Konvergensi prinsip: tradisi klasik dan modernitas akademik
A. Independensi epistemik dari validasi silang
Penting untuk ditekankan bahwa sejarah modern tentang doktor belia tidak membenarkan tradisi keagamaan, dan tradisi keagamaan tidak bergantung pada validasi sains modern. Keduanya memiliki epistemologi, metodologi, dan konteks historis yang berbeda. Legitimasi masing-masing berdiri sendiri.
Namun, keduanya bertemu pada prinsip yang sama: kapasitas intelektual dapat hadir lebih awal daripada kesiapan sosial untuk mengakuinya.
Prinsip ini bersifat trans-historis dan trans-kultural. Ia tidak memerlukan justifikasi teologis atau validasi ilmiah eksternal. Ia cukup berdiri di atas bukti empiris bahwa beberapa individu—secara statistik langka, tetapi secara historis nyata—memang memiliki kematangan intelektual dan moral yang tidak sesuai dengan ekspektasi usia mereka.
B. Implikasi terhadap asumsi sosial kontemporer
Jika tradisi Islam klasik dan sistem akademik modern sama-sama dapat mengakui otoritas belia ketika kapasitas terbukti, pertanyaan kritis muncul: Mengapa masyarakat kontemporer—baik Muslim maupun non-Muslim—sering kali lebih rigid dalam hierarki usia daripada pendahulu historisnya?
Kemungkinan jawabannya terletak pada birokratisasi pengetahuan dan institusionalisasi kredensial. Dalam sistem modern, otoritas sering kali dikaitkan dengan jalur institusional yang terstandarisasi: pendidikan formal bertahap, akumulasi gelar, senioritas dalam profesi. Jalur ini memang efisien untuk mayoritas, tetapi ia juga menciptakan kekakuan struktural yang sulit ditembus oleh kapasitas non-konvensional.
Tradisi klasik—baik Islam maupun pra-modern Eropa—memiliki fleksibilitas lebih besar karena otoritas lebih sering diakui melalui demonstrasi langsung (debat publik, ijāzah personal, reputasi di kalangan ulama) daripada melalui jalur institusional yang kaku.