Kisah-Kisah Akhlak Mulia yang Membangun Jiwa: Ketika Pemimpin Duduk di Lantai Bersama Anak Yatim
Suatu hari di bulan Muharram, sekelompok anak yatim dari daerah terpencil diundang ke rumah pemimpin. Para staf sudah menyiapkan kursi-kursi yang layak. Tapi ketika Khamenei masuk dan melihat anak-anak itu duduk di karpet, ia langsung melepas jaketnya dan duduk di antara mereka — di lantai, bersila, seperti seorang kakek yang rindu cucu.
Ia menanyai setiap anak: namanya, asalnya, impiannya. Kepada seorang anak perempuan kecil yang ingin menjadi dokter, ia berkata: “Belajarlah sungguh-sungguh. Kamu akan menjadi dokter yang baik.” Kepada seorang anak laki-laki yang ingin menjadi guru, ia mengangguk penuh kehangatan: “Guru adalah pekerjaan para nabi.”
Sesi yang dijadwalkan 20 menit itu berlangsung lebih dari satu jam. Para staf mulai gelisah karena jadwal lain menunggu. Tapi Khamenei tidak beranjak. Ia tetap duduk, mendengarkan cerita anak-anak itu, sesekali tertawa kecil, sesekali menepuk bahu mereka dengan lembut.
Bagi seorang pemimpin dengan jadwal yang begitu penuh, jam itu adalah pilihan yang sangat sadar. Ia memilih anak-anak yatim di atas rapat, di atas protokol, di atas jadwal. Itu bukan pertunjukan. Tidak ada kamera yang meliput.