Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Kisah-Kisah Akhlak Mulia yang Membangun Jiwa: Ia yang Tidak Pernah Menyebut Namanya Sendiri di Depan Publik

0 Pendapat 00.0 / 5

Ada kebiasaan kecil yang diperhatikan orang-orang yang sering mendengarkan ceramah atau pidato Khamenei: ia hampir tidak pernah menggunakan kata “saya” ketika berbicara tentang pencapaian. Ketika sesuatu berhasil, ia selalu berkata “kita”, “rakyat”, “para pejuang”. Ketika ada kegagalan, barulah ia menggunakan “saya” — untuk mengambil tanggung jawab. 

Kebiasaan linguistik ini bukan kebetulan. Ia adalah refleksi dari nilai yang ia anut sejak muda: bahwa pemimpin adalah pelayan, bukan pemilik. Bahwa kekuasaan dipinjamkan oleh rakyat dan oleh Allah, bukan milik pribadi. 

Dalam tradisi Ahlul Bait yang ia pelajari sejak kecil, Imam Ali berkata: “Pemimpin terbaik adalah yang paling tidak dikenal namanya, tapi paling banyak dirasakan kebaikannya.” Khamenei mencoba menghidupi nilai itu — meski dalam posisi sebagai pemimpin yang paling dikenal di negaranya. 

Ia tidak ingin abadi karena namanya. Ia ingin dikenang karena rakyat yang ia layani merasakan hidupnya lebih baik. Entah sejauh mana itu tercapai — tapi niat itu nyata dan ia jalani dengan konsisten.