“Alhamdulillah, Aku Bersyukur, Aku Ikhlas, Aku Sehat…”; Dampak Perkataan serta Pikiran Positif dan Negatif (1)
Perkataan dan pikiran sangat berpengaruh terhadap diri kita, baik secara mental, emosional, bahkan perilaku. Perkataan dan pikiran positif akan memberikan pengaruh positif, begitu juga perkataan dan pikiran negatif. Pengaruh ini bekerja karena otak kita merespons apa yang kita pikirkan dan ucapkan seolah-olah itu adalah “kebenaran”.
Seorang peneliti Jepang, Dr. Masaru Emoto (1943–2014), mempopulerkan gagasan bahwa kata-kata positif seperti terima kasih, cinta, damai, dan kata-kata negatif seperti bodoh, benci, kamu menjijikkan, dan lainnya dapat memengaruhi struktur kristal air. Metode yang digunakan adalah dengan memberi paparan kata pada air, baik ditulis di botol, misalnya “terima kasih” atau “aku membencimu”, maupun diucapkan langsung pada air yang berada di dalam botol tersebut. Air kemudian dibekukan pada suhu sekitar –25°C, difoto menggunakan mikroskop medan gelap, dan hasil foto kristalnya dibandingkan.
Menurut Emoto, hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan kata atau ucapan positif menghasilkan bentuk kristal yang indah dan simetris seperti salju. Sebaliknya, paparan kata atau ucapan negatif menghasilkan kristal yang rusak dan tidak beraturan. Ia menyimpulkan bahwa air dapat “merekam” informasi dari kesadaran manusia. Karena tubuh manusia kurang lebih 70% terdiri dari air, Emoto mengaitkan temuannya dengan kesehatan fisik dan emosional manusia. Masaru Emoto juga meneliti efek doa pada air. Dalam Islam, hal ini dapat dikaitkan dengan air doa atau air yang dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai wasilah untuk kesembuhan.
Dari hasil penelitian tersebut, banyak pelajaran yang dapat kita ambil. Salah satunya dalam dunia parenting, yaitu larangan melakukan labeling negatif pada anak. Orang tua tidak boleh memberikan label negatif kepada anak. Jika dikaitkan dengan penelitian tersebut, orang tua akan lebih berhati-hati dalam mengucapkan kata-kata kepada anak-anaknya dan berusaha keras menghindari kata-kata negatif ketika melihat perilaku anak yang kurang baik.
Selain itu, kita memahami bahwa kata adalah doa. Tubuh manusia, termasuk tubuh anak, sekitar 70% terdiri dari air. Jika air dalam botol saja, ketika ditulisi atau diucapkan kata-kata baik, dapat membentuk kristal yang indah, dan sebaliknya kata-kata negatif membentuk kristal yang rusak dan tidak beraturan, maka bayangkan apa yang terjadi pada anak yang sering mendengar kata-kata negatif seperti, “kamu nakal, bandel, malas, boros”? Seperti apa bentuknya? Karena secara fisik saja, berdasarkan penelitian, kata-kata negatif berpengaruh buruk pada air, sementara tubuh manusia kurang lebih 70% terdiri dari air. Artinya, saat orang tua memberikan label negatif, sama saja dengan menyumpahi dan mendoakan anaknya menjadi pribadi yang negatif.
Bersambung...