Rahasia Intonasi Menurut Al-Qur’an 1
“Sering kali yang lebih dahulu didengar manusia bukanlah isi ucapan kita, melainkan cara kita mengucapkannya.” Gagasan ini telah lama menjadi salah satu benang merah pemikiran Dr. Jalaluddin Rakhmat dalam Psikologi Komunikasi. Menurut Kang Jalal, komunikasi bukan sekadar memindahkan informasi, tetapi juga memindahkan makna, emosi, dan suasana batin. Intonasi, ekspresi, dan pilihan cara berbicara menjadi bagian dari pesan itu sendiri. Tidak mengherankan jika orang lebih dahulu menangkap nada bicara sebelum benar-benar memahami isi pembicaraan.
Menariknya, pemikiran tersebut menemukan pijakan yang kuat dalam Al-Qur’an. Hal itu dikaji secara ilmiah dalam artikel berjudul “Studi Komparasi Interpretasi QS. Luqman:19 dan QS. Al-Hujurat:2 tentang Adab Mengelola Intonasi Suara dalam Dakwah”, yang ditulis oleh Putri Anggraini dan Komarudin Sassi dari Universitas Al-Qur’an Ittifaqiah Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Artikel yang diterbitkan dalam Berajah Journal Volume 6 Nomor 4 Tahun 2026 ini menggunakan metode library research, pendekatan tafsir tematik (maudhu’i), dan analisis komparatif untuk menelusuri bagaimana Al-Qur’an membangun etika komunikasi melalui pengelolaan intonasi suara.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an membangun komunikasi melalui dua fondasi yang saling melengkapi. QS. Luqman:19 mengajarkan pentingnya pengendalian diri (self-regulation). Perintah untuk “merendahkan suara” tidak dimaknai sekadar mengecilkan volume bicara, tetapi sebagai kemampuan mengendalikan ego, emosi, dan cara mengekspresikan diri. Sebaliknya, QS. Al-Hujurat:2 mengajarkan penghormatan kepada orang lain (respect for others). Larangan meninggikan suara di hadapan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa komunikasi yang baik dibangun di atas penghormatan terhadap martabat manusia, bukan atas dominasi atau superioritas. Dengan demikian, Al-Qur’an mengajarkan bahwa komunikasi yang efektif selalu dimulai dari keberhasilan seseorang mengelola dirinya sendiri sebelum berusaha memengaruhi orang lain.
Penelitian ini juga menawarkan sudut pandang yang menarik tentang intonasi. Selama ini intonasi sering dianggap sekadar bagian dari teknik public speaking. Namun menurut kajian ini, intonasi adalah cerminan akhlak. Cara seseorang mengatur nada suara menunjukkan kualitas pengendalian diri, kedewasaan emosi, dan kematangan spiritualnya. Nada bicara yang lembut bukanlah simbol kelemahan, melainkan tanda kemampuan menguasai diri. Sebaliknya, suara yang keras dan emosional sering kali mencerminkan kegagalan mengendalikan ego. Dalam perspektif Al-Qur’an, kualitas suara tidak dapat dipisahkan dari kualitas hati yang melahirkannya.