Risalah yang Melampaui Bangsa dan Mazhab
Kesadaran tentang persatuan berkaitan pula dengan luasnya cakupan risalah Islam. Dalam Surah Al-Jumu’ah, Allah SWT berbicara tentang kelompok lain yang belum bergabung dengan generasi pertama umat Islam. Ketika ayat tersebut diturunkan, sebuah riwayat menyebut Rasulullah SAW. meletakkan tangannya di atas Salman al-Farisi ketika menjelaskan siapa yang dimaksud dengan kelompok yang akan datang kemudian.
Makna riwayat itu melampaui batas satu bangsa dan satu wilayah. Islam tidak berhenti di Jazirah Arab. Risalah Muhammad SAW tumbuh di tengah berbagai bangsa dengan sejarah dan kebudayaan yang berbeda. Dari Persia hingga Afrika, dari Asia Selatan hingga Asia Tenggara, umat Islam dibentuk oleh perjumpaan banyak bangsa yang dipersatukan oleh satu risalah.
Persatuan Islam tidak dibangun melalui penyeragaman manusia. Ujiannya justru terletak pada kemampuan menjaga arah bersama di tengah perbedaan. Ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh satu bangsa, satu kelompok, atau satu mazhab sendirian. Ada pula kepentingan yang jauh lebih besar daripada kemenangan sesaat dalam pertengkaran internal. Ketika kesadaran itu hilang, umat mudah terjebak dalam konflik yang menghabiskan tenaga tanpa membawa mereka lebih dekat kepada tujuan bersama.
Imam Khomeini pernah berbicara tentang pentingnya keteguhan bangsa dalam mempertahankan perjuangan dan membangun generasi. Pesan itu tetap relevan karena setiap generasi menghadapi bentuk tekanan yang berbeda. Tantangan tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikenali. Tekanan dapat hadir dalam bentuk kekalahan psikologis, hilangnya kepercayaan terhadap kemampuan sendiri, atau kebiasaan menyerahkan arah masa depan kepada kehendak pihak lain.
Dalam keadaan semacam itu, istiqamah berarti memahami apa yang diyakini dan menjaga arah perjalanan tanpa kehilangan kemampuan membaca kenyataan.
Namun, istiqamah bukanlah keras kepala. Keteguhan tanpa pengetahuan dapat berubah menjadi fanatisme, sementara keberanian tanpa kebijaksanaan dapat membawa manusia menjauh dari tujuan yang hendak diperjuangkan. Istiqamah adalah sikap untuk tetap jejeg dan ajeg, teguh memegang jalan yang benar, dengan kesadaran, pengetahuan, kemampuan mengoreksi diri, dan keberanian untuk tidak menyimpang dari kebenaran.