Ghadir yang Tidak Pernah Selesai
Inti wilayah bukan kultus individu. Inti wilayah adalah penjagaan terhadap ukuran moral agama. Imam Ali a.s,. dikenang bukan karena kemegahan kekuasaan yang diwariskan, tetapi karena keteguhannya menjaga keadilan bahkan ketika keadilan menuntut pengorbanan pribadi. Dalam diri beliau, kekuasaan tunduk sepenuhnya kepada kebenaran.
Krisis terbesar umat hari ini mungkin bukan kekurangan ceramah, simbol religius, atau perayaan keagamaan. Yang semakin langka justru pusat orientasi moral yang membuat manusia tetap jujur ketika kebohongan lebih menguntungkan, tetap adil ketika ketidakadilan terasa lebih aman, dan tetap berpihak kepada yang lemah ketika mayoritas memilih diam.
Peradaban modern dapat menghasilkan masyarakat yang sangat religius secara simbolik, tetapi rapuh secara moral. Agama hadir di ruang publik, namun kehilangan kemampuan membentuk manusia yang sanggup mempertahankan martabat dan keadilan di tengah tekanan kekuasaan, kepentingan, dan popularitas. Karena itu Ghadir berubah menjadi pertanyaan permanen bagi setiap zaman. Siapa yang menjaga agama agar tetap hidup sebagai jalan hidayah dan bukan berubah menjadi identitas sosial semata?
Sebab agama tidak akan runtuh ketika manusia meninggalkannya. Kadang agama kehilangan makna justru ketika agama tetap ramai dibicarakan, tetapi tidak lagi memiliki pusat moral yang menjaga arah kemanusiaannya.