Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Manusia sebagai Tambang Batin 1

0 Pendapat 00.0 / 5

Dalam salah satu sabdanya yang agung, Rasulullah saw menggambarkan manusia dengan perumpamaan yang sarat makna eksistensial: 

قال رسول الله ﷺ: «النَّاسُ مَعَادِنُ كَمَعَادِنِ الذَّهَبِ وَ الْفِضَّةِ 

“Manusia itu bagaikan tambang-tambang, sebagaimana tambang emas dan perak.” (Al-Kāfī, jilid 1, hlm. 25; Bihār al-Anwār, jilid 16, hlm. 210). 

Hadis ini menyiratkan bahwa setiap manusia mengandung potensi batiniah yang berharga, namun terpendam, seperti logam mulia di perut bumi. Perbedaan manusia bukan semata pada rupa atau status sosial, melainkan sejauh mana ia mampu menggalinya dan memurnikan tambang batin yang ada dalam dirinya hingga menjadi cahaya hakiki.

Setiap manusia membawa fitrah ilahiah yang merupakan potensi kesucian dan kesempurnaan. Manusia bukanlah makhluk yang “selesai” pada saat kelahirannya. Ia adalah entitas yang sedang menjadi, yang substansinya senantiasa bergerak menuju kesempurnaan.

Setiap manusia adalah tambang batin yang menyimpan potensi eksistensialnya sendiri — dan perjalanan hidup adalah proses menggali dan memurnikan tambang itu agar memancarkan wujud sempurna. Sebagaimana tambang yang berbeda kadar kemurnian dan kualitasnya, demikian pula manusia berbeda dalam kapasitas ontologisnya — bergantung pada sejauh mana ia menyingkap hakikat dirinya dan mewujudkan potensi ilahiah dalam eksistensinya. 

Apabila seseorang tumbuh dari dari makanan yang halal dan thayyib serta lingkungan yang sehat, bersih, dan suci maka di dalam dirinya yang terdapat tambang yang berharga, akan menjadikan batin manusia cemerlang, mudah menerima pancaran cahaya Ilahi.