Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

MBG : Mimbar Baiat Ghadir

0 Pendapat 00.0 / 5

Ketua Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, pernah sesumbar bahwa di dalam program kojo Presiden Prabowo, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG), tidak mungkin ada celah untuk korupsi. Di MBG, katanya, sistem pengawasan dirancang begitu ketat dan berlapis-lapis. Namun, publik tidak gampang percaya dengan omong besar di negeri yang penuh muslihat ini. Alih-alih kagum, masyarakat yang skeptis justru memplesetkan singkatan program tersebut menjadi: Maling Berkedok Gizi.

Benar saja, selera humor satir publik kembali memenangkan taruhan sejarah. Hanya berselang beberapa hari setelah menerima penghargaan Bintang Jasa Utama dari Presiden pada Februari lalu, Dadan justru dicopot dan ditangkap. Sebuah plot twist yang lebih cepat daripada proses memasak mi instan. Pencopotan dan penangkapan ini jelas berkaitan erat dengan skandal korupsi di internal BGN yang menyeret namanya. Sistem pengawasan berlapis yang ia banggakan kemarin ternyata langsung ambyar pada lapisan pertama.

Secara konsep, MBG sebenarnya merupakan sebuah gagasan yang bagus untuk investasi sumber daya manusia, walaupun saat ini program tersebut tampak dipaksakan di tengah kondisi ekonomi negara yang sedang megap-megap. Namun, pelajaran terbesar dari kasus korupsi BGN—dan deretan mega korupsi lain di negeri ini—sebenarnya sederhana: sistem pengawasan seketat apa pun hanyalah macan kertas jika para pelakunya bermental kaleng-kaleng. Sebuah program mulia mutlak membutuhkan manusia yang sudah selesai dengan urusan perutnya sendiri; manusia yang jujur, amanah, dan tahu persis ke mana arah kompas tujuan dibawa, bukan yang sibuk mencari celah komisi.