Dialog Rasulullah saw dengan Alim Yahudi tentang Syariat dan Keutamaan Ahlulbait
Di antara hadis-hadis panjang yang sarat makna, terdapat satu riwayat agung yang diriwayatkan oleh Syaikh ash-Shaduq dalam berbagai karyanya—di antaranya al-Majalis, al-Faqih, Ilal asy-Syarai‘, al-Khishal, dan Ma‘ani al-Akhbar. Riwayat ini juga disebutkan sebagian kandungannya oleh al-Barqi dalam al-Mahasin dan al-Ikhtishash, dengan beberapa jalur periwayatan yang sahih. Hadis ini mengisahkan dialog panjang Rasulullah saw dengan seorang Yahudi alim, yang akhirnya berujung pada pengakuan kenabian Rasulullah saw dan keimanan terhadap Ahlulbait as.
Riwayat ini bermula ketika sekelompok orang Yahudi mendatangi Rasulullah saw dan berkata,
“Wahai Muhammad, benarkah engkau mengaku sebagai utusan Allah dan menerima wahyu sebagaimana Musa bin Imran menerima wahyu?”
Rasulullah saw terdiam sejenak, lalu bersabda, “Benar. Aku adalah penghulu anak Adam, tanpa kesombongan. Aku penutup para nabi, pemimpin orang-orang bertakwa, dan utusan Tuhan semesta alam.”
Mereka kembali bertanya, “Untuk siapa engkau diutus? Untuk bangsa Arab, non-Arab, atau untuk kami?”
Maka turunlah firman Allah Swt, ‘Katakanlah: Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah bagi kalian semua’ (QS. al-A‘raf: 158).