Sayyidah Fathimah as ; Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Islam (2)
Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-laki. Kesetaraan gender penghapusan diskriminasi terhadap laki-laki dan perempuan. Bagaimana dalam Islam? Kita akan melihat ayat-ayat berikut ini;
1. Laki-laki dan perempuan sebagai hamba (QS. Adz-Dzariyat:56).
2. Lak-laki dan perempuan memiliki persamaan nila (QS. Al-Ahzab:35).
3. Memiliki esense yang sama sebagai manusia (nafs wahidah) (QS. An-Nisa:1)
4. Laki-laki dan perempuan sebagai khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah:30).
5. Laki-laki dan perempuan menerima perjanjian primordial; perjanjian Sang Khalik dan calon mahluk (QS. Al-A’raf:172).
6. Sebagai teladan (QS. At-Tahrim:11)
7. Laki-laki dan perempuan berpotensi meraih kemuliaan; takwa (QS. Al-Hujurat:13), persamaan nilai (QS. Al-ahzab:35) surga (QS. Annisa:124).
8. Hak milik atas usaha dan balasan pahala (QS. Al-Baqarah;134 & QS. An-Nisa:124)”.
9. Hak warisan; sebagai anak, ibu, istri (QS. An-Nisa:11.)
10. Hak berpolitik; kebjakan politik Ratu Balqis (QS. An-Naml:32-35).
11. Hak bekerja (QS. Al-Qashash;23)/aktivitas ekonomi telah dicontohkan oleh Sayyidah Khadijah.
Dalam Al-Quran menjelaskan bahwa sejak awal Nabi Adam as dan Hawa telah digoda untuk makan ‘buah terlarang’ dengan menggunakan ‘dhamir mutsana’; kata ganti yang menunjukkan dua orang. (QS. Al-A’raf 20-21)
فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطٰنُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وٗرِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْءٰتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهٰىكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هٰذِهِ الشَّجَرَةِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَا مَلَكَيْنِ اَوْ تَكُوْنَا مِنَ الْخٰلِدِيْنَ
Bahkan dalam ayat lain setan langsung menggoda Nabi Adam as, karena dalam ayat menggunakan dhamir mufrad mudzakar; kata ganti untuk satu orang laki-laki (QS. Thaha:20)
Dalam Al-Quran, Hawa tidak dianggap sebagai penyebab terusirnya Adam dari surga, berbeda yang disebutkan dalam Bibel, Perjanjian Lama yang merupakan pegangan orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Islam bukan sekedar teori, namun merubah tradisi salah tentang perempuan itu langsung dipraktekkan oleh Rasulullah saw kepada putrinya, dalam Islam bahwa perempuan bukan aib. Bahkan beliau bangga dan memuji anak perempuan, beliau bersabda,
“Fathimah adalah bidadari manusia, Ketika aku merindukan surga, maka aku akan menciumnya.” (Tarikh Al Baghdadi, jil. 5, hal. 86)
Bukan hanya bangga, akan tetapi juga memperlakukannya dengan hormat, menyambutnya sambal berdiri Ketika putrinya datang. (Shahih Tirmidzi:3898)
قـالَتْ عائِشَـة: ما رَأَيْتُ اَحَدا مِنْ خَلْقِ اللّه ِ اَشْبَهُ حَديثا وَكَلاما بِرَسُولِ اللّه صلي الله عليه و آله ِ مِنْ فاطِمَةَ عليهاالسلام وَ كانَتْ اِذا دَخَلَتْ عَلَيْهِ اَخَذَ بِيَدِها فَقَبَّلَها وَ رَحَّبَ بِها وَاَجْلَسَها فى مَجْلِسِهِ وَ كانَ اِذا دَخَلَ عَلَيْها قَامَتْ اِلَيْهِ وَ رَحَّبَتْ بِهِ وَ اَخَذَتْ بِيَدِهِ فَقَبـَّلَتْها
Bersambung...