Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Kisah-Kisah Akhlak Mulia yang Membangun Jiwa: Buku yang Lebih Ia Cintai dari Kekuasaan

0 Pendapat 00.0 / 5

Dalam salah satu sesi pertemuan terbuka yang tidak direncanakan, seorang mahasiswa muda berdiri dan dengan suara gemetar menyampaikan kritik tajam terhadap kebijakan yang dianggapnya tidak adil. Ruangan menjadi hening. Semua orang menahan napas. 

Khamenei tidak memotong. Ia tidak mengangkat tangan untuk menghentikan. Ia duduk, bersandar ke kursi, dan mendengarkan sampai selesai. Kemudian ia berkata pelan: “Terima kasih. Keberanian bicara jujur adalah kualitas yang langka. Apa yang kamu sampaikan akan saya pikirkan.” 

Ia tidak selalu setuju. Tidak semua kritik berujung pada perubahan kebijakan. Tapi cara ia mendengarkan — tanpa defensif, tanpa memotong, tanpa mewajibkan si pengkritik untuk mengucapkan kalimat-kalimat pujian dahulu — meninggalkan kesan yang dalam bagi yang menyaksikannya. 

Dalam tradisi Islam, mendengarkan disebut sebagai separuh dari hikmah. Khamenei tumbuh di lingkungan pesantren di mana ulama mendengarkan murid-muridnya dengan hormat, karena kebenaran bisa datang dari siapa saja. Ia membawa nilai itu ke kursi kekuasaan.