Sayyidah Fathimah as ; Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Islam (1)
Sayyidah Fathimah lahir dan hidup pada masa Jahiliyah dimana anak perempuan dianggap benda yang bisa diwariskan, aib, bahkan dibunuh hidup-hidup.
وَاِذَا بُشِّرَ اَحَدُهُمْ بِالْاُنْثٰى ظَلَّ وَجْهُهٗ مُسْوَدًّا وَّهُوَ كَظِيْمٌۚ
“Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah.“
يَتَوٰرٰى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوْۤءِ مَا بُشِّرَ بِهٖۗ اَيُمْسِكُهٗ عَلٰى هُوْنٍ اَمْ يَدُسُّهٗ فِى التُّرَابِۗ
“Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?“ (An-Nahl:58-59)
Sementara dalam tradisi Yahudi dan Nasrani perempuan dianggap penyebab dosa asal; dimana Hawa membujuk Nabi Adam as untuk memakan buah terlarang dan akhirnya terusir dari surga.
Bibel-Perjanjian Lama-Kejadian/Genesis) 3:1-13.
“Ular itu berkata kepada perempuan, ‘Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam tanaman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?’ Lalu sahut perempuan itu, ‘Tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan atau raba buah itu, nanti kamu mati.’ Ular itu berkata kepada perempuan itu, ‘Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi, waktu kamu memakannya, kamu akan menjadi seperti Allah, tahu yang baik dan yang jahat.’ Perempuan itu melihat, buah pohon itu baik untuk dimakan. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikan kepada suaminya, dan suaminya pun memakannya….
Dengan tegas Adam as pun telah menyalahkan Hawa, “Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” [Bibel, Perjanjian Lama, Kejadian. 3:12]
Mendengar jawaban Adam as, lantas Tuhan pun menegur Hawa, “Apakah yang telah kau perbuat ini?”[Kejadian. 3:13]
Bersambung...