Ketika Rumah Nabi Menjadi Pusat Gejolak Sejarah
Setelah wafatnya Rasulullah saw, umat Islam memasuki masa penuh ketegangan politik. Muthahhari menegaskan bahwa perubahan itu berlangsung sangat cepat: nilai-nilai dakwah yang dibangun bertahun-tahun berubah menjadi kompetisi kekuasaan yang berbalut jargon persatuan. Dalam situasi genting inilah, Fatimah tampil bukan sebagai perempuan yang larut dalam duka ayah, melainkan sebagai sosok yang memahami sepenuhnya konsekuensi sejarah dari setiap penyimpangan yang terjadi.
Menurut Muthahhari: “Fatimahlah yang paling memahami apa yang sedang hilang. Ia berdiri bukan karena duka, tetapi karena pandangan yang jernih.”
Fatimah melihat bahwa umat sedang berjalan menuju jurang. Ia tahu bahwa diam pada saat itu berarti membuka pintu panjang bagi penindasan Ahlulbait, yang kelak berpuncak pada tragedi Karbala. Karena itulah, ia tidak memilih diam. Ia bergerak. Ia berbicara. Ia memperingatkan.