Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Ketika Kesabaran Dipakai untuk Menutup Kezaliman (3)

0 Pendapat 00.0 / 5

Karena itu perlu ditanyakan dengan jujur: sabar yang kita jalani ini sabar yang dikehendaki Allah atau sabar yang diciptakan budaya agar kita tidak mengganggu struktur sosial yang nyaman bagi sebagian orang? Apakah sabar kita membawa perubahan atau hanya membuat kita terbiasa dengan perlakuan yang tidak pantas?

Sabar sejati bukan berhenti bicara, tetapi bicara dengan hikmah. Sabar sejati bukan menahan diri dari marah saja, tetapi memastikan kemarahan diarahkan untuk memperbaiki, bukan menghancurkan. Sabar sejati tidak membiarkan pemerintah berbuat sesuka hati tanpa pertanggungjawaban. Sabar sejati adalah kemampuan menjaga kejernihan hati sambil tetap memperjuangkan hak dan kebenaran.

Pada akhirnya, sebuah masyarakat tidak akan maju hanya dengan menumpuk kesabaran tanpa koreksi, evaluasi, dan keberanian moral. Sabar harus beriringan dengan kesadaran, sebagaimana doa harus beriringan dengan usaha. Ketika rakyat hanya diajarkan bersabar tanpa ruang untuk menuntut hak, maka lahirlah budaya diam yang diwariskan turun-temurun. Ketika pemerintah hanya meminta kesabaran tanpa transparansi, perbaikan sistem, dan tanggung jawab, maka sabar berubah menjadi bentuk penundaan keadilan. Padahal agama tidak datang untuk membentuk generasi yang hanya tahan sakit, tetapi generasi yang mampu membaca realitas, menimbangnya dengan akal dan nurani, lalu mengambil sikap yang proporsional. Sabar adalah alat untuk menjaga kejernihan hati dalam perjuangan, bukan alasan untuk berhenti memperjuangkan kehidupan yang lebih adil.