Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Kisah-Kisah Akhlak Mulia yang Membangun Jiwa: Ketika Ia Menangis Diam-Diam di Makam Seorang Prajurit Biasa

0 Pendapat 00.0 / 5

Dalam sebuah kunjungan ke taman makam pahlawan, protokol sudah dirancang: pemimpin akan meletakkan bunga di makam komandan tertentu, berbicara kepada media, lalu pergi. Tapi Khamenei menyimpang dari rencana itu. 

Di antara deretan nisan, ia berhenti di depan makam seorang prajurit muda — bukan perwira, bukan komandan, hanya prajurit biasa berusia 19 tahun dari desa kecil di selatan. Ia membaca namanya, berdiri lama, lalu berlutut dan membaca doa dengan suara pelan. Orang-orang di belakangnya melihat bahunya bergetar. 

Ketika berdiri kembali, matanya merah. Ia tidak mengelap air mata itu dengan cepat. Ia membiarkan saja. Seolah tangis untuk prajurit itu adalah hutang yang harus ia bayar — bukan pertunjukan empati, tapi kehormatan yang sungguh-sungguh. 

Salah seorang pengawal yang menyaksikan itu menulis di catatannya: “Saya tahu saat itu bahwa pemimpin kami bukan pemimpin yang hidup jauh dari rakyatnya. Ia hidup di antara kita — bahkan di antara yang sudah pergi.”