Berdebatlah dengan orang yang berakal 1
يَا كُمَيْلُ، إِذَا جَادَلْتَ فِي اللهِ تَعَالَى، فَلَا تُخَاطِبْ إِلَّا مَنْ يُشْبِهُ الْعُقَلَاءَ، وَهَذَا ضَرُورَةٌ.
Wahai Kumail, apabila engkau berdebat tentang Allah Ta‘âlâ, maka janganlah engkau berbicara kecuali dengan orang yang menyerupai kaum berakal, karena hal itu adalah suatu keharusan.
Nasihat ini mengingatkan kita bahwa orang yang berdebat tentang Tuhan dan Ketuhanan, adakalanya memang ia sedang serius mencari kebenaran dan mengimaninya, atau bisa jadi sekedar berdebat untuk Orang model kedua ini, betapa pun seribu satu bukti kita tegakkan di hadapannya, ia tetap menolak dan tidak mau tunduk mengimaninya. Persis seperti kaum kafir Quraisy di zaman Nabi saw. setelah semua bukti kebenaran tegak di hadapan mereka, mereka tetap menampakkan sikap degil dan menentang kebanaran Kerasulan Baginda Nabi saw. dan kebenaran Islam.
Karena itu berdebat dengan orang model seperti itu tidak ada gunanya dan hanya membuang energi dan larut dalam kesia-siaan belaka. Lebih baik ditinggalkan.
Para Ulama Syi’ah telah meriwayatkan banyak perdebatan Nabi saw. dan para Imam as. dengan para penentang. Sebagian dari mereka memang serius mencari kebenaran, sementara sebagian lainnya, tidak menampakkan kesungguh-sungguhan dalam mencari kebenaran.
Abu Manshur Ahmad Ath Thabarsi penulis kitab Al Ihtijâj meriwayatkan dari Hisyam bin al Hakam:
Hisyam berkata: “Di Mesir ada seorang zindiq (ateis atau pengingkar Tuhan) yang sering mendengar kabar tentang keluasan ilmu Imam Ja‘far ash Shadiq as.
Maka ia pun berangkat menuju Madinah untuk berdebat dengan beliau. Namun ketika tiba di sana, ia mendengar bahwa Imam sedang berada di Makkah. Ia pun berangkat ke Makkah, sementara kami sedang bersama Imam Ja‘far ash Shadiq as.