dan penyucian jiwa. Amal manusia adalah tolok ukur yang menentukan akhir hidupnya, bukan bintang atau takdir buta. Islam menolak determinisme kosmik dan menegaskan kebebasan serta tanggung jawab manusia.

Baca Yang lain

Persahabatan sebagai Dakwah Tanpa Kata

Persahabatan sebagai Dakwah Tanpa Kata Setiap manusia membawa wajah ajaran yang ia anut. Ketika seseorang memperlakukan sahabatnya dengan kasih, adab, dan ketulusan, ia sedang berdakwah tanpa harus berbicara. Ia sedang menunjukkan bahwa Islam bukan hanya teks yang dibaca, tetapi cahaya yang menghangatkan hati.  

Baca Yang lain

Panduan Imam Sajjad Mengenai Hak-Hak Sahabat

Panduan Imam Sajjad Mengenai Hak-Hak Sahabat Dalam Risalatul Huquq, Imam Ali Zainal Abidin as menyebutkan hak-hak seorang sahabat dengan susunan yang penuh keindahan spiritual sekaligus kedalaman moral. Beliau berkata:  

Baca Yang lain

Menjadikan Persahabatan sebagai Jalan Menuju Allah (1)

Menjadikan Persahabatan sebagai Jalan Menuju Allah (1) Dalam masyarakat yang makin individualistis, pesan Imam Sajjad as menjadi semakin relevan. Persahabatan bukan lagi hal lumrah, melainkan amanah. Menjaganya berarti menjaga keharmonisan sosial dan menyelamatkan spiritualitas diri sendiri.

Baca Yang lain