Kepribadian Imam Al-Husain as dalam Iman, Akhlak, dan Perlawanan (1)
Suatu ketika beliau ditanya tentang kadar rasa takutnya kepada Allah, Imam Al-Husain menjawab dengan kalimat yang sarat makna: “Tidak akan merasa aman dari siksa Allah pada hari Kiamat kecuali orang yang takut kepada-Nya di dunia.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa rasa takut kepada Allah, dalam pandangan beliau, adalah bentuk kesadaran tertinggi akan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan. (al-Majalis al-Saniyyah, Sayyid Muhammad Muhsin al-Amin)
Kedalaman spiritual ini tampak pula dalam detail-detail kecil ibadah beliau. Diriwayatkan bahwa setiap kali Imam Al-Husain berwudhu, wajahnya menjadi pucat dan seluruh tubuhnya gemetar. Ketika ditanya tentang hal itu, beliau menjawab bahwa sudah sepantasnya seseorang yang akan menghadap Tuhan Yang Mahaperkasa mengalami keadaan demikian. Ibadah, bagi Imam Al-Husain, bukan rutinitas kosong, melainkan perjumpaan eksistensial dengan Allah Swt.
Cinta beliau kepada ibadah mencapai puncaknya pada malam Asyura. Dalam situasi paling genting, ketika pasukan Umawiyyah telah mengepung, Imam Al-Husain meminta agar peperangan ditunda semalam. Permintaan itu bukan lahir dari ketakutan, melainkan dari kerinduan untuk bermunajat, shalat, membaca Al-Qur’an, dan beristighfar. Bahkan pada hari kesepuluh Muharram, di tengah hujan anak panah, beliau tetap menegakkan shalat Zhuhur bersama para sahabatnya. (Kasyf al-Ghummah fi Ma‘rifat al-A’immah, jilid II, hlm. 274)
Orientasi akhirat ini juga tercermin dalam doa-doa beliau. Imam Al-Husain memohon agar dianugerahi kezuhudan terhadap dunia dan pemahaman yang mendalam tentang akhirat, sehingga kebaikan dicari karena kerinduan dan keburukan dijauhi karena rasa takut kepada Allah. Doa ini menggambarkan jiwa seorang arif yang menjadikan akhirat sebagai poros seluruh gerak hidupnya. (Tuhaf al-‘Uqul ‘an Aal al-Rasul, Ibn Syu‘bah al-Harani)
Namun kedalaman hubungan Imam Al-Husain as dengan Allah tidak menjauhkan beliau dari manusia. Justru dari kedalaman spiritual itulah lahir kepekaan sosial dan keluhuran akhlak yang luar biasa. Dalam pergaulan dengan masyarakat, Imam Al-Husain tampil sebagai pemimpin yang rendah hati dan dekat dengan umatnya, tanpa sekat status sosial. (Kasyf al-Ghummah fi Ma‘rifat al-A’immah, jilid 2)
Bersambung...