Luasnya Rahmat Allah dalam Catatan Amal
Dalam riwayat lain, Rasulullah saw bersabda:
“Empat perkara yang jika keempat perkara itu ada pada diri seseorang niscaya dia tidak akan binasa kecuali orang yang binasa: Jika seorang hamba berniat melakukan kebaikan namun dia tidak melakukannya maka Allah tuliskan baginya satu kebaikan karena niat baiknya. Namun jika dia melakukannya maka Allah tuliskan baginya sepuluh kebaikan. Jika seorang hamba berniat melakukan keburukan namun dia tidak melakukannya maka tidak dituliskan keburukan baginya. Namun jika dia melakukannya maka dia diberi waktu tujuh jam.”
Dalam riwayat itu disebutkan bahwa malaikat pencatat kebaikan berkata kepada malaikat pencatat keburukan—yang berada di sebelah kiri:
“Jangan tergesa-gesa mencatatnya. Mungkin saja dia akan menyusul keburukan itu dengan kebaikan yang dapat menghapusnya karena Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Sesungguhnya kebaikan dapat menghapus keburukan,’ atau dia ber-istighfar.”
Jika hamba itu berkata:
“Diri-diri kalian tergadai oleh amal kalian, maka bebaskanlah dengan istighfar.” Kalimat ini adalah bahasa pembebasan. Manusia digambarkan terbelenggu oleh kesalahannya sendiri. Ramadan hadir sebagai momentum emansipasi ruhani.
Dalam perspektif Syiah, pembebasan ini bukan hanya individual. Ia memiliki implikasi sosial. Masyarakat yang anggotanya dibebaskan dari dosa dan keserakahan akan lebih mudah membangun keadilan. Istighfar menjadi langkah awal revolusi moral.