Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Sayyidah Fathimah as ; Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Islam (3)

0 Pendapat 00.0 / 5

Juga, terdapat berbagai peran Sayyidah  Fathimah as terhadap Nabi saw:

1. Para musuh bersumpah akan membunuh Nabi Muhammad di mana pun berada. Sayyidah Fathimah mengabari ayahnya agar berhati-hati (Manaqib, jil.1,hal 71;Biharul Anwar,jil.18, hal.60)

2. Tiap kali kafir Quraisy melempari Nabi saw dengan tanah, Sayyidah Fathimah kecil langsung membersihkannya dengan  berkaca-kaca. Rasul memeluknya sembari mengusap air matanya, “Putriku, jangan nangis, Allah penjaga ayahmu. (Sirah Ibnu Hisyam, jil.1, hal.416)

3. Abu Jahl meletakkan kotoran hewan di atas kepala Nabi yang tengah sujud sembari mengejek, tidak ada yang berani, Sayyidah Fathimah yang memarahi abu  Jahl dan membersihkan kepala Nabi. (Shahih Bukhari, Bab Shalat, jil..2, hal.141;Shahih Muslim)

4. Dalam perang Uhud, Sayyidah Fathimah yang membersihkan gigi Nabi Saw, mengobati lukanya. (Sirah Ibnu Hisyam, Jil.3, hal.135)

5. Dalam perang Ahzab menyediakan konsumsi untuk perang, membawa roti untuk Nabi, “putriku, makanan pertama yang masuk setelah 3 hari tidak masukan makanan ke mulut. (Ath-Thabaqat Ibnu Sa’ad, jil.1. hal.400)

6. Fathu Mekah, Sayyidah Fathimah yang menyiapkan kemah, menyiapkan air untuk membersihkan debu untuk bersiap ke Masjidil Haram.

Dalam Islam laki-laki dan perempuan dapat mencapai mi’raj ruhani. Mi’raj ruhani Sayyidah Fathimah as beliau tenggelam dalam ibadah, Hasan Basri terkait ibadah Sayyidah Fathimah as berkata bahwa tidak ada yang lebih banyak ibadahnya dari Sayyidah Fathimah sehingga kakinya bengkak karena banyak ibadah. (Manaqib, Jil.3, hal.341).

Pada malam pengantin Sayyidah Fathimah as terlihat gelisah, “Kenapa wahai istriku?” tanya Imam Ali.

“Mengingatkanku akhir usiaku dan masuk alam kubur, karena pindah dari rumah ayahku ke rumah suamiku mengingatkanku pindah ke alam ubur. Ijinkan di awal kehidupan kita kita sibukkan dengan ibadah.” (Ihqaqul haq, ji.4. hal 481)

Sayyidah Fathimah as juga melakukan aktivitas mulia mendidik umat dengan menjawab berbagai pertanyaan tentang agama, seperti perempuan Madinah yang bertanya tentang shalat. Begitu banyaknya pertanyaan yang disampaikan hingga sungkan lagi untk bertanya lagi. Sayyidah Fathimah as berkata“Bertanyalah jangan malu, aku mendapatkkan pahala atas apa yang aku lakukan.” (Mahajjatul Baidha’, jil.1, hal.30)

Juga mengkader sosok penting dalam berbagai bidang seperti ; Fidhah, Asma’ Binti Umais (perawi’-A’lmun Nisa Almukminat:118) dan Ummu Hani.

Sayyidah Fathimah as juga menjadi barometer kebenaran risalah. Para pendeta Nashrani Najran menantang Rasulullah saw untuk bermubahalah untuk membuktikan kebenaran ajaran Islam, namun saat melihat sosok-sosok yang dibawa Rasulullah saw, di antaranya Sayyidah Fathimah as, mereka membatalkan Mubahalah dan berkata,

 “Sesungguhnya aku melihat wajah-wajah yang bila mereka memohon kepada Allah untuk mengangkat gunung dari tempatnya dan menghancurkannya, niscaya Allah akan mengabulkan. Janganlah kalian bermubahalah dengan mereka, karena kalian akan binasa. Dan,jika itu terjadi, niscaya tidak akan tersisa seorang pun di muka bumi ini dari orang Nashrani.”

Zamakhsyari dalam tafsir Kasyaf dalam tafsir surat Ali Imran ayat 61 menyatakan bahwa tidak ada lagi dalil dan argumen yang lebih kuat dan lebih penting dari ayat Mubahalah yang menunjukkan keutamaan dan keagungan ‘Ashhabul Kisa’,

Dengan demikian, Sayyidah lahir dalam rangka membuktikan kesempurnaan ajaran Islam terkait perempuan, posisi dan kedudukan mereka menurut Islam. Islam memuliakan dan memberikan hak-hak kepada perempuan, sebagaimana kepada laki-laki.