Kisah-Kisah Akhlak Mulia yang Membangun Jiwa: Pelukan untuk Ibu yang Kehilangan Putranya di Medan Perang
Perang Iran-Irak meninggalkan ratusan ribu ibu dalam kesedihan yang tidak bertepi. Khamenei — saat itu presiden — mengunjungi keluarga-keluarga syuhada secara langsung. Ia tidak hanya datang membawa ucapan formal. Ia datang sebagai seseorang yang merasakan.
Seorang ibu dari kota kecil di selatan Iran bercerita: ketika Khamenei tiba di rumahnya dan ia menyebut nama putranya yang gugur, pemimpin itu tidak langsung berbicara. Ia justru berdiri, mendekati sang ibu, dan memeluknya — diam, lama, seperti seorang anak yang memeluk ibunya sendiri.
“Tidak ada yang berkata-kata,” kenang ibu itu. “Tapi dalam pelukan itu saya merasakan bahwa anak saya tidak gugur sia-sia. Bahwa ada orang yang sungguh-sungguh merasakan kehilangan kami.”
Khamenei pernah kehilangan saudara seperjuangan, teman-teman yang gugur dalam pergolakan revolusi dan perang. Kesedihan itu bukan teori baginya. Ia mengenal rasa kehilangan dari dalam. Dan itulah mengapa pelukannya bukan basa-basi — ia adalah ikatan antara dua orang yang sama-sama tahu rasanya ditinggal oleh yang dicinta.