Pluralisme Bukan Sinkretisme
Inilah bagian paling menarik dalam jurnal ini.
Penulis menunjukkan bahwa Jalaluddin Rakhmat secara tegas membedakan pluralisme dari sinkretisme. Dua istilah itu sering disamakan, padahal maknanya sangat berbeda.
Sinkretisme adalah usaha mencampurkan berbagai ajaran agama menjadi satu sistem kepercayaan baru.
Pluralisme tidak demikian.
Pluralisme tetap mengakui bahwa setiap agama memiliki ajaran, ritual, dan akidah yang berbeda. Seorang Muslim tetap menjadi Muslim. Seorang Kristen tetap menjadi Kristen. Seorang Hindu tetap menjadi Hindu.
Yang berubah bukan keyakinannya, melainkan cara memandang orang lain.
Kita tetap meyakini agama sendiri sebagai jalan hidup yang kita pilih, tetapi pada saat yang sama kita menghormati hak orang lain untuk meyakini agamanya.
Dalam bahasa sederhana, pluralisme bukan mencampur agama, melainkan membangun peradaban bersama.