Akhir dari Amal
Dalam pandangan Islam, kehidupan dunia merupakan arena ujian dan kesempatan bagi manusia untuk menanam amal, membangun akidah yang benar, dan menata akhlak yang mulia. Namun, seluruh potensi dan peluang itu akan berakhir ketika datangnya hari Kiamat — hari ketika manusia tidak lagi mampu berbuat apa pun, kecuali memetik hasil dari apa yang telah ia tanam. Tema ini tergambar dengan sangat mendalam dalam firman Allah Swt kepada Rasul-Nya dalam Surah Al-Infithar ayat 17–18:
وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ
“Dan tahukah engkau apakah Hari Pembalasan itu?
Kemudian tahukah engkau apakah Hari Pembalasan itu?”
Ayat ini menunjukkan bahwa hakikat dan kedahsyatan Hari Pembalasan berada di luar jangkauan pemahaman manusia, bahkan Rasulullah saw sendiri — dengan seluruh kesempurnaan spiritualnya — diingatkan bahwa hakikat hari itu adalah sesuatu yang amat agung dan sulit digambarkan.
Ketika hari Kiamat tiba, seluruh sistem duniawi akan terputus. Peluang usaha dan dinamika perubahan yang menjadi ciri kehidupan dunia tidak lagi berlaku. Dunia merupakan dar al-‘amal (tempat beramal), sedangkan akhirat adalah dar al-jaza’ (tempat menerima balasan). Dengan demikian, manusia di akhirat tidak lagi memiliki kemampuan untuk beramal atau memperbaiki dirinya.
Dalam dunia, manusia dapat menolak bencana dengan usaha, dan meraih manfaat melalui ikhtiar. Namun, pada hari Kiamat, semua itu sirna. Tidak ada lagi kemampuan untuk menambah kebaikan atau mengurangi keburukan. Sebagaimana dikatakan dalam teks di atas, “tidak ada lagi jalan bagi manusia untuk meraih kesempurnaan.”