Manusia sebagai Tambang Batin 2
Sebaliknya, apabila asal-usul dan pembentukan serta proses perjalanan hidupnya ternodai oleh ketidaksucian — baik dari harta haram, makanan haram, maupun keturunan yang bercampur dengan dosa — maka batin manusia menjadi gelap. Dalam konteks inilah Allah Swt berfirman:
وَ شَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَ الْأَوْلَادِ
“Dan bersekutulah dengan mereka dalam harta dan anak-anak mereka.” (QS. al-Isrā’ [17]: 64)
Ayat ini menyingkap bahwa setan dapat ikut serta dalam proses penciptaan manusia yang bersumber dari hal-hal yang tidak suci, sehingga menanamkan kegelapan dalam jiwa.
Walaupun setiap manusia menyimpan potensi dan tambang batin, itu tidak akan bernilai jika tidak digali dan dimurnikan. Di sinilah peran besar para nabi menjadi sangat fundamental. Para nabi datang untuk membimbing manusia menemukan tambang batinnya, yakni hakikat dirinya yang tersembunyi di balik lapisan hawa nafsu dan kejahilan.
Namun, penggalian potensi tidak berhenti pada penemuan. Setelah ditemukan, tambang itu masih memerlukan tazkiyah (penyucian) dan tasfiyah (pemurnian). Sebagaimana logam mulia yang baru bernilai setelah melewati proses pengolahan, demikian pula jiwa manusia baru memperoleh nilai hakikinya setelah ditempa oleh pendidikan, ibadah, dan disiplin moral.