Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Berdebatlah dengan orang yang berakal 3

1 Pendapat 05.0 / 5

Ia menjawab: “Tidak.”
Imam bertanya: “Apakah engkau pernah pergi ke timur dan ke barat, lalu melihat apa yang ada di balik keduanya?”
Ia menjawab: “Tidak.”
Maka Imam bersabda: “Sungguh mengherankan dirimu! Engkau belum mencapai timur, belum mencapai barat, belum turun ke bawah bumi, belum naik ke langit, dan tidak mengetahui apa yang ada di sana, namun engkau berani mengingkari apa yang ada di dalamnya! Apakah orang berakal akan mengingkari sesuatu yang tidak ia ketahui?” 

Orang zindiq itu berkata: “Belum pernah ada yang berbicara kepadaku seperti engkau ini.” 

Imam bersabda: “Berarti engkau masih dalam keraguan. Barangkali ada (Tuhan itu), dan barangkali tidak ada?” 

Ia menjawab: “Ya, barangkali begitu.” 

Imam bersabda: “Wahai lelaki! Orang yang tidak tahu tidak memiliki hujjah atas orang yang tahu, dan orang bodoh tidak memiliki hujjah atas orang berilmu. Wahai saudaraku dari Mesir, pahamilah baik-baik ucapanku. Tidakkah engkau melihat matahari dan bulan, malam dan siang yang datang silih berganti, berjalan dan kembali pada waktunya? Keduanya terpaksa, tidak memiliki tempat kecuali tempatnya yang telah ditentukan. 

Jika keduanya berkuasa untuk pergi (tanpa kendali), mengapa mereka kembali? Dan jika mereka tidak terpaksa, mengapa malam tidak menjadi siang, dan siang tidak menjadi malam? Demi Allah, wahai saudaraku dari Mesir, keduanya benar-benar terpaksa oleh kehendak Tuhan. 
Adapun keyakinan kalian tentang ad dahr (zaman) yang kalian anggap sebagai penyebab segala sesuatu, maka jika ‘zaman’ itulah yang menggerakkan mereka, mengapa ia mengembalikannya? Dan jika ia yang mengembalikan mereka, mengapa ia menggerakkan mereka? 

Tidakkah engkau melihat langit yang tegak tinggi, dan bumi yang terhampar di bawah, namun langit tidak jatuh ke bumi, dan bumi tidak meluncur ke bawahnya? Demi Allah, yang menahan dan menegakkannya adalah Sang Pencipta dan Pengatur keduanya!” 

Maka orang zindiq itu pun beriman di tangan Imam Ja‘far ash Shadiq as. Kemudian Imam berkata: “Wahai Hisyam, bawalah ia bersamamu dan ajarilah dia.” 

Demikianlah kesudahan orang yang serius mencari kebenaran ketika ia menemukan kebenaran. Ia menerima dan beriman.