Perdamaian yang Penuh Hikmah
Dalam situasi ini, Imam Hasan menghadapi pilihan sulit: melanjutkan perang dengan risiko kehancuran total umat, atau mengambil langkah strategis untuk menyelamatkan Islam dari kerusakan yang lebih besar.
Akhirnya, beliau memilih perjanjian damai dengan Muawiyah, dengan sejumlah syarat yang jelas. Di antaranya, Muawiyah tidak boleh menunjuk pengganti setelah dirinya, serta harus memerintah sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Keputusan ini sering disalahpahami sebagai kelemahan. Padahal, dalam perspektif sejarah, langkah Imam Hasan merupakan strategi politik yang sangat cerdas.
Dengan perdamaian itu, Muawiyah akhirnya menyingkap sendiri niat sebenarnya. Ia secara terbuka mengakui bahwa perang yang ia lakukan bukan demi Islam, tetapi demi kekuasaan. Bahkan ia menyatakan tidak akan memenuhi syarat-syarat perjanjian tersebut.
Pengakuan ini membuka mata banyak kaum Muslim tentang hakikat pemerintahan Bani Umayyah.