Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Rahasia Intonasi Menurut Al-Qur’an 2

0 Pendapat 00.0 / 5

Lebih jauh lagi, artikel ini menunjukkan bahwa paradigma komunikasi Al-Qur’an melampaui banyak teori komunikasi modern. Jika teori komunikasi pada umumnya mengukur keberhasilan dari efektivitas penyampaian pesan, Al-Qur’an menambahkan dimensi yang lebih mendasar, yaitu tanggung jawab moral komunikator. Sebuah komunikasi dinilai berhasil bukan hanya ketika pesan dipahami, tetapi ketika martabat manusia tetap terjaga, hubungan sosial menjadi lebih harmonis, dan komunikasi menghadirkan kemaslahatan. Dengan kata lain, Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan komunikasi yang efektif, tetapi juga komunikasi yang beretika dan berkeadaban.

Dalam konteks kekinian, penelitian ini terasa sangat relevan. Penulis menyoroti fenomena dakwah di era media sosial yang sering dipenuhi nada tinggi, ujaran provokatif, saling menyalahkan, bahkan kecenderungan merendahkan kelompok lain. Melalui QS. Luqman:19 dan QS. Al-Hujurat:2, Al-Qur’an justru menawarkan pendekatan yang berbeda. Dakwah yang benar bukan hanya ditentukan oleh benar atau tidaknya materi yang disampaikan, tetapi juga oleh kelembutan, hikmah, dialog, empati, dan penghormatan kepada audiens. Cara menyampaikan pesan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari substansi pesan itu sendiri.


Menariknya lagi, penulis menghubungkan konsep komunikasi Qur’ani dengan berbagai teori komunikasi modern seperti Self-Control Theory, Politeness Theory, Communication Accommodation Theory, Humanistic Communication Theory, dan Social Responsibility Theory. Keterkaitan tersebut memperlihatkan bahwa nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur’an bukan hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga memperoleh penguatan dari perkembangan ilmu komunikasi dan psikologi kontemporer. Apa yang diajarkan wahyu berabad-abad lalu ternyata sejalan dengan temuan-temuan ilmiah modern mengenai perilaku komunikasi manusia.