Ketika Kesabaran Dipakai untuk Menutup Kezaliman (1)
Dalam kehidupan sehari-hari, kata sabar sering muncul bukan sebagai kebijaksanaan ilahi, tetapi sebagai mekanisme sosial untuk meredam suara, mematikan keberanian, dan menetralkan kritik. Ia menjadi frasa serbaguna untuk menghentikan keluhan, meredam pertanyaan, dan menghentikan gerak menuju perubahan. Seseorang yang dizalimi diminta sabar agar tidak terlihat “ribut”. Perempuan yang diperlakukan tidak adil diminta sabar demi “rumah tangga”. Rakyat yang menghadapi kenaikan harga, kebijakan amburadul, ketidakpekaan pemerintah, atau bencana yang sebenarnya bisa dicegah juga diminta bersabar sebagai bentuk kesalehan. Padahal sabar seperti itu sering kali hanya melanggengkan ketidakadilan dalam kemasan religius.
Namun jika kembali kepada sumber Islam, sabar bukanlah bentuk kepasrahan terhadap kezaliman. Al-Qur’an tidak mengajarkan manusia untuk diam ketika kebatilan berjalan bebas. Justru sebaliknya, sabar selalu diiringi dengan perintah tindakan dan perjuangan. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 153: “Wahai orang-orang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat; sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Ayat ini jelas menghubungkan sabar dengan ikhtiar dan permohonan bimbingan, bukan dengan menyerah pada keadaan.
Jika sabar berarti menerima segalanya tanpa kritik, maka para nabi tidak akan pernah bergerak. Nabi Ibrahim tidak akan menghancurkan berhala. Nabi Musa tidak akan berdiri di hadapan Fir’aun. Nabi Muhammad tidak akan menantang struktur ekonomi Quraisy yang berpihak hanya kepada elit. Mereka semua bersabar bukan dalam diam, tetapi dalam perjuangan. Sabar adalah daya tahan moral, bukan kelumpuhan sosial.
Namun dalam perjalanan sejarah masyarakat, terutama dalam konteks kekuasaan, sabar sering dijadikan alat untuk mengontrol rakyat. Ketika rakyat mulai sadar, bertanya, menuntut transparansi dan tanggung jawab, muncul suara-suara yang mengatakan bahwa kritik adalah tanda kurang iman. Seakan-akan, semakin sengsara rakyat, semakin diuji imannya; semakin diam rakyat, semakin mulia sabarnya. Padahal Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik jihad adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (Riwayat Abu Dawud). Hadis ini sendiri sudah membantah konstruksi sosial yang berusaha mem-frame kesunyian sebagai ibadah dan kritik sebagai durhaka.
Bersambung...