Abrahamic Surrender vs Abrahamic Accord
Idul Adha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan kurban, melainkan ritual pengingat kepasrahan Abrahamik: ketika Ibrāhīm/Abraham diminta untuk mengembalikan kepada Tuhan apa yang paling ia cintai. Kisah ini terletak di jantung ketiga tradisi Abrahamik, meskipun mereka berbeda dalam mengidentifikasi siapa sang putra: Kitab Kejadian secara eksplisit menyebut Ishaq, sementara Al-Qur’an menarasikan perintah tersebut dan kepasrahan sang putra tanpa menyebut namanya secara langsung (Kejadian 22:1–13; QS 37:101–107).
Meskipun begitu, kedua putra Abraham membuka jalur-jalur sakral yang melaluinya Yudaisme, Kekristenan, dan Islam memahami perjanjian, kenabian, dan kepasrahan kepada Tuhan. Yerusalem — khususnya al-Aqsa/the Temple Mount — tetap menjadi axis mundi, poros dunia, tempat warisan-warisan bersama yang diperebutkan ini bertemu.
Sebaliknya, Abraham Accords dan Board of Peace sangat problematis, karena keduanya menyerukan nama Abraham sambil menormalisasi kuasa, menyembunyikan eksploitasi kolonial-imperial, dan mengabaikan pembebasan Palestina serta bangsa-bangsa tertindas lainnya. Persatuan Abrahamik yang sejati seharusnya menuntut kesetiaan yang lebih dalam kepada Abraham sendiri: kepasrahan kepada Tuhan, perlindungan bagi kaum tertindas, dan perdamaian yang berakar pada keadilan bagi semua yang mewarisi namanya.
Kemarin, saya menerima artikel ini langsung dari penulisnya, Prof. Mustafa Abu Sway, Profesor Kehormatan (Chair) Imam al-Ghazali di Al-Aqsa dan Wakil Ketua Dewan Wakaf Islam di Yerusalem (Al-Quds): https://www.middleeasteye.net/opinion/why-jordan-cannot-be-stripped-al-aqsa-custodianship. Artikel ini merupakan respons terhadap “dugaan” adanya upaya AS-Israel untuk mendorong Yerusalem ke dalam agenda normalisasi imperial: mengubah al-Aqsa dari sebuah tempat suci Muslim yang selama ini dipelihara di bawah kustodian Hashemite-Jordan untuk dipindahkan ke tangan kustodian lain, agar bisa jadi simbol “multi-faith” yang mudah dikooptasi dan dimanipulasi untuk kepentingan diplomasi imperial, pariwisata, dan dengan cap Abrahamik.
Menggeser peran kustodian Yordania, yang diakui dalam perjanjian damai Yordania–Israel tahun 1994 dan ditegaskan kembali dalam perjanjian Yordania–Palestina tahun 2013, berpotensi menggantikan Waqf Islam yang ada saat ini dengan manajemen baru yang selaras dengan otoritas Israel dan visi bisnis yang memandang masa depan kawasan melalui lensa pengembangan ekonomi, turisme agamis, dan real estate (dengan kata lain: mengubah Gaza dan Yerusalem menjadi taman bermain yang dikuasai imperialis).
Menggeser peran historis Yordania sebagai penjaga Al-Aqsa berpotensi menghancurkan salah satu dari sedikit jangkar stabilitas yang tersisa di kawasan situs suci Yerusalem. Langkah semacam itu akan mengubah situs-situs suci Abrahamik dari tempat untuk menggapai kepasrahan ilahi, keadilan, dan perlindungan menjadi situs wisata yang dangkal. Ini akan menjadikan Yerusalem, axis mundi Abrahamik, titik konfrontasi (collision course) umat antariman yang doa-doa, ingatan, dan kepedihannya selama ini menjadi salah satu penjaga cahaya suci Yerusalem dan dunia. Ini hampir pasti mengarah pada meningkatnya ketidakharmonisan dan kekacauan politik global.
Mengingat kembali semangat Abraham, Sarah, Hagar, Ishaq, dan Ismail: apa yang dapat kita lakukan (dengan kapasitas masing-masing) untuk memastikan perubahan destruktif ini tidak terjadi?
Siti Sarah Muwahidah, Edinburgh, 29 Mei 2026.
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang dugaan rencana AS-Israel terkait al-Aqsa, lihat:
https://www.middleeasteye.net/news/palestine-al-aqsa-us-israel-strip-jordan-custodianship-sources-say
https://www.turkiyetoday.com/region/us-and-israel-plan-to-strip-jordan-of-al-aqsa-custodianship-report-3220768?s=1
US-Israel ‘actively working’ to strip Jordan of Al-Aqsa custodianship | MEE Live https://www.youtube.com/watch?v=jpNvytG4-jw
*) Dr. Siti Sarah Muwahidah adalah seorang peneliti asal Indonesia di University of Edinburgh yang mendedikasikan studinya pada tema agama, konflik, dan bina-damai. Berbekal pengalaman tinggal, mengajar, dan meneliti di Inggris Raya, AS, dan Asia Tenggara, ia mengeksplorasi titik temu antara identitas, agama, keimanan, politik, dan relasi kuasa dalam masyarakat. Ia meyakini bahwa pemahaman mendalam tentang keterkaitan aspek-aspek tersebut merupakan kunci utama dalam membangun dunia yang lebih adil dan damai.