Sukses Rajab Demi Syaban dan Ramadan (2)
Bulan Rajab bisa kita jadikan sebagai media untuk menyiapkan lahan batin kita, membersihkan kotoran yang mengotori kalbu kita, merubah kebiasaan buruk yang masih kita miliki, memperbaiki kerusakan jika ada kerusakan sehingga kita bisa menyambut bulan ramadan dengan lebih siap. Lahan yang sudah dipersiapkan dengan baik maka tanaman pun akan lebih aman dari hama dan penyakit, kondisi ruhani yang bersih pun saama itu akan menjadi lahan terbaik untuk menanam berbagai perbuatan baik amalan-amalan dibulan ramadan. Ramadan tidak akan berlalu begitu saja tapi akan membekas pada diri menjadi seorang hamba Allah yang taat.
Dzikir Tanpa Rasa Beban
Ibunda bisa memasak untuk keluarga sambil melantunkan istighfar yang disunahkan 70 kali sehari. Ibunda semakin banyak dzikirnya masakan pun akan lebih enak, karena makanan yang matang ada unsur ruhaninya juga yaitu iringan doa. Makanan yang ditiupkan doa akan memiliki kondisis lebih baik jika dibandingkan dengan makanan tanpa doa. Ayahanda pun sama bisa membaca dzikir sunah bulan rajab, syaban maupun ramadan itu ketika sedang sibuk bekerja di bengkel atau tempat kerja yang lain.
Dari Lisan ke Hati dari Hati Menggerakkan Lisan
Dalam kitab Arbain alHadis milik Imam Khomaini kita dapati penjelasan bahwa memang awalnya dzikir itu hanya dilisan saja, setelah dilakukan secara teratur dalam waktu yang cukup lama, dzikir itu akan terpatri didalam hati, setelah ini hati akan memandu manusia untuk terus berdzikir, dzikir yang penuh kesadaran karena bergerak dari hati dan muncul dalam lisan dan pikiran.
Dalam sebuah hadis dari Nabi saw disebutkan bahwa: “Bulan Rajab adalah bulan Allah, dan bulan Sya’ban adalah bulanku dan bulan suci Ramadhan adalah bulan untuk umatku.”
Memang disebutkan bulan rajab adalah bulan Allah, bulan syaban adalah bulan Rasulullah tapi pada kenyataanya semua kegiatan dan amal ibadah kita hanya kembali kepada kita. Karena jika kita sukses di bulan Rajab dan Syaban insyaAllah kita akan sukses di bulan Ramadan. Dan kesuksesan ini jelas tidak menguntungkan Allah dan Rasul-Nya tapi keuntungan itu seratus persen kembali kepada hamba-Nya.
CATATAN :
[1] Bihar al-Anwar, jld.33, hlm.47