Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Kisah-Kisah Akhlak Mulia yang Membangun Jiwa: Pria yang Menyembunyikan Tangisnya untuk Rakyat

0 Pendapat 00.0 / 5

Seseorang pernah bertanya kepada orang-orang di sekitar Khamenei: mengapa pemimpin itu tidak pernah menangis di depan publik? Jawabannya sederhana dan menyentuh. Beliau menangis — tetapi selalu di tempat yang tidak ada kamera. Di pojok ruang shalat, setelah berita duka tentang rakyat yang menderita. Di bawah lampu yang redup, setelah membaca laporan tentang kemiskinan di daerah terpencil. 

Mereka yang pernah menjadi pengawal pribadinya bercerita: Khamenei kerap meminta waktu menyendiri setelah menerima berita korban perang atau bencana. Dan ketika pintu ditutup, suara tangis pelan terdengar dari balik ruangan. Tangis itu bukan kelemahan. Itu adalah beban seorang pemimpin yang sungguh-sungguh menanggung derita rakyatnya. 

Ia pernah berkata dalam sebuah ceramah: “Pemimpin yang tidak menangis untuk rakyatnya belum benar-benar merasakan tanggung jawabnya.” Bagi Khamenei, tangis bukan tontonan. Tangis adalah doa yang paling jujur antara hamba dan Tuhannya. 

Ia tumbuh dalam keluarga yang sangat miskin di Mashhad — rumah 60 meter persegi, makan malam hanya roti dan kismis. Kemiskinan itu tidak mengasarkan hatinya. Justru sebaliknya: ia menjadikannya lelaki yang tidak pernah lupa dari mana ia berasal, dan tidak pernah bisa menutup mata terhadap penderitaan orang lain.