“Alhamdulillah, Aku Bersyukur, Aku Ikhlas, Aku Sehat…”; Dampak Perkataan serta Pikiran Positif dan Negatif (3)
Dalam perspektif Islam, kata-kata baik seperti istigfar, syukur, dan ikhlas memiliki hubungan yang sangat erat dengan kelapangan hati dan kelimpahan rezeki. Sebaliknya, sering mengeluh berkaitan dengan sempitnya jiwa dan terasa seretnya rezeki. Hubungan ini dapat dijelaskan dari sisi dalil, makna batin, dan dampak nyata dalam kehidupan.
Allah Swt berfirman:
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu …” (QS. Nuh: 10–12)
Istigfar membersihkan penghalang rezeki, yaitu dosa dan kelalaian. Dosa membuat hati berat, pikiran sempit, dan keputusan hidup sering keliru. Dengan istigfar, hati menjadi jernih, pikiran terbuka, dan peluang rezeki lebih mudah terlihat. Dampak nyatanya adalah seseorang menjadi lebih tenang menghadapi masalah, tidak mudah putus asa, serta merasakan rezeki yang mengalir, cukup, dan penuh keberkahan.
Allah Swt juga berfirman:
“Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Syukur menarik keberlanjutan nikmat. Orang yang bersyukur fokus pada apa yang ada, bukan pada apa yang kurang. Fokus ini melahirkan rasa cukup (qana’ah). Dampaknya, hidup terasa cukup meski sederhana, nikmat kecil terasa besar, dan seseorang menjadi lebih produktif serta disukai orang lain, sehingga peluang rezeki pun bertambah.
Ikhlas berarti menerima takdir dan ketentuan hidup sambil tetap berusaha. Ikhlas menghilangkan beban batin seperti iri, kecewa, dan dendam. Dampaknya, energi tidak habis untuk mengeluh, fokus pada solusi, bukan perbandingan, dan rezeki terasa ringan karena tidak diiringi kecemasan berlebihan.
Sebaliknya, perkataan negatif seperti mengeluh dapat menyempitkan rezeki. Mengeluh merupakan bentuk ketidakridhaan tersembunyi. Hati sibuk melihat kekurangan, pikiran negatif menutup peluang, dan seseorang menjadi pasif serta mudah menyerah. Relasi sosial pun terganggu karena keluhan yang terus-menerus membuat orang lain menjauh.
Dampaknya, hidup menjadi tidak produktif, energi terbuang sia-sia, rezeki terasa sempit meskipun secara angka mungkin cukup. Hati selalu merasa kurang, tidak pernah puas, dan hidup terasa berat serta penuh tekanan.
Karena itu, ketika menghadapi kesulitan, kita perlu berusaha mengatur perkataan dan pikiran agar tidak mengeluarkan keluhan dan pikiran negatif. Misalnya, kalimat “hidupku kok begini-begini terus” dapat diganti dengan “Alhamdulillah aku masih sehat, punya keluarga, dan semoga ke depan kehidupan menjadi lebih baik.”
Alhamdulillah, terima kasih, aku bersyukur, aku ikhlas, aku sehat, aku bahagia, adalah kata-kata yang seyogianya menjadi dzikir harian. Dalam kondisi sesulit apa pun, kita tetap berusaha berkata dan berpikir positif serta tidak mudah mengeluarkan keluhan dan kata-kata negatif. Kita belajar mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Sebagaimana pelajaran dari Sayyidah Zainab as, yang di puncak penderitaannya berkata, “Tidak aku lihat semua ini melainkan suatu keindahan.”